[Resensi] Cafe Lovers

sumber

Judul: Café Lovers

Penulis: Rosyidina Afifah

Penerbit: De Teens

Tahun: 2016, Cetakan Pertama

ISBN: 978-602-391-179-0

Jumlah halaman: 268

***

Blurb

Berawal dari insiden kantong belanja yang tertukar, Ersen bertemu dengan Adile, gadis periang yang mendalami lukisan aliran surealis. Setiap tiga hari, Adile mengunjungi Ersen di Kefe Velvet, tempat pria itu bekerja. Suatu ketika, Adile menjanjikan sebuah kejutan pada ulang tahun Ersen, tepat seminggu lagi. Ersen amat tak sabar dengan itu. Ia penasaran, kejutan seperti apa yang disiapkan Adile untuknya.

Di hari ulang tahunnya, Ersen mendapatkan kejutan yang lain. Adile menghilang. Kenapa? Apa yng terjadi pada Adile? Begitulah tanya Ersen setiap hari. Rasa tanya itu menghantuinya, menuntut jawaban. Akankah Ersen mendapatkan jawaban dari segala tanyanya akan Adile?

***

Saya selalu mengamati bagaimana penulis meracik ‘pertemuan’ setiap tokohnya. Menurut saya itu hal yang penting, karena dari sanalah alur cerita dapat berlanjut. Saya sedikit sebal dengan ‘pertemuan’ yang sering sekali digunakan penulis, yaitu tabrakan. Entah tabrakan di lorong sekolah, tabrakan di jalan, atau tabrakan-tabrakan lainnya.

Untungnya, penulis Café Lovers nggak seklise itu. Penulis cukup kreatif ya, bahkan saya nggak kebayang akan ada ide ‘kantong plastik yang tertukar’ akan mengubah hidup seseorang. Seperti Ersen Yafuz dan Adile Nadi. Melalui tertukarnya kantong belanjaan mereka, benih-benih cinta itu akhirnya bersemi. Saya yakin deh, Ersen mengalami love at the first sight, cuma dia nggak sadar aja.

Cinta itu kemudian mulai bersemi lagi kala Ersen dan Adile bertemu di Kafe Velvet. Ersen yang kala itu masih menjadi pelayan di sana, mendadak nge-freeze. Ya, biasalah, cowok kalo ketemu cewek yang jadi love first sight mereka. Mereka pun berlanjut. Saya agak nggak paham dengan hubungan mereka sih. Mau dibilang udah resmi kok tapi belum ada yang nembak. Mau dibilang belum resmi kok sering ketemu dan hangout bareng. Susah. LOL

Cinta nggak ada yang mulus. Bener, nggak? Begitu pula dengan hubungan-cinta-yang-tanpa-status antara Ersen dan Adile. Ada yang hilang ingatan dan ada yang galau setengah mampus. Kemudian nggak kerasa aja ‘hilang ingatan’ tersebut berganti posisi. Agak kecepetan sih menurut saya. Kenapa nggak diulur sedikit dan diselipi drama-drama?

***

Saya juga sempat menemukan beberapa hal yang membuat saya mmm apa ya? Agak terganggu. Seperti pada halaman 45, di sana tertulis:

“Aku kan sudah mengambil whip cream-mu. Kenapa kau tidak marah?” Setahu saya sih, penulisan istilah dari krim kocok tersebut adalah whipped cream. Saya sudah cek beberapa kali di google juga dan menemukan istilah whipped cream juga. Mohon dikoreksi apabila saya kurang tepat.

Pada halaman 77, sepertinya penulis iseng menyisipkan hal baru yang membuat saya penasaran. “…Tch, Sahan juga kenapa menahanku di kafe lebih lama hanya untuk berdebat?” Berulang kali saya berusaha untuk mengatur mulut dan bibir saya agar tercipta “Tch” itu, tapi saya gagal. Mungkin bisa dicontohkan bagaimana “Tch” itu sebenarnya?

Berulang kali penulis menyebutkan “manik hazel” untuk menyebutkan kedua mata Ersen. Oh, ayolah! Saya pikir ada rasa bosan saat membaca “manik hazel” secara berulang-ulang, mungkin ada lebih dari lima kali. Kenapa nggak langsung “mata Ersen”? Saya kira lebih simpel dan lebih enak dibaca. Dan satu lagi, “manik obdisian”. Saya terkesan wow saat membaca istilah tersebut, tapi setelah menemukan istilah tersebut di halaman-halaman selanjutnya…oh, oke. Ini sepertinya udah saya baca di halaman sebelumnya.

Well, di samping itu semua…covernya lucu banget. Saya ulang sekali lagi LUCU BANGET. Kenapa sih akhir-akhir ini buku-buku terbitan De Teens, sering banget didominasi warna pastel yang lucu bin unyu? Dan saya jatuh cinta dengan ilustrasi jejeran bangunan dengan pattern batu bata dan coretan-coretan di gedung itu. Man, lucu parah! Tapi mungkin agak kelewat sedikit, karena pada cover terlihat Kafe Velvet dan Kafe Galata bersebelahan. Padahal jelas sekali pada dalam cerita, penulis menyebutkan bahwa kedua kafe itu berjarak 25 meter dan Kafe Velvet terletak diujung jalan. Hayo…

Selamat membaca!

Rate: 2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s