[Review] Teman Imajinasi – Kamu adalah Aku?

2

Judul: Teman Imajinasi

Penulis: Andam P. Saptiar

Penerbit: De Teens

Tahun: 2016

Cetakan: Pertama, Agustus

ISBN: 978-602-391-183-7

Jumlah halaman: 196

***

Blurb

Hana ditimpa banyak masalah. Ia frustasi. Namun, ada suara tak bersosok senantiasa menghibur dan memotivasinya.Suara itu membuat Hana dapat bangkit dari keterpurukan. Setia menemani saat Hana membutuhkannya.

“Bagaimana bisa? Kamu adalah aku, dan apakah itu berarti aku adalah kamu? Kamu hidup di dalam diriku dan memengaruhi semua kehidupanku. Aku tidak pernah merasa mengundangmu untuk datang, tapi kenapa kau hadir dalam kehidupanku?”

Buku ini dipersembahkan untuk jiwa-jiwa yang senantiasa istiqamah di jalan-Nya, dalam pencarian jati diri sesungguhnya. Allah selalu ada di sisi kita bahkan saat kita melupakan-Nya.

***

Sesuai dengan judulnya, novel ini menceritakan kehidupan Hana, seorang mahasiswi semester enam dengan Ajin, sosok tak kasat mata, yang hadir tak diundang saat Hana tengah diuji kesabarannya karena proposal penelitian yang tak kunjung mendapat lampu hijau oleh dosen. Awalnya, Hana kira ia tidak normal. Berbagai cara telah dilakukannya untuk mengusir suara yang dirasa menganggu Hana itu. Mulai dari ruqyah, hingga mendatangi psikiater untuk berkonsultasi. Namun, setelah semua cara Hana lakukan, hasilnya tetap saja sama.

Untungnya, Hana mempunyai dua sahabat yang peduli dengannya. Finda dan Nita. Mereka berdua secara diam-diam membuat Hana sibuk untuk mencegah agar suara itu tidak lagi mengusik kehidupan Hana.

Berbicara mengenai teman imajinasi, rasanya setiap orang pasti mempunyai ‘hal’ yang satu ini. Begitu pula dengan saya. Waktu kecil, saya yang sehari-hari ditinggal bekerja kedua orangtua saya sampai sore, mau tak mau harus bermain sendirian untuk membunuh waktu. Saat itu, saya sering bermain rumah-rumahan bersama boneka kesayangan saya. Kemudian, tanpa sadar, saya berbicara sendiri seakan ada teman bermain. Hihi saat itu memang seru, tapi bagi Mama saya, hal tersebut cukup mengkhawatirkan sehingga saya sempat diungsikan ke rumah nenek selama beberapa bulan.

Pada novel ini penulis menceritakan kehidupan Hana secara ringan, khas seorang mahasiswi yang waktunya terbagi antara kuliah, penelitian dan organisasi. Ah, saya jadi bernostalgia, kan? Betapa saat-saat semester enam, merupakan masa sibuk-sibuknya di kampus. Tapi, sesibuk apapun, tetap saya rindukan. Praktikum, asisten lab., cicilan proposal penelitian, hingga kegiatan organisasi yang kerap mengharuskan saya untuk pulang malam. Love!

Melalui penulis juga saya tahu, akan beberapa pengetahuan yang selama ini mungkin belum pernah saya dengar. Seperti qarin yang dipunyai setiap manusia, liqa, teknik menghapal Al-Quran, dan masih banyak lagi. Dari novel ini saya juga menyadari bahwa sesungguhnya manusia hidup di dunia ini tidaklah sendiri.

Konflik ringan yang disajikan penulis juga terasa mengalir begitu saja. Karena kebanyakan, merupakan konflik-konflik ringan yang pernah terjadi di kehidupan. Seperti saat proposal penelitian Hana yang sempat ditolak oleh dosen.

Saya paham betul Han, bagaimana rasanya. Saat itu ketika satu semester lebih proposal penelitian saya ‘nganggur’, ingin rasanya berhenti. Saya lelah. Tapi saya ingat kedua orangtua saya. Kemudian saya berikhtiar lagi, dan Alhamdulillah saya bisa selesaikan kurang dari satu tahun.

Penulis cerdik juga rupanya. Penulis diam-diam menyisipkan motivasi-motivasi melalui kisah Hana yang di akhir cerita baru saya sadari. Saya setuju dengan pendapat penulis bahwa:

“Motivator terhebat adalah diri sendiri.”—hal. 17

Tetapi tetap saja seseorang butuh pemantik. Baik dari orang lain, dari pengalaman, maupun dari buku, dan masih banyak lagi.

***

Saking asyiknya tenggelam di dunia Hana dan teman imajinasinya, saya jadi kelewatan beberapa typo hihi. Namun saya sempat menemukan beberapa typo yang agak menganggu, di antaranya:

Pada halaman 10, penulis menuliskan Farmasi adalah fakultas tersibuk di di universitas ini. Seharusnya penggunaan di cukup sekali saja. 😀

Kemudian pada halaman 123, “Bagaimana bisa kamu datang lagi? dan dengan sosok seperti ini…” Seharusnya, setelah tanda tanya, diawali dengan penggunaan huruf kapital, bukan?

Sekian review saya mengenai Teman Imajinasi. Untuk kalian yang mempunyai teman khayalan seperti Hana, tidak perlu khawatir, mungkin kalian perlu menambah lagi kegiatan positif! Hihi. Oh iya, terima kasih untuk penulis yang menyisipkan coloring paper pada novel. Lumayan untuk nambah kegiatan positif di rumah hihi.

Selamat membaca!

Rate: 3/5

Iklan

2 thoughts on “[Review] Teman Imajinasi – Kamu adalah Aku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s