[Kumcer] Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah – Bukan Keberpihakan Cengeng!

Wanita Muda

Judul: Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah

Penulis: Hamsad Rangkuti

Penerbit: Senja

Tahun: 2016 (Cetakan Pertama)

ISBN: 978-602-391-174-5

Jumlah halaman: 224

Genre: Novel Perjuangan

***

Kutipan di atas terdapat pada salah satu cerpen dengan tokoh kere berjudul “Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah”. Kere muda tersebut menjual diri untuk membayar pengobatan ibunya di rumah sakit. Hebatnya,ia berterus terang kepada Sang Ibu, darimana ia mendapatkan uang.

Siapakah yang tidak menjual dirinya saat ini, Ibu?

Dari cerpen tersebut, saya dapat melihat, bagaimana sudah biasanya orang-orang menjual diri mereka, baik menjual diri untuk berahi, maupun menjual diri untuk intelektual. Rasanya, wajar-wajar saya jika si kere menjual satu-satunya yang ia miliki, yaitu kesucian. Kemiskinan membuat mereka memeras otak lebih keras, daripada diperkosa dan kehilangan kesucian secara sia-sia, tanpa mengantongi helaian rupiah. Meski dalam hal agamis, hal tersebut sangatlah bertentangan. Sungguh ironi untuk dunia si kere.

Selain cerpen di atas, masih banyak lagi cerpen dengan tokoh-tokoh kere lainnya yang Rangkuti tuliskan. Di antaranya:

  1. Perbuatan Sadis
  2. Sampah Bulan Desember
  3. Cerita Awal Tahun
  4. Malam Tahun Baru di Sebuah Taman
  5. Kalah
  6. Karjan dan Kambingnya
  7. Malam Takbir
  8. Mimpi Buruk Murni
  9. Penyair Bahman
  10. Suara-Suara
  11. Rencong
  12. Di Atas Kereta Rel Listrik
  13. Sukri Membawa Pisau Belati
  14. Untuk Siapa Kau Bersiul

***

Hampir semua cerpen yang ada pada kumcer tersebut pernah diterbitkan di media cetak seperti Kompas, Kartini dan Horison pada masanya. Tidak berlebihan memang jika saya ingin mengucapkan terima kasih untuk Senja yang sudah mempublikasikan kembali karya-karya yang menggambarkan kere dengan apa adanya ini. Paling tidak, saya tidak perlu susah-susah menggali koran Kompas atau Majalah Kartini pada tahun 80-90an. Horay!

Cerpen-cerpen karya Rangkuti mempunyai ciri khas yang terkadang membuat saya geleng kepala, mengiyakan ironi yang ada di negeri ini. Seperti penggunaan tokoh kaum kere yang dikemas secara nyastra, dan tidak melulu melebih-lebihkan betapa sengsaranya mereka. Meminjam istilah dari salah satu tokoh sastra, cerpen Rangkuti menyajikan cerita kaum kere tanpa keberpihakan cengeng.

Saya setuju pula dengan pendapat Eyang Sapardi Djoko Darmono mengenai karya Rangkut, bahwa tokoh-tokoh dalam cerpen digerakkan oleh peristiwa, bukan sebaliknya. Saya juga sejalan dengan pendapat Seno Gumira Ajidarma yang menyebutkan bahwa cerpen Rangkuti merupakan cerpen perlawanan pada masa itu. Makna-makna implisit sengaja dipilih Rangkuti untuk menyampaikan pesannya kala itu, di mana kebebasan perpendapat baru dibuka, namun masalah teror kian merajalela. Seperti cerpen Rencong yang berpesan bahwa kekerasan hanya akan menimbulkan kekerasan.

Apabila Eyang Sapardi Djoko Darmono mengulik cerpen “Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah” dan Seno Gumira Ajidarma membahas pesan terembunyi dari cerpen “Rencong”, sementara saya justru jatuh hati dengan cerpen berjudul “Perbuatan Sadis”. Cerpen tersebut menggamabarkan bagaimana usaha kaum kere  untuk menegakkan eksistensi mereka pada kaum berduit. Pesan yang dapat saya ambil dari cerpen tersebut adalah jangan sekali-kali bermain dengan kesenjangan sosial, karena salah satu di antara kelas-kelas kehidupan yang ada bisa bertindak di luar yang bahkan tidak sempat terlintas di pikiran, sepeti menelan perhiasan misalnya.

Untuk cover, saya tergilitik dengan pemilihan ilustrasi berupa sesosok manusia (saya bingung ini perempuan atau lelaki) yang mengenakan daster selutut bermotif bunga, dengan tangan kanan memegang sepuntung rokok. Pun juga dengan keberadaan helm tentara bermotif bunga. Satu hal yang perlu saya sampaikan kepada kalian, bahwa wajah ilustrasi tersebut medeni!!! Semenyeramkan kehidupan kere yang hanya bisa menggenggam selembar sepuluh ribuan hingga akhir hidupnya.

Selamat membaca! Selamat berjuang!

Rate:4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s