[Book] 17:17 – Sheva Thalia

Judul: 17:17

Penulis: Sheva

Tahun terbit: 2016

Penerbit: Grasindo

ISBN: 978-602-375-377-2

Jumlah halaman: 183

***

“…dapat pekerjaan itu memang masalah kesempatan,”—hal. 111

***

PROLOG REVIEWER

Aku nggak terlalu suka tahapan seleksi kerja. Mulai dari ngumpulin berkas, psikotes, wawancara sampai menunggu pengumuman. Sepertinya nggak hanya aku aja yang nggak suka dengan hal itu. Beruntung banget aku menemukan novel ini, ketika puluhan tahapan seleksi kerja telah aku lakukan sebelumnya. Lebih beruntung lagi, aku membaca novel ini saat sebuah pekerjaan mampir ke kehidupan. Ya, semoga pekerjaan itu betah hehe.

Singkat cerita, aku mendambakan buku karya Sheva ini dari lama. Tapi aku urungkan, dan mempersilahkan gaji pertamaku untuk meminangnya.

Sejak baca Blue Romance dan Recalling The Memory (lagi on going di Wattpad), aku menempatkan Sheva menjadi satu dari beberapa penulis lokal favoritku. Entah kenapa bagiku, setiap kisah yang Sheva ceritakan, selalu ada unsur sendu yang nggak menye-menye. Dan aku suka kisah yang seperti itu.

And here I am! Telah menamatkan kisah 17:17 ini dengan rasa puas dan menuliskan beberapa kesanku untuk kalian para pembaca. Semoga review singkat ini membantu ya!

REVIEW

17:17 menceritakan tentang Sara dan Raka yang dipertemukan dengan sangat tidak menyenangkan, yaitu melalui wawancara kerja. Wawancara kerja (yang ternyata) ada tes psikotesnya juga membuat dua orang yang tengah berusaha menjemput impian masing-masing itu menghabiskan hari bersama.

Sara, yang sudah malas dengan wawancara kerja, memilih cabut dengan entengnya tanpa mengikuti satupun tahap wawancara. Bukannya ia menyerah, tapi memilih untuk mengistirahatkan dirinya. Akhirnya ia berakhir di sebuah restoran cepat saji sembari menikmati makanannya seorang diri.

Raka, pemuda yang hobi menggebuk drum ini juga terjebak dalam wawancara kerja tersebut. Berbeda dengan Sara, Raka sempat menikmati bagaimana membosankannya psikotes yang berlangsung selama berjam-jam tersebut. Namun, karena udah nggak tertarik lagi dengan tahapan seleksi kerja tersebut, Raka akhirnya memilih cabut juga.

Dan dengan kebetulan yang menyenangkan, mereka berdua bertemu di restoran cepat saji kemudian saling membuka pembicaraan.

Dalam kisah ini, pembaca dibawa menikmati bagaimana dua orang yang sama-sama lelah dan basah karena cipratan hujan, saling berbicara tentang segala hal. Tentang bagaimana menyebalkannya tahapan seleksi kerja, tentang Om Randu, tentang Mas Ruli, tentang toko bunga dan piringan hitam, tentang les drum, hingga tentang pribadi masing-masing.

Setiap obrolan ditempatkan secara apik dalam suasana yang berbeda. Nggak membuat pembaca merasa lelah dengan banyak topic pembicaraan yang cukup banyak untuk dihabiskan dalam waktu sesingkat itu.

Nggak bermaksud untuk spoiler, tapi sebagai pembaca, aku begitu dimanjakan oleh Sheva. Terlebih saat memasuki akhir cerita. Perpisahan Sara dan Raka yang syahdu membuatku berteriak, “wajib nih ada lanjutan ceritanya!”. Ah, rasanya 183 halaman ini kurang panjang untuk sebuah kisah sendu yang berakhir cukup manis ini.

Trus kalau kamu bertanya tentang 17:17 itu tentang apa, aku nggak bisa memberitahukannya. Dua angka kembar ini merupakan bukti dahsyat bahwa kebetulan yang menyenangkan itu kadang bisa terjadi pada kehidupan. Hanya saja waktunya nggak tahu kapan.

REKOMENDASI

Ada tiga alasan mengapa aku membeli buku ini. Dua alasan merupakan alasan klise yang mungkin membosankan kalau kamu baca. Yang satunya adalah dilihat dari kisah di dalamnya.

Alasan yang pertama adalah karena penulis novel ini adalah Sheva. Iya, aku memang terlalu pemilih untuk membeli bahan bacaan. Makanya aku hati-hati dalam memilih penulisnya. Dan seperti yang udah kusebutkan di atas, bahwa Sheva merupakan satu dari beberapa penulis favoritku, jadi tanpa ba-bi-bu, langsung deh masukin ke daftar beli buku.

Alasan yang kedua adalah karena ada tokoh Raka di dalamnya. Kya! Iya Raka! Aku tergila-gila dengan nama Raka sejak beberapa tahun terakhir. Tuh kan, klise banget alasanku ini.

Dan yang ketiga adalah, karena ide utama dari kisah ini dekat sama aku dan berbeda dengan kisah-kisah lain. Kisah ini mengangkat betapa menyebalkannya tahapan seleksi kerja. Sebagai jobseeker tentu saja kita harus mengikuti setiap tahapannya agar bisa mendapatkan pekerjaan. Dan beberapa waktu lalu aku sempat ada pada posisi ini. Jadi ya aku merasa dekat dengan kisah ini.

Aku memberikan empat dari lima bintang untuk 17:17. Sebenarnya hanya tiga bintang sih, tapi satu bintang aku tambahkan lagi karena ending-nya bikin deg-degan serta tahan nafas. Kenapa sih harus berakhir di stasiun kereta? Nggak bisa ditambah lagi apa kisahnya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s