[Review] Jodoh

Processed with VSCO with hb2 preset

Judul: Jodoh

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun: 2015, cetakan ke-2

ISBN: 978-602-291-118-0

Jumlah halaman: 245

***

Cinta selalu membutuhkan ketidaksempurnaan, untuk membuktikan kesempurnaannya

—Fahd Pahdepie

Blurb

Apa itu jodoh?

Barangkali imajinasimu tentang jodoh dan belahan jiwa begitu sederhana: di tepi pantai, kau mengandaikan ada orang di seberang sana, yang tengah menunggumu untuk berlayar.

Namun di saat yang sama, terkadang kau justru meragu sehingga sering kali hanya bisa menunggu, mendambakan orang yang kau nantikan itu akan lebih dulu merakit sampannya, mengayun dayungnya, dan mengarahkan kompasnya untuk menjemputmu.

Tetapi laut, ombak dan isinya, selalu menjadi misteri yang tak terduga-duga, bukan? Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalih perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya.

Ini adalah kisah tentang seorang laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk  berlayar—jauh sebelum mereka mengenal ketakutan; jauh sebelum mereka bisa membaca arah atau menebak cuaca; bahkan jauh sebelum mereka disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang waktu, takdir, cinta, dan jodoh itu sendiri.

***

Sebelumnya, mari saya ceritakan bagaimana perjalanan saya untuk menamatkan novel ini. Butuh waktu ‘bertapa’ selama dua bulan lebih bagi novel ini sebelum saya sadar, mungkin Jodoh merupakan bacaan tersyahdu saya sepanjang 2016 ini. Jodoh sempat saya tinggalkan karena rasa jenuh dengan adegan bioskop yang saya pikir ‘biasa’, seperti adegan di novel-novel cinta yang lain.

Dua bulan juga saya jejalkan banyak buku mulai dari buku-buku penunjang skripsi dan beberapa novel, sebelum akhirnya,tepat dua hari yang lalu, saya memulai untuk memulai Jodoh ini lagi. Namun, dua menit kemudian, setelah penulis menyebutkan sebuah nama, Keara, pada bab berikutnya, saya…jatuh cinta!

***

Membaca novel ini seakan membaca surat-surat yang ditulis oleh seorang pria untuk kekasihnya yang tengah menunggu nun jauh di sana. Begitu syahdu dan penuh dengan rindu. Saya selalu suka bagaimana penulis membuka bab-bab dengan sebuah nama. Keara.

Kisah cinta dari tiga masa begitu saya nikmati. Begitu terpatri di hati. Saat Seno kecil dan Keara kecil dipertemukan di sebuah ruang kelas untuk pertama kalinya. Saya suka pengakuan jujur Seno saat itu, bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Keara. Kisah cinta monyet yang tidak norak, namun begitu mengalir secara alami. Mungkin hampir sama seperti kisah-kisah cinta monyetku dulu.

Lalu kisah cinta Seno dan Keara remaja di sebuah pondok pesantren yang ah…mungkin baru pertama kali ini aku mendengar kisah cinta terjadi di pesantren. Nyentriknya, mereka saling jatuh cinta dalam tulisan, tanpa tatap dan dengan sedikit lisan. Kemudian kisah cinta Seno dan Keara yang beranjak dewasa, yang dipisahkan oleh jarak. Dan, penyakit sialan itu, yang membuatku jatuh-sejatuh-jatuhnya. Dan meneteskan air mata.

Bahasa yang digunakan penulis begitu puitis. Seperti tengah membaca surat dari kekasih di kala hujan tiba, dengan aroma hujan yang menyentuh tanah. Syahdu sekali.

Tidak ada typo. Ini yang membuat saya bisa menamatkan Jodoh dalam sekali duduk. Tapi di akhir lembar, saya merutuki diri saya sendiri. Tidakkah saya bisa sedikit menikmati kisah Seno dan Keara pelan-pelan? Saya tidak rela kisah mereka berdua habis hanya dengan dua ratusan halaman.

Kisah cinta Seno dan Keara dibungkus secara apik. Mungkin dilengkapi dengan pita yang mempercantik tampilannya. Yang membuat saya enggan untuk tidak segera membuka lembar demi lembar.

Kisah cinta Seno dan Keara diungkus secara unik. Mungkin dengan sebuah kain jarik yang membuatnya terkesan nyentrik. Yang membuat saya berterima kasih akan kesempatan bertemu dengan Jodoh untuk yang kedua kalinya ini.

Kisah cinta Seno dan Keara dibungkus secara apik dan unik. Mungkin dibungkus dengan kain jarik dan dilengkapi pita yang mempercantik tampilannya. Yang membuat saya memahami bahwa cinta itu bisa menunggu.

Hanya saja, saya perlu penjelasan. Siapakah wanita yang diajak Seno ke bisokop itu? Siapakah wanita yang dipanggilnya Laila yang membuat penikmat tulisan Seno ini cemburu?

Selamat membaca! Jangan lupa siapkan selembar tisu di dekatmu!

“Maafkan aku sudah mencintaimu, maafkan aku karena aku tak tahu cara lainnya.”

—Seno, hal. 143

Iklan

One thought on “[Review] Jodoh

  1. Ping-balik: Review Buku Jodoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s