Memorabilia – Sheva

Judul: Memorabilia

Penulis: Sheva

Tahun terbit: 2016

Penerbit: Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-291-124-1

Jumlah halaman: 290

***

Melupakan itu suatu karya seni tersendiri yang tidak semua orang melakukannya—Pramoedya Ananta Toer

***

PROLOG BLOGGER

Setelah sekian lama berpuasa baca buku, akhirnya, di minggu ini saya berhasil menamatkan salah satu buku yang masuk ke dalam 2017 Reading List. Yeay! Senangnya lagi, buku ini merupakan satu dari karya Sheva yang paling ingin saya baca sejak dulu, tapi baru kesampaian akhir-akhir ini.

Sejak baca omnibook Sheva yang Blue Romance, secara langsung suasana hati mendadak mendung dan sendu. Sendu tapi jauh dari kata menye-menye, yang merupakan salah satu ciri khas dari penulis muda ini. So, nggak perlu panjang-panjang lagi, berikut review singkat tentang Memorabilia ini. Here we go!

REVIEW MEMORABILIA

Mendengar kata Memorabilia, saya langsung membayangkan foto-foto tua yang disimpan di dalam album yang usang. Sedikit mirip dengan apa yang saya bayangkan tersebut, Memorabilia yang satu ini berkisah tentang perjalanan sebuah majalah online dengan nama serupa, yang digunakan sebagai tempat untuk berbagi barang-barang yang penuh kenangan. Sesuai dengan tagline-nya yaitu “Medium untuk Melupakan”, Memorabilia menjadi satu-satunya majalah online yang banyak menyimpan kenangan di dalamnya.

Bersama Januar dan Karsa, Jingga pelan-pelan membangun majalah online ini dari bawah. Mulai dari sebuah proyek tugas kuliah, hingga sekarang sudah bisa menaungi beberapa karyawan di dalamnya. Mulai dari Karsa sebagai klien pertama hingga sekarang menangani klien besar yaitu pelelangan Bahagia Teater.

Di dalam alur cerita, porsi Bahagia Teater dikisahkan lebih banyak. Penulis bisa aja ya main-main dengan pikiran pembaca. Karena porsi yang lebih banyak ini pasti ada hubungannya dengan Jingga sebagai tokoh utama di dalam cerita. Dan benar saja, ternyata Jingga dan Om Pram (pemilik Bahagia Teater) ternyata secara tidak langsung memiliki kenangan yang sama.

Dari awal kisah hingga akhir, Memorabilia ini nggak bikin saya bosan untuk melahapnya sampai tuntas. Terlebih, ada penggunaan satu lokasi yang menjadi favorit saya. Blue Romance, sebuah coffee shop dengan jendela besar-besar di lantai dua. Sementara di lantai dasarnya terdapat sebuah perpustakaan bernama Blibiomania. Bahkan nama beberapa baristanya saya sampai hafal di luar kepala. *dadah ke Edi dan Darren*

Berpindah ke desain covernya, buku ini tak jauh-jauh dari Memorabilia. Sebuah proyektor lawas dan lembaran film jadul yang menjadi highlight utama. Tulisan Memorabilia ditempatkan mengikuti alur dari bentangan roll film jadul tersebut. Warna dominan ungu, baby blue dan kuning menjadi paduan yang pas entah kenapa. Saya terlampau suka!

REKOMENDASI

Buat kamu yang pernah membaca karya Sheva yang lainnya seperti Blue Romance dan 17:17, buku ini wajib kamu baca. Atau buat kamu yang ingin bacaan sendu tanpa adegan menye-menye di dalamnya. Memorabilia ini pantas kok menjadi bahan bacaanmu.

Ada beberapa hal yang membuat saya jatuh cinta dengan buku ini. Yang pertama adalah tema yang dipilih hampir mirip dengan apa yang saya lakukan sehari-hari. Menulis artikel untuk sebuah website anak muda. Deretan angka traffic web menjadi hal-hal yang setiap hari saya lahap juga. Bisa dibilang dengan membaca Memorabilia, sedikit banyak menggambarkan bagaimana dunia startup itu berjalan.

Yang kedua adalah pemilihan nama setiap karakter. Entah kenapa saya selalu suka dengan nama-nama dari setiap karakter yang Sheva ciptakan ini. Sinar Jingga Astari, Januar, Kasta, Om Pramudya hingga Sule. Klik aja di pikiran saja saat membacanya.

Saya berikan 4 dari 5 bintang untuk Memorabilia ini. Terima kasih ya sudah berbagi kenangan-kenangan dari setiap klien yang ada. Kenangan yang paling saya tunggu kelanjutannya adalah dari Sofia dan Romi . *katanya sih bakalan ada di buku Sheva yang selanjutnya*

Terakhir, ada satu kutipan favorit di Memorabilia ini. Ada dua. Semoga kalian juga menyukainya.

Lupa tidak lagi menjadi musuh manusia. Lupa sudah tahu, ketika hal ini terjadi, ia akan terus membiarkan kita mengingat hal ini—Jingga, hal. 259

Melupakan berbeda dengan melepaskan. Melepaskan adalah kata yang paling cocok. Dengan melepaskan, kita mengerti bahwa masa lalu ada di belakang, dan perlahan kita bergerak maju ke depan,—hal. 286

 

Love,

Arintya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s