[Resensi] Spy in Love

Jpeg

Judul: Spy in Love

Penulis: Dwitasari

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun: 2016

ISBN: 978-602-291-252-1

***

“Cinta selalu membuka jalan jika kamu tahu caranya untuk memperjuangkan.”—Dwitasari

***

Seperti judulnya, Spy in Love, buku ini bercerita mengenai seorang mata-mata yang menyamar sebagai pegawai sebuah hotel di Penang, Malaysia. Putra Nusantara, harus mengemban tugas untuk melindungi Jasemine, anak tunggal dari Datuk Syarif, petinggi dari Malaysia. Dalam menjalankan misinya, ia harus membuat Jasemine jatuh cinta padanya.

Awalnya hubungan Putra dengan Jasemine hanyalah permainan rasa yang Putra ciptakan. Namun lambat laun, Putra terjebak dalam permainannya sendiri. Ia benar-benar jatuh cinta dengan Jasemine. Jasemine yang sama sekali tidak tahu mengenai misi Putra, akhirnya menerima Putra, karena ia ingin segera melupakan masa lalunya yang menyakitkan dengan pria Bali bernama Darma.

Cinta mata-mata ini kemudian berlanjut hingga mereka merencanakan sebuah pernikahan. Satria, kakek Putra, yang datang ke Penang, tidak setuju dengan ‘ide gila’ yang cucunya utarakan tersebut. Menurutnya, menikahi perempuan Malaysia sama saja dengan kehilangan rasa cinta terhadap bangsa. Pun juga dengan mama Jasemine, Fazhira, yang menolak ide pernikahan mereka. Fazhira tidak mau anaknya akan disakiti lagi oleh pria Indonesia. Baginya, pria Indonesia hanya bisa mempermainkan wanita, seperti apa yang sudah Darma lakukan pada putrinya.

Kemudian Putra dan Fazhira berusaha untuk meyakinkan kedua orangtua tersebut. Di balik itu semua, diam-diam geng Mawar Hitam berencana untuk mengambil organ tubuh Satria dan menjualnya secara illegal. Tembak-tembakan pun tak bisa dihindari. Darah dan keringat untuk menyelamatkan seseorang yang dicintai amat kental di dalam buku ini.

***

Membaca buku ini, saya seperti dibawa menonton sebuah film action. Ritme membaca saya semakin cepat tatkala Satria dan Putra tengah berjibaku untuk melawan Geng Mawar Hitam. Saya kemudian teringat dengan kisah Francis dan Martha di film Mr. Right. Di sana Martha yang tidak tahu apa-apa soal International Hitman, harus berhadap dengan musuh Francis yang bersenjata. Ia kemudian dihadapkan pada pilihan, kekasihnya atau nyawanya sendiri. Kemudian, ia yang diam-diam sudah belajar memainkan pisau, dengan sigap melayangkan benda tajam itu ke tubuh musuh dan menyelamatkan kekasihnya. Begitu pula dengan Jasemine yang saat itu dihadapkan antara dua pilihan yang sulit, ibunya atau calon suaminya, Putra. Saat membaca adegan tersebut, saya seakan berhenti bernafas. Takut apabila Jasemine salah menembak dan mengenai satu di antaranya.

***

Dari buku ini, saya mendapat sebuah pelajaran tentang move on. Kata orang move on itu susah. Dan menurut saya memang susah. Jasemine yang sedang cinta-cintanya dengan Darma, kemudian dibuat patah hati karena Darma harus menikah dengan gadis pilihan orangtuanya. Jasemine menangis, tapi ia segera bangkit dengan melakukan hal-hal positif. Ia bangkit dan pindah bersama orang-orang baru dan lingkungan baru. Dari Jasemine saya belajar, bahwa obat move on itu adalah diri sendiri. Diri sendiri yang bisa menyembuhkan sakitnya patah hati. Diri sendiri pula yang dapat membangkitkan semangat untuk move on.

Well, selamat membaca! Selamat dibuat menahan nafas sejenak dengan aksi Putra Nusantara!

“Cinta selalu menyimpan kejutan-kejutan yang tidak kita sadari dan kamu adalah kejutan menyenangkan yang tidak akan pernah aku lupakan.”—Dwitasari

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s