James dan Persik Raksasa

7673156

Judul: James dan Persik Raksasa – James and The Giant Peach

Penulis: Roald Dahl

Ilustrasi: Quentin Blake

Penerbit: Gramedia Pustaka

Tahun: 2006

Alih bahasa: Poppy Damayanti Chusfani

ISBN: 979-22-2368-1

Jumlah halaman: 187

***

Kau tahu apa yang menurutku konyol? Aku tak bermaksud tidak sopan, tapi aku pikir amat konyol memiliki telinga di kedua sisi kepala. Pasti akan kelihatan konyol. Kau harusnya berkaca sekali-kali dan melihat tampangmu sendiri.—Lipan.

***

James Henry Trotter mungkin merupakan anak berumur tujuh tahun yang paling malang di seantero Inggris. Pada usia empat tahun, ia menjadi yatim piatu dan terpaksa harus tinggal dengan dua bibinya yang aneh dan kejam, Bibi Spiker dan Bibi Sponge. James tidak diizinkan untuk sekedar bermain dengan teman-teman dan hanya boleh bekerja dan bekerja.

Sampai pada suatu musim panas, James bertemu dengan seorang kakek aneh yang memberinya serbuk berwarna hijau yang bergerak-gerak lincah. Serbuk hijau itu kemudian jatuh ke tanah tanpa sengaja, di sekitar pohon persik tua. And the magic happen! Pohon persik tua yang tidak pernah berbuah lagi itu tiba-tiba muncul buah persik dan membuat kedua Bibi James berdeca kagum. Buah persik itu semain lama semakin besar, hingga tangkainya tak lagi kuat menahan beban dan buah persik itu tumbuh semakin besar hingga ke tanah.

Bibi Spiker dan Bibi Sponge yang gila harta, memasang pagar pembatas dan mengenakan biaya bagi siapa saja yang ingin melihat persik raksasa itu. Sementara James, dikurung di kamar tanpa makanan sedikitpun.

Dan magic spell yang dibuat Roald Dahl bekerja malam itu. James yang kelaparan luar biasa, berjalan mendekati persik raksasa, mencium aroma buahnya yang menggiurkan. Kemudian ia melihat sebuah lubang pada persik yang mengantarkannya pada petualangan seru penuh imajinasi khas Pak Dahl.

James dan Buah Persik Raksasa merupakan salah satu favoritku dari sekian banyak cerita imajinatif karangan Roald Dahl. Cerita favorit lainnya adalah Charlie dan Pabrik Coklat Ajab serta Matila. Pak Dahl sukses menyihirku dan kembali ke masa kanak-kanak saat membaca buku ini. Selain karya Pak Dahl ini, aku juga suka banyak serial anak-anak. Salah satunya Emil karya Astrid Lindgren.

Baca Review Semua Beres Kalau Ada Emil

Selain cerita yang penuh petualangan dan mengembangkan imajinasi, ilustrasi yang ciamik dari Quentin Blake menambah sisi syahdu dari buku yang merupakan best seller dunia ini.Sebenarnya kalo dilihat sekilas, ilustrasi Pak Blake terkesan biasa aja bahkan cenderung seadanya. Tapi percaya deh, begitu kamu baca buku dan melihat ilustrasinya, kedua hal tersebut secara asik saling melengkapi satu sama lain. Aku nggak kebayang deh, kalo cerita Pak Dahl ini diilustrasikan oleh orang lain. Apakah sensasinya masih sama atau malah berubah?

Okey, back to story, di dalam buah persik James bertemu dengan “makhluk-makhluk” unik yang sebagian besar justru dianggap hama.

Ada Kakek Belalang Hijau seukuran anjing besar duduk persis di seberang ruangan di hadapan James. Dan di samping Kakek Belalang Hijau, ada Laba-laba besar. Dan di sebelah Laba-laba ada Kepik raksasa dengan Sembilan totol hitam di kulit punggungnya yang merah. Di sofa dekat mereka, bersandar dengan nyaman dala posisi meringkuk, ada Lipan dan Cacing Tanah. Di sudut lantai sebelah sana, ada sesuatu seperti Ulat Sutra. Tapi ia tidur pulas dan tidak ada yang memperhatikannya.—Hal. 47

Sebenarnya masih ada satu lagi “makhluk” di dalam persik raksasa, yaitu Cacing Cahaya yang tengah tidur menempel di langit-langit.

Bersama para makhluk yang bertingkah layaknya manusia itu, James mengalami petualangan seru. Mulai dari menggelinding dari bukit, dikelilingi banyak hiu di lautan, dikejar Manusia Awan, hingga pada akhirnya mereka landing dengan kerennya di atas gedung pencakar langit di New York.

Ah, James, bocah kurus itu beserta petualangannya yang hebat berhasil menghipnotisku, mengajakku kembali ke masa anak-anak di mana bermimpi dan berimajinasi masih bebas dilakukan.

James Henry Trotter, bocah kurus yang dulu hanya bisa mengintip dari balik pagar kayu di bukit jauh dari para tetangga, kini telah mendapat apa yang ia inginkan. Teman.

Hidup bertahun-tahun tanpa teman dan hanya dengan dua orang bibi yang kikir dan aneh membuatnya haus akan pertemanan. Kini ia telah tinggal di New York, tepatnya di dalam biji buah persik yang daging buahnya telah dinikmati anak-anak New York dan ia tidak lagi kesepian.

Rasanya aku mau kasih lima bintang karena buku ini merupakan buku paket lengkap, nggak hanya bisa dibaca oleh anak-anak melainkan segala usia. Nggak hanya menyuguhkan tentang petualangan seru tapi juga menghidangkan sebuah moral value.

Tapiiiii….

Aku nggak tahu kenapa banyak banget kesalahan ketik. Hal ini jarang terjadi untuk produk terbitan Gramedia. Jujur saja membuatku sedikit hhhh dan kesel. Mungkin karena termasuk buku cetakan lama kali ya?

Least, aku kasih 4 bintang buat cerita, keseruan, ilustrasi dan pelajaran berharga di dalam buku ini.

I’m grateful, Pak Dahl!

Kau harusnya berkaca sekali-kali dan melihat tampangmu sendiri—Lipan.

 

Love

Arintya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s