[Resensi] Harmoni by Heruka

sumber: goodreads.com

Judul : Harmoni – Jawaban untuk penantian yang salah

Penulis : Heruka

Penerbit : De Teens

Tahun : 2016

ISBN : 978-602-296-199-4

Jumlah halaman : 240

***

Blurb

Paras  berkutat dengan revisi novel ketiganya yang tersendat lantaran sang editor ingin karya Paras jadi the breathtaking one, nggak sama dengan novel sebelumnya.

Rafal masih bergeming dengan tulisannya yang sebentar-sebentar dihapus, diedit, lalu frustasi dan merasa nggak berbakat menulis.

Lalu, serangkaian kejadian di Writing Clinic, hingga kepergian Rafal ke Polandia meletakkan keduanya di area yang berbeda.

***

Pop versus sastra.

Dua hal dalam literasi yang bagi saya tidaklah ‘sopan’ untuk dibanding-bandingkan. Pop punya ciri khasnya sendiri, begitu pula dengan sastra yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi penikmatnya.

Pilihan penulis dalam mengangkat ‘Pop vs Sastra’ menurut saya ciamik! Perbandingan yang menurut saya nggak sopan tersebut, ditulis dengan halus dan membuat saya jadi memahami bagaimana pandangan pelahap sastra mengenai karya populer. Saya, sebagai pelahap karya pop, jujur saja terkadang nggak paham ketika membaca buks yang ‘nyastra banget’. Otak saya belum mampu kali ya membaca bacaan berat hehehe.

Begitu pula dengan Rafal,  penyuka sastra yang memandang rendah karya pop, seperti salah satu novel teenlit best seller A Symphony of Love in Vienna karya Parassandi.

Sejak menyukai dunia literasi dari awal SMA, Rafal sudah beranggapan bahwa novel teenlit dan metropop adalah hal yang menggelikan. Buku-buku tersebut hanya menjual tema cinta dan drama. Sangat lucu baginya membaca buku yang isinya hanya menyajikan sekelumit kisah tanpa hal-hal baru yang bisa membuatnya berpikir.—Hal. 33

Pun juga dengan Paras, sebagai penulis novel pop, ia mempunyai argumennya sendiri. Ia bahkan terlibat adu pendapat dengan Rafal saat Writing Clinic.

Tulisan bergaya pop dengan tulisan sastra bagi saya kayak semacam lukisan beralirn naturalism dan lukisan kubisme. Dua-duanya masih berada di lingkup yang sama, namun berbeda jalur. Yang satu gambarnya jelas, memberikan potret utuh tentang suatu pemandangan. Yang satu gambarnya kadang agak nyeneh.—Hal. 107

Namun, sesuatu perbandingan akan lebih asyik apabila sedikit dibumbui konflik, bukan? Penulis lihai banget deh, melihat celah ini. Untuk itulah saya menyukai adegan dimana Rafal dan Para saling beradu argumen mengenai pop dan sastra.

“Apakah bagus bercita-cita menjadi seorang penulis, sementara kita nggak begitu memikirkan dampaknya bagi pembaca? Singkatnya, menulis hanya untuk senang-senang.”—Rafal, hal. 109

“Menjadi idealis itu baik, tapi menjadi orang yang menyatu dengan lingkungan itu perlu.” –Paras, hal. 110

***

Lambat laun, ‘not-really-perseteruan’ antara Rafal dan Paras akhirnya luluh juga. Mereka seakan blend jadi satu. Rafal sedikit demi sedikit mau untuk membaca bacaan pop, begitu pula dengan Paras, demi mengejar Mas Ellan sang editor terkasih *cie terkasih* ia rela membaca lembar demi lembar buku sastra yang kadang susah ia pahami.

Selain konflik utama antara genre pop vs sastra tersebut, penulis juga menyertakan konflik-konflik kecil sebagai bumbu perjalanan hidup Rafal dan Paras. Mulai dari seseorang di masa lalu Paras yang super mengganggu, friendzone Rafal yang sampe dibela-belain ke Vienna, hingga masalah keluarga klasik seperti perceraian orangtua.

Melalui novel ini saya juga baru tahu, bagaimana sensasinya dikejar deadline revisi novel, dapet editor yang mmm perfectionist, dan hal-hal lain dalam dunia penerbitan. Maklum lah, sebelumnya saya baru bisa merasakan deadline revisi skripsi. Semoga selanjutnya saya bisa merasakan seperti Paras. Aamiin! *Doa terselubung*

Dan, coba tebak apa yang saya temukan?

Ada beberapa typo yang mmm nggak menganggu sih, soalnya saya hanya menemukan dua typo saja. Yeay!

Yang pertama adalah pada halaman 23. “Sekarang ngapain? Ketemu Mbak prita? Bahkan nomor HP-nya pun belum kuseimpen.”

Dan yang kedua adalah pada halaman 67 “An interesting prologue, a maksimal climax, and an unpredictable epilogue…”

***

Untuk cover…

Saya bahagia banget dapat membaca buku-buku dengan cover super unyu. Mulai dari Distance Blues, Garnish dan sekarang Harmoni ini. Semuanya dominan warna pastel. Unyu dan binin tenang saat melihatnya.

Terakhir, saya tertohok juga karena sempat menemukan dua kutipan super galau di dalam  novel.

“Penantian adalah hal yang menyebalkan. Dan menunggu dengan setia untuk sesuatu yang belum pasti adalah hal yang menyedihkan.”—hal.73

“Maaf. Tapi kurasa benar, cinta dan persahabatan memang tak pernah bisa berjalan bersisian.”—hal. 237

Selamat membaca good people!

Rate: 3/5

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s