[Resensi] Maple Terakhir

sumber

Judul : Maple Terakhir

Penulis : Aning Lacya

Penerbit : Ping

Tahun : 2016

ISBN : 978-602-407-002-1

Jumlah halaman : 188

***

Blurb

Bukan seberapa pentingnya masa lalu, tapi seberapa jauh kemu belajar darinya.

Apa kau pernah ingin berlari dari masa lalu, tapi justru semakin tenggelam di dalamnya?

Camille sedang mengalaminya.

Mencoba berbagai cara dan masih dihantui masa lalu, Camille berencana melakukan hal yang sama sekali baru: bolos kuliah, dan bertekad melihat dunia yang sama sekali baru baginya.

Di sanalah ia bertemu dengan Joulien.

Bahagia mendapat sahabat baru,Camille bersepeda untuk menikmati rruntuhan daun maple. Di sanalah ia memberanikan diri untuk menyapa Ken.

Dua kebiasaan baru. Dua sahabat baru.

Tapi ternyata, Camille pada akhirnya harus tetap berhadapan dengan masa lalu yang baru. Camille harus menghadapainya kali ini, karena ia tak mungkin selamanya berlari.

***

“Masa lalu, tidak penting.”

Begitulah apa yang dirasakan oleh Camille, gadis yang tengah menjalani semester 3 kuliahnya. Ia mendapat dua ‘kejutan’ baru di balik usahanya untuk melupakan masa lalunya. Dua ‘kejutan’ itu adalah Joulien dan Ken.

Joulien, pertama kali saya baca, saya pikir Joulien itu adalah seorang cowok, ternyata tidak. gadis asal Gent, Belgia itu pertama kali bertemu denga Camille di tengah ruang pameran fotografi. Mereka lalu berkenalan dan kemudian berlanjut menjadi ‘sahabat’

Kemudian Ken. Pemuda yang doyan fotografi itu ditemuinya secara tidak sengaja. Bokeh, dan daun maple terakhir di musim gugur lah yang membuat mereka juga ‘dekat’ dari waktu ke waktu.

Usaha Camille untuk melupakan masa lalunya berhasil, namun ia harus berada di antara dua masa lalu.

Well, seperti apa yang diucapkan Camille pada halaman 134, “Masa lalu : bukan seberapa pentingnya, tapi seberapa jauh kamu belajar darinya”, akhirnya Camille banyak belajar dari masa lalu mereka. Joulien dan Ken.

***

Setting yang diambil adalah Belgia, tepatnya di sekitar kota Brugge Ghent dan Antwerp. Mendengar kata Belgia, yang terlintas di benak saya adalah cokelat! Yeay! Dan penulis juga tidak melewatkan salah satu cirri khas dari Negara tersebut dengan membawa cokelat sebagai salah satu minuman wajib di beberapa adegan. Namun, seperti minum cokelat panas tanpa marshmellow yang mengapung di permukaan, rasanya agak hambar. Kenapa? Eksplorasi tentang negera Belgia, terlebih kota-kota cantik di dalamnya, saya rasa masih kurang. Sayang saja jika tempat-tempat ciamik di sana dilewatkan dalam cerita.

Semakin banyak lembar yang terbaca, saya semakin penasaran dengan Ken. Iya, cowok yang tiba-tiba ‘ditemukan’ Camille saat ia memotret itu memang bikin saya ingin segera lanjut ke halaman selanjutnya. Tapi…di pertengahan jalan cerita, saya dibuat bete dan sebal oleh penulis. Sebal, karena penulis dengan gamblang ‘memunculkan’ siapa Keano dan Ken itu pada halaman 98. Saya seperti diguyur air dingin satu ember begitu mengetahui siapa sosok ‘Keano’ itu. Dan itu…nggak asik! Bener-bener nggak asik. Porsi penasaran saya langsung turun drastis. Hingga saat membaca endingnya….saya jadi biasa aja *kemudian nangis di pelukan Ken*

Tapi untungnya, rasa sebal dan bete saya sedikit terobati karena cover novel ini yang LUCU BANGET! Saya tebak deh, itu pasti gambar kaki Camille? Iya kan?! *setengah maksa* Gambar kaki yang setengah disilangkan ke belakang itu saya rasa sebagai gambaran Camille yang tengah kebingungan akan masa lalu yang tengah ia hadapi.

Agak gatal saja, kenapa pada bagian cover tidak ada sedikitpun unsure yang berhubungan dengan daun maple ya? Padahal warna cover sudah mirip-mirip daun maple hasil googling-an saya.

And, terakhir, ada kutipan dahsyat yang saya dapat dari Camille dan Ken.

 “Jika kamu serasa memiliki dunia dengan memotret, maka aku merasa, aku memiliki dunia dengan menulis.”—Camille untuk Ken hal. 48.

“Menulislah, maka aku akan mengetahui duniamu.”—Ken untuk Camille. Hal. 54

 Rate :2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s