Garnish – Cafe and Gallery

Jpeg

Judul : Garnish

Penulis : Mashdar Zainal

Penerbit : De Teens

Tahun : 2016

ISBN : 978-602-391-126-4

Jumlah halaman : 220

***

Kata Mama, anak laki-laki tak seharusnya berada di dapur. Dapur itu urusan perempuan. Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan anak laki-laki di luar sana, mereka bisa bermain sepak bola atau bermain music, mereka bisa merakit mesin dan bahkan bercocok tanam, bukan berhadap-hadapan dengan kompor, di dapur. —Buni.

Aku bukan robot. Aku akan melakukan apa saja yang kuinginkan. Tadi Ayah bilang tak suka jika rumah menjadi kotor, tak suka jika aku kotor. Lihatlah, aku akan hidup dengan ini. Dengan cat-cat ini. —Anin.

***

Buni dan Anin, dua orang selalu salah di mata Mama dan Ayah mereka. Buni tampak salah karena ia merupakan lulusan ekonomi yang selalu berkutat dengan dapur. Sedangkan Anin dan cat lukis selalu tampak salah di mata Sang Ayah. Anin, si anak yang diasuh secara eksklusif dan overprotektif.

Keduanya mencapai titik dimana mereka harus menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Bukan lagi pengecut yang selalu dikurung dalam keinginan orangtua. Akhirnya, Buni dan Anin memilih kabur.

Entah karena nasib atau apa (tidak dijelaskan juga di dalam novel) mereka berjumpa dalam keadaan yang sama ‘mengenaskannya’. Buni dengan tumpahan saus dan terlihat seperti pasta basi, dan Anin, penuh dengan tumpahan cat lukis di sekujur tubuhnya.

Semesta agaknya tak ingin mereka kehilangan arah. Lalu menyatukan mereka melalui Bli Sutha, salah satu seniman sekaligus pemilik sanggar seni yang turut andil dalam jalan mereka berdua.

Garnish, sebuah perpaduan antara galeri dengan kafe, merupakan batu loncatan bagi Buni dan Anin dalam pembuktian diri. Mereka berkolaborasi, menyatukan seni dan masakan, kuas dan dapur.

***

Satu hal yang membuat saya geleng kepala dengan novel ini adalah penggunaan POV. Teganya penulis membiarkan saya kewalahan untuk menentukan apakah ini POV Buni atau POV Anin. Andai saja di setiap perpindahan sudut pandang, diberi pembeda, wah…saya akan lebih menikmati Garnish ini.

Kemudian, setelah kewalahan saya akibat terlalu sering menebak POV, sedikit terobati dengan ‘turning point’ yang ciamik dari penulis. Penulis seakan memberi saya suasanan segar. Halah!

Hari itu, aku dan kau bukan siapa-siapa, kau hanya lukisan abstrak yang tak pernah dianggap, sedangkan aku hanya pasta basi yang terbuang ke kantong sampah. Sekarang, orang-orang tahu siapa kita. Ayahmu mengakui bahwa kau bukanlah gadis boneka, kau adalah gadis dengan bakat dan warna yang cemerlang. Orang-orang, para pelanggan kafe ini juga mengakui bahwa kita tidaklah no. Kau bisa menyajikan kepuasan batin bagi mereka dengan lukisan-lukisan itu, dan aku bisa menyuguhkan kepuasan rasa bagi lidah dan jiwa mereka. Bukankah ini membanggakan?—Hal. 156

Bagaimana, ciamik bukan? Saya saja sampe berulang kali membacanya. *elap air mata*

Membaca novel ini, membuat saya selalu berkaca diri. Alhamdulillah, kedua orangtua saya selalu mendukung kegiatan anaknya yang nggak bagus-bagus amat ini.

Saya juga setuju dengan pendapat Ayah Anin dengan pola asuh yang merdeka. Merdeka bukan berarti bebas. Karena bebas lebih cenderung tanpa aturan. Dan itulah yang saya dan orangtua saya jalani. Merdeka dengan segala sesuatu yang saya sukai, namun tetap dibatasi aturan.

***

Mengenai konflik, saya terfokus dengan konflik orangtua – anak Buni dan Anin, sehingga agak mengesampingkan konflik-konflik kecil seperti Mimi dan suaminya, sakitnya Mama Buni dan lain-lain. Duh, maafkan saya. Konflik antara orangtua dan anak memang menyita perhatian saya.

Btw, siapa sih yang ngusulin nama Buni sebagai tokoh utama?

KAN LUCU BANGET!

Buni, jadi inget Bugs Bunny. *gemay!*

Sama gemaynya juga untuk cover. Suka! Banget! Perpaduannya bikin mata saya pingin cubit deh.

Btw, selamat membaca!

Rate 2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s