[Resensi] Koplax Rangers

sumber

Judul : Koplax Rangers

Penulis : Amad Kocil

Penerbit : De Teens

Tahun: 2016

ISBN : 978-602-279-244-6

Jumlah halaman : 304

***

Blurb

“Hidup itu sama dengan perjalanan sebuah kereta. Kadang harus berhenti di suatu tempat untuk menerima kehadiran orang baru, sekaligus merelakan kepergian orang yang kita sayang.”

Viona, Andra, Rehan, Gilang, dan Dita mengikrarkan persahabatan mereka dengan nama Koplax Rangers. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Namun, segalanya tak sekedar soal kumpul bareng, bersenang-senang. Koplax Rangers mesti membayar dengan sangat mahal untuk menyadari arti sebenarnya dari persahatan.

***

Sudah jarang saya menemui kisah tentang persahabatan. Mungkin terlalu banyak kisah cinta yang say abaca, yang terlarut bersamanya hingga terkadang tanpa sadar melelehkan air mata. Tapi, novel ini, telah membius saya, bukan soal cinta, melainkah soal persahabatan bersama dengan jatuh bangunnya—Arintya

***

Koplax Rangers.

Bukan sebuah geng ataupun kumpulan remaja tanggung yang suka nongkrong di pinggir jalan. Mereka adalah beberapa anak muda yang saling melengkapi, di bawah payung bernama persahabatan. Mereka di pertemukan di satu almamater yang sama, menjadikan persahabatan yang mereka jalin semakin kuat adanya. Koplax Rangers terdiri dari berbagai macam orang-orang ‘unik’. Ada Viona yang cantik dan stylist, ada Andra yang gondrong dan garang, Rehan si penulis yang terkadang puitis, Dita, si cewek hoodie merah yang benci berada di rumah serta Gilang, mantan pengguna narkoba yang diam-diam menyimpan rasa.

Saking kentalnya darah persahabatan mereka, Rehan sampai terinpirasi untuk membuat sebuah quote

“Kita begitu rapat dan lekat seperti kuku yang menempel pada jari. Yang apabila salah satunya terkelupas, maka setiap inci dari tubuh kita akan merasakan luka dan perih yang sama. Karena kita adalah Koplax Rangers!”

***

Membaca novel ini, saya seperti flashback ke masa lalu. Teman datang dan pergi dalam berbagai situasi. Namun sabahat, tidak akan pernah pergi, ia hanya ‘pamit’ sejenak untuk merantau dan kelak akan kembali. Susah memang untuk menjaga persabahatan. Paling susah apabila sudah ada benih-benih cinta di dalamnya. Angkat tangan deh saya. Namun, di samping itu semua, saya banyak belajar dari sahabat-sahabat saya, bahwa setiap orang itu “wajib” dan “berhak” untuk menjadi a shoulder to cry on.

Balik lagi ke novel, awalnya, saya memang agak jenuh. Cerita persahabatan Koplax Rangers yang digambarkan penulis cukup membuat saya menguap. Saya hampir menyerah, namun, penulis cukup membaca peluang. Penulis menghadirkan konflik yang cukup tajam dan menukik *halah bahasanya* Tapi suer deh, begitu saya membaca konflik Viona dan Evan di apartemen dan Gilang yang sakau, saya jadi terpacu. Kira-kira gimana ya, Koplax Rangers yang sudah ‘ambyar’, untuk mengatasi itu semua?

Saya sangat benci cerita yang tau-tau bahagia. Nggak ada angin nggak ada hujan, tokoh-tokoh di dalam cerita tahu-tahu happy ending ever after. Hello, kita buka hidup di negeri dongeng. Ya, meskipun fiksi, tetapi harus rasional juga sih. Tapi untuk kasus Koplax Rangers, penulis seakan berhati-hati untuk mengemudikan alur hingga akhirnya…saya cuman bisa berkata,”Ya…mungkin itu yang terbaik buat mereka.” Kemudian nggak rela karena ada satu personil yang dikembalikan ke dalam kotak narasi penulis.

***

Bicara mengenai cover, saya agak terganggu dengan tulisan “Ada saat untuk berhenti dan merelakan cinta pergi jauh.” Kurang nyambung menurut saya. Over all, saya suka covernya. Nggak banyak tingkah. Dan yang saya suka lagi adalah gambaran Taman Menteng beserta jajaran gedung-gedung di sekitarnya. Ah, saya jadi kangen ibukota kan? Eits…ada yang lebih ciamik lagi, dan baru saya sadari setelah membaca selesai novel ini. Coba deh liat pada cover belakang. Ada sesosok misterius yang berjalan di Taman Menteng. That was great idea! Unik!

Tapi, namanya manusia, penulis juga tidak sempurna. Masih ada typo-typo halus beterbaran di dalam cerita. Seperti pada halaman 70 “Bima merasakan tubuhnya seolah menciut, seperti kerupuk kaleng yang disiran air panas.” Serta pada halaman 73 “Kamu bisa berangkat naik busway. Sudah, tidak udah beralasan.” Ada juga typo pada halaman 173, “…Takut Non Vio punya pacaran lagi, ya?

Pada halaman 299 penulis menyebutkan “Kelima Rangers tersebut melanjutkan jalan hidup, Mereka saling mendukung untuk menjadi lebih baik.”  tapi bukankah (maaf) Gilang sudah lebih dulu berpulang? Itu berarti Koplax Rangers hanya menyisakan 4 orang yaitu Andra, Vioa, Dita dan Rehan.

Voila! Selamat membaca!

Rate: 4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s