[Resensi] Somewhere Called Home

sumber

Judul: Somewhere Called Home

Penulis: Dhamala Shobita

Penerbit: De Teens

Cetakan: Pertama, Juni 2016

ISBN: 978-602-391-178-3

Jumlah halaman: 260

***

“Dari sekian banyak tempat, mengapa lo harus pilih Sipora juga?”
“Karena gue suka!”Ris, hal. 230

***

Begitu saya melihat cover novel ini, saya langsung membayangkan akan diajak penulis untuk menjelajah. Dan benar saja, begitu masuk awal cerita, saya sudah berada di Pulau Sipora, Sumatra Barat, dengan seorang surfer (yang dalam imajinasi saya—ganteng.) bernama Ben.

Di Pulau Sipora, Ben bertemu dengan Lila. Di sanalah awal impian ‘gila’ Lila yang juga merupakan awal perjalanan Ben.

Lila ingin mencari Dila, kakaknya yang telah lama menghilang sejak perpisahan orangtua mereka. Dan Ben, turut andil dalam mewujudkan impian itu, dengan berbekal sebuah jurnal milik Lila.

Sebenarnya, saya agak risih juga dengan penggunaan jenis huruf yang sama antara cerita utama dengan surat-surat Lila untuk Dila yang terdapat pada jurnal. Coba deh kalau keduanya memakai jenis huruf yang berbeda, atau paling tidak ada pembeda di antara keduanya, lebih cantik pastinya.

Tapi nggak apa-apa, cerita mengenai perjalanan Ben dalam mencari Dila lebih ciamik. Mulai dari menjadi pendongeng di Pulau Rinca, Lombok, mencoba ganasnya Bono di Sungai Kampar, berdoa di Bukit Doa, Tomohon, hingga menerima ajakan Ris, seorang gadis yang secara tidak sengaja selalu berada di tempat yang sama dengannya, menjajal surfing di pantai Pacitan.

Jangan salah, Ben berusaha mewujudkan impian Lila bukan karena hidupnya terlalu ‘selo’. Justru kehidupan Ben lebih rumit daripada Lila. Keluarganya yang ‘seakan’ baik-baik saja membuat Ben tidak betak di rumah. Di tambah lagi, Calvin Murray, ayah biologisnya yang dulu ada main dengan Mamanya, tengah berjuang dengan selang infus dan oksigen.

Over all, saya menikmati setiap perjalanan yang Ben lakukan untuk menemukan Dila. Saya juga sempat kesal dengan Mama Ben karena sempat nggak jelas pada anak-anaknya. Maaf sebelumnya, tapi memang benar-benar keterlaluan sih.

Selanjutnya saya juga bertanya-tanya, karakter Ris tiba-tiba masuk ke dalam cerita. Ada yang nggak beres nih. Dan benar juga. Saya digiring penulis untuk menggabungkan antara Ben, jurnal milik Lila dan Ris.

Tapi di akhir cerita, saya agak kecewa sih. Dikit. Saya berharap akan disuguhkan sad ending untuk perjalanan Ben dan Ris. Tahu-tahu sudah membicarakan tentang rumah model minimalis saja mereka berdua.

Dua setengah bintang saya berikan untuk novel ini. Saya bulatkan menjadi tiga karena covernya yang lucu dan eye-catching.

Selamat membaca!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s