[Kumcer] Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya

Source

Judul : Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya – Kumpulan Cerpen Pilihan #KampusFiksi Emas 2016

Penulis : Lugina W.G. dkk

Penerbit : Diva Press

Tahun : 2016

Cetakan : Pertama

ISBN : 978-602-391-147-9

Jumlah halaman : 256

***

Blurb

Celia tak pernah mengerti, mengapa Puffin tak bisa berhati-hati. Ia menyenggol perabotan ke mana pun ia pergi; gelas beradu menyentuh lantai…Prang! Seingat Celia. Dulu Puffin tak pernah bertingkah nakal. Ia manis dan begitu lembut.

Namun, Celia ini sering terpaksa memarahi Puffin. Celia benci melihat pecahan gelas berhamburan. Ia sungguh benci terbangun di malam hari karena bunyi gelas-gelas bertumbukan. Bermalam-malam ia dihantui mimpi pecahan kaca yang mengejarnya seperti gerombolan lebah. Menyengat dan menancap di kepalanya seperti mahkota.

***

Daftar cerpen yang terdapat di dalam Kumpulan Cerpen ‘Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya’ :

  1. Wajah-Wajah dalam Kaset Pita (Gin Teguh)
  2. Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan (Amaliah Black)
  3. Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan (Evi Sri Rezeki)
  4. Black Butterfly (Sugianto)
  5. Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya (Lugina W. G.)
  6. Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap ‘Seandainya’ di Mulutnya (Eva Sri Rahayu)
  7. Le Nozze di Figaro (Sayfullan)
  8. Goodbye (Ghyna Amanda)
  9. Sepasang Mata Terakhir di Negeri Ini ( Frida Kurniawati)
  10. Cintalah yang Membuat Diri Betah untuk Sesekali Bertahan (Puput Palipuring Tyas)
  11. Psikadelia (Farrahnanda)
  12. Yang Menunggu di Dalam Cermin (Erin Cipta)
  13. Kisah yang Tak Perlu Dipercaya (Reni FZ)

            Tak lupa juga terdapat Catatan Rektor KampusFiksi yang berjudul ‘Merawat Tradisi’ serta kata pengantar dari M. Aan Mansyur.

***

Setiap cerpen mempunyai daya pikat masing-masing. Dan bagi saya, ada beberapa cerpen yang sukses memikat perhatian saya. Meskipun tidak bisa saya pungkiri, semua cerpen di sini telah memikat perhatian saya lewat ilustrasi-ilustrasi ‘ciamik’ di dalamnya.

Wajah-Wajah dalam Kaset Pita (Gin Teguh)

Prosophenosia, merupakan gangguan yang telah lama dialami Nima. Gangguan tersebut yang menyebabkan Nima mau tak mau harus bersekolah di rumah. Awalnya Nima menolak, ia begitu bersemangat karena ia ingin bertemu teman-teman baru setiap harinya atau para tetangga yang tiap hari silih berganti di samping rumahnya. Untuknya, seorang pemuda memberinya pemutar kaset pita, agar ia tau tak pernah ada teman-teman baru maupun tetangga baru samping rumah.

“Nima tahu siapa yang duduk di samping Ibu?’

“Siapa dia?”

Ibu menangis. Ia menangis menatap suaminya. Ayah Nima. Yang juga menundukkan kepala.

Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya (Lugina W.G.)

Saya tidak heran, mengapa cerpen ini dijadikan sebagai judul utama dari kumpulan cerpen ini. Ceritanya yang sederhana namun berhasil membuat saya terus terbayang-bayang bagaimana Celia begitu tersiksanya saat suara gelas-gelas pecah menghantui malam-malamnya. Ia menyalahkan dan membenci Puffin, kucing yang sebenarnya sudah tak seperti dulu, atas suara gelas-gelas pecah itu. Dari cerpen ini saya banyak belajar, bahwa menjaga psikologis anak itu penting, terlebih bagi rumah tangga dengan ‘suara gelas-gelas pecah di dalamnya’.

“Maafkan kamu Puffin. Maafkan kami, Celia…”

Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap ‘Seandainya’ di Mulutnya (Eva Sri Rahayu)

Menurut saya, ide cerita yang diusung penulis cukup unik. Cerita di dalam cerita. Sebuah konflik di dalam konflik. Diceritakan secara apik dan tidak saling tumpang tindih. Tentang seseorang yang terobsesi untuk membuktikan passion-nya dan penyesalan seorang suami yang terluka oleh istrinya.

“Lalu sekarang di mana keluarga Kakek yang lain?”

“Saya tidak tahu. Mereka sudah lama menghilang, mungkin malu punya saudara seorang pembunuh.”

Yang Menunggu di Dalam Cermin (Erin Cipta)

Pertama kali saya membaca cerpen ini, saya pikir ini cinta dua dunia. Cinta seorang lelaki pada makhluk tak kasat mata yang hanya bisa dia jumpai di dalam cermin. Tenyata lebih dari itu. Cinta memang buta, hingga membutakan mata lelaki tersebut dan membuat sang ibu menangis di balik pintu. Penulis secara lembut membimbing saya, untuk mengetahui siapakah sosok di balik cermin yang sampai harus mempertemukan lelaki tersebut dengan seorang dokter karena cintanya itu. Dua jempol untuk ending yang sangat saya sayangkan. Sayang, mengapa lelaki itu mempunyai kisah cinta yang amat sendu.

Aku terhanyut begitu dalam. Sampai-sampai tak peduli pada suara tangis ibuku yang sejak tadi mengintip dari balik pintu.

***

Cover.

Bicara soal cover, saya nggak ngerti lagi deh, kenapa buku-buku terbitan Diva dan imprint-nya selalu ‘nancep’ di hari. Mulai dari buku Distance Blue dan Garnish yang saya baca bulan lalu, sampai kumpulan cerpen ini. Semuanya dominan warna pastel dengan komposisi ilustrasi yang nggak norak. Begitu pula dengan cover kumcer ini, warna kuning opor (saya menyebutnya demikian karena waktu melihat warna cover ini, saya teringat kuah opor ayam LOL) enak aja dilihat. Penembatan ilustrasi juga pas, nggak berantakan dan nggak bikin saya malas untuk segera membuka lembar dmei lemar di dalamnya.

Well, selamat membaca!

Rate: 3/5

Iklan

One thought on “[Kumcer] Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s