[Review] Bristol

Processed with VSCO with hb2 preset

Judul: Bristol

Penulis: Vinca Callista

Penerbit: Grasindo

Tahun: 2016 (Cetakan pertama)

ISBN: 978-602-375-593-6

Jumlah halaman: 208

***

“Aku menulis, karena setiap hari harus ada yang dikerjakan manusia. Aku mencinta, karena harus ada yang dirasakan setiap harinya.”—Kaendra Salasika.

***

Blurb

El-Visnu Ansara mengajak Kaendra Salasika ke Bristol, Inggris, untuk memilih jurusan kuliah yang akan diambilnya. Sebenarnya, hal itu bisa dilakukan dari Indonesia. Tapi, Kae enggak menolak tawaran jalan-jalan gratis ke kota impiannya. Apalagi, dia bisa pergi jauh dari adik kembar yang tida diinginkannya.

Namun ternyata, perjalanan ke sisi lain dunia menyeret Kae ke banyak pertanyaan membingungkan. Tentang Elvis dan beasiswa yang diberikan untuknya. Tentang masa lalu Elvis yang belum usai dengan Alita, cewek paling keren yang jadi idola Kae, sekaligus pemilik flat mewah tempat mereka tinggal di Bristol.

Kae berada di ambang krisis kepercayaan diri, sementara mimpi-mimpinya yang tinggi terus mendesak minta diwujudkan. Bristol pun tanpa diduga mempertemukannya dengan Greg, cowok Inggris yang mendambakan perempuan Indonesia dalam hidupnya.

Kae tak punya banyak waktu. Ia harus segera menentukan pilihan. Dan, Bristol menjadi saksi kepada siapa hati Kae dijatuhkan.

***

Oke, pertama, saya jatuh cinta sama cover Bristol.

Man, siapa sih yang punya ide dengan cover super simpel dan menarik ini? Warna kuning yang menyenangkan ditambah dengan gambar Bristol Bridge yang di-blend dengan tulisan BRISTOL besar-besar, super eye-catching!

Yang kedua, saya dibuat jatuh cinta (lagi) dengan Inggris! Yah, dulu sempat jatuh cinta dengan London *uhuk* kemudian patah hati. Dan sekarang mengalami hal yang sama dengan Bristol. Jatuh cinta dengan setiap sudut kota Bristol yang digambarkan apik oleh penulis, kemudian dibuat patah hati sama ending yang bagi saya enggak bahagia. Kenapa sih, Elvis harus pilih dia?!

Bristol menceritakan perjuangan Kae untuk keluar dari kehidupan yang menyebalkan dengan ayah dan adik kembarnya, Keo. Sebuah kamar sempit yang ditempati berdua dengan adik kembarnya sudah cukup pengap untuk Kae. Ia memutuskan untuk merantau. Jauh. Bersama kegemarannya menulis, Kae berhasil menerobos pintu masuk beasiswa kuliah di Inggris dan bertemu dengan Elvis!

Elvis ini, di imajinasi saya seperti Alex Goot versi Indonesia. Pakai kacamata, sedikit brewok yang ugh sungguh seksi hanya dengan sekali lihat. Dari penjabaran penulis tentang Elvis, pria ini memang cukup seksi. Tapi masa lalunya yang menurut saya sedikit menjengkelkan sangatlah tidak seksi. Ia memutuskan pertunangan dan kembali mengejar perempuan di masa lalunya, trus patah hati lagi untuk kesekian kalinya.

Oke, saya akui membaca Bristol memang harus siap-siap dengan kisah patah hati pada setiap tokoh di dalamnya. Bahkan untuk tokoh super keren seperti Alita, yang seorang vokalis band Inggris Papersaga pun, ia patah hati dan bisa dikatakan bertubi-tubi.

Sama halnya dengan Kae. Ia patah hati, karena hobi menulisnya sama sekali tidak mendapat pengakuan oleh keluarga yang tersisa. Hanya yang ibu yang sudah tiada lah, hobi tersebut mendapat pengakuan.

Begitu pula dengan Greg, tokoh yang cukup manis dihadirkan di tengah konflik ini diam-diam menyimpan patah hati juga. Dan dua-duanya mengangkut cewek Indonesia. Oh, well…poor you, G!

Namun, berkat patah hati pula, para tokoh bangkit dan akhirnya satu-persatu menunjukkan eksistensi mereka. Elvis kembali menemukan tujuan hidupnya, Kae menemukan harapan untuk kuliah di dunia menulis, Alita bisa berdamai dengan masa lalu dan Greg yang mmm…mungkin dialah tokoh yang laing legowo di Bristol ini.

Kalau dulu apabila mendengar kata Inggris hanya ada satu tempat yang ingin saya datangi yaitu Sherlock Museum di London, kini tambah satu lagi destinasi yang wajib saya kunjungi apabila saya bertandang ke sana, entah sebagai salah satu mahasiswa (lagi) maupun turis biasa, Bristol Bridge! Terserah apabila orang-orang bilang norak, tapi saya pengin banget berfoto di jembatan yang nyentrik itu!

***

Saya sudah bilang kan kalau Elvis itu seksi? Nah, salah satu adegan yang menyakinkan saya bahwa Elvis itu seksi ada pada halaman 125. Yang dilakukan Elvis ke Kae itu…seksi! Dan saya…cemburu! 😦

“Duduk yang bener. Kita bicara masalah ini.”—Elvis

Kemudian ada satu adegan yang bikin degup jantung saya enggak beraturan. Ada di halaman 154. Adegan ini favorit banget!

“Tadi sore sempet ujan. Kamu kehujanan?” tanya Elvis.

“Dikit.” Kae.

“Di mana?”

“Clifton Observatory.”

“Oh. Kamu ke Clifton Observatory?”

“Jangan mulai lagi, deh…”

Last but not that least, ada beberapa kutipan yang nyantol untuk saya.

“Kalo kamu enggak puas dengan hasil kerja orang lain, kerjakan sendiri.”—Ibu, hal. 91.

Aku tidak menyesali perpisahan, sebagaimana aku selalu menerima pertemuan—Kae, hal. 181.

Manusia kan makhluk dokumen. Kalau enggak ada dokumen, bisa jadi enggak dimanusiakan—Kae, hal 202.

 

Selamat membaca!

Kalau kamu jatuh cinta dan patah hati juga, berarti kita sama.

Rate: 4/5

Iklan

One thought on “[Review] Bristol

  1. Ping-balik: Review Bristol – Patah Hati Paling Seksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s