Brain on Fire – Terjebak dalam Tubuh Sendiri

Cover film

Judul: Brain on Fire

Tahun rilis: 2017

Produksi: Broadgreen Pictures

Sutradara & Penulis Skenario: Gerard Barret

Pemeran utama: Chloe G. Moretz (Susannah), Thomas Mann (Stephen), dll

Durasi: 88 menit

***

Anti-NMDA-Receptor-Enchepalitis, suatu penyakit di mana antibodi menyerang reseptor di dalam otak. Mengakibatkan seseorang terjebak di dalam tubuhnya sendiri.

***

PROLOG BLOGGER

Selama ini, saya selalu mengabaikan segala hal yang berhubungan dengan flu dan demam. Saya pikir dua hal tersebut merupakan hal yang biasa dan pasti semua manusia pernah merasakannya. “Ah, paling hanya flu atau demam aja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan,” namun setelah menonton film ini, kesadaran saya tergugah. Bahwa flu dan demam bisa menjadi awal penyakit yang cukup mematikan dan bisa merusak masa depan seseorang.

REVIEW

Film ini awalnya saya temukan secara tidak sengaja. Ketertarikan saya untuk menonton film ini hanya karena pemain utamanya Chloe G. Moretz, yang mana lewat film If I Stay, saya berhasil jatuh cinta dengan gayanya dalam bermain peran. Jujur saya, saya nggak berani memasang harapan tinggi pada film ini. Toh, saya hanya ingin melihat peran Chloe saja. Namun, pada menit ke sepuluh lebih beberapa detik saya sadar, bahwa saya mulai menikmati film ini bukan hanya karena aktrisnya saja. Saya mulai masuk ke dalam cerita.

Susannah, seorang gadis berumur 21 tahun. Di umur yang muda tersebut dia seakan memiliki segalanya. Pekerjaan impian sebagai jurnalis, pacar, serta keluarga yang harmonis meskipun ayah ibunya telah berpisah. Twist menuju cerita utama terkesan sangat soft. Berawal dari merasa flu dan demam, Susannah merasa tak bisa fokus melakukan berbagai hal. Namun lama-kelamaan, dia seakan merasa jadi pribadi yang berbeda. Dia kerap mendengar suara-suara di pikirannya serta pandangannya mulai kabur. Dan benar saja, setelah semua pihak memintanya untuk fokus pada kesehatan, ternyata memang ada yang salah dengan dirinya.

Awalnya, tim dokter mengatakan bahwa Susannah mengidap gangguan mental namun hal tersebut dibantah oleh kedua orangtua Susannah. Segala cara mereka lakukan hingga akhirnya mereka dipertemukan oleh seorang dokter ahli otak. Pertemuan Susannah dan dokter tersebut seakan menjadi turning point di hidup Susannah yang menderita. Tak ada lagi jarum-jarum suntik yang dimasukkan ke tubuhnya, melainkan hanya sederet treatment untuk mendapatkan kembali fungsi otak Susannah.

Dari film ini, saya mendapat beberapa pelajaran berharga sekaligus. Yang pertama untuk tidak menganggap remeh setiap gejala yang terjadi pada tubuh. Entah hanya sekadar flu atau demam, namun dari dua hal tersebut nyawa seseorang bisa terancam. Yang kedua adalah selalu ada kekuatan di luar kemampuan manusia. Entah kekuatan cinta dari keluarga atau kekuatan yang terjadi atas kuasa-Nya. Yang ketiga adalah kisah nyata yang diangkat berdasarkan buku karangan Susannah dengan judul yang sama. Saya mengapresiasi karena dia mau berbagi dengan orang-orang di seluruh dunia tentang kepekaan terhadap penyakit yang tergolong langka ini. Karena tanpa pernah melihat film ini, mungkin saya tidak akan pernah tahu apa itu Anti-NMDA-Receptor-Enchepalitis.

Cover buku Brain on Fire

REKOMENDASI

Semua kombinasi di dalam film ini pas. Karakterisasi, pemilihan pemain, serta pengetahuan yang disisipkan di dalamnya begitu menyentuh dan tak berlebihan. Film ini tak hanya menjual rasa kasihan saja, namun juga menggugah para penontonnya akan pentingnya kesehatan.

Saya berikan 4 dari 5 bintang untuk film ini. Selamat menonton, siapa tahu kamu merasakan apa yang saya rasakan setelah menonton film ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s