Distance Blues

Jpeg

Judul : Distance Blues

Penulis : Agustine W.

Penerbit : Ping

Tahun : 2016

ISBN : 978-602-391-109-7

Jumlah halaman : 288

***

Blurb

Memilihmu, haruskah merasa ragu?

Nyatanya, Elmi memang sedang mempertanyakan isi hatinya sendiri. Bukan maunya jauh dari Dirga, sang kekasih. Lagian, Dirga bekerja untuk masa depan mereka juga, kan? Tapi, Rasyad—chef pemilik restoran Timur Tengah yang ganteng banget—membuat sesuatu di dalam dada Elmi tercampur baur.

Rasyad rajin memberi Elmi kejutan. Ia juga siap jadi “sopir” kalau saja Elmi mau. Sesekali, tindakan Rasyad yang spontan malah membuat Elmi tersentak—Dirga saja belum pernah melakukannya. Apalagi, Dirga bukan tipe cowok romantis yang suka memberi Elmi surprise.

Rasyad yang hadir saar LDR-an, OCD yang butuh terapi, belum lagi Mama yang cerewet dan berputar-putar di kepala Elmi.

Tapi, urusan hati harus diurai, kan? Berarti, Elmi memang harus memutuskan.

***

Hubungan jarak jauh atau LDR, memang ada aja godaannya. Selain jarak dan waktu, komunikasi juga menjadi faktor paling penting untuk hubungan jarak jauh. Seperti halnya yang terjadi pada Elmi dan Dirga, sejoli yang sudah dua tahun menjalin kasih ini terpisah jarak Surabaya-Singapura dan kini harus bersabar karena Dirga, ditugaskan untuk dinas ke pulau Dewata Bali.

Belum lagi, ada beberapa hal yang sengaja disembunyikan Elmi pada Dirga, sempat membuat hubungan keduanya retak.  Salah satunya adalah OCD atau Obessive Compulsive Dissorder, merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan perilaku pengulangan yang disebabkan oleh ketakutan akan pikiran yang tidak masuk akal. Seseorang yang didiagnosa menderita OCD mungkin tidak menyadari kalau obsesinya tidak masuk akal.

Elmi mengidap OCD. Gangguan psikis itu membuat Elmi selalu melakukan hal-hal secara berlebihan karena diikuti rasa takut. Contohnya seperti mencuci tangan berulang kali, hingga mengambil air wudhu berulang kali karena takut wudhunya tidak sah.

Di tengah hubungannya dengan Dirga yang kian terserak jarak dan gangguan OCD yang kian membuatnya hidup dalam rasa takut, datanglah Rasyad, pria keturan Arab yang membuat saya berfantasi secara liar *maaf, karena penggambaran yang penulis berikan.

Di balik sweeter berkerah V dan lengan yang dibiarkan tersingsing ke siku—membuat bulu legan yang tumbuh proporsional terpampang jelas—justru meningkatkan kealamian kerupawanan pria itu. Belum lagi parfum yang sungguh menggoda indra penciuman hawa.—hal.129

Seru deh, bacanya kalau ada seseorang yang hadir di tengah-tengah hubungan jarak jauh. Rasanya seperti membaca sambil ditemani suara genderang perang. Tabuh genderang semakin kencang manakala muncul pihak-pihak masa lalu, yang memang sudah seharusnya dilupakan.

***

Kalau saya jadi Elmi, saya bakalan bingung setengah mati.

Dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama nyata di depan mata.

Dirga, pacar sekaligus calon suami, namun akhir-akhir ini bertingkah ‘dingin’

Atau Rasyad, pria pemilik restoran Timur-Tengah yang perhatian dan selalu ada untuknya.

 Namun, seperti kutipan Freidrich Nietzsche yang ada di dalam novel,

There is always some madness in love. But there are also always some reasons in madness—hal. 202

Elmi berjuang, sekali lepas kendali kepada sang mama yang over protective pada anak-anaknya dan kembali berjuang demi Elmi yang baru.

***

Di balik struggle-nya Elmi dalam mengobati OCD dan hubungan jarak jauhnya, ada beberapa hal yang saya soroti.

Pada halaman 79, penulis menyabutkan istilah ‘hotel bergengsi’, menurut saya akan lebih enak dibaca dan lebih masuk jika menggunakan istilah ‘hotel berbintang’.

Pada halaman 119, penulis menuliskan “Elmi menjedot-jedotkan keningnya ke meja.” Hal tersebut menurut saya terkesan berlebihan. Mungkin biar pas, menggunakan kata ‘mengetukkan kening ke meja’.

Pada halaman 125, penulis menyebutkan istilah yang asing di telinga saya, sehingga lebih baik apabila diberi catatan kali. Istilah tersebut adalah ‘mafhum’ yang ternyata memiliki arti sudah mengerti. *eh, atau saya aja yang kurang gaul ya? Hihi

Pada halaman 182, saya menemukan keanehan dan tidak adanya korelasi pada kalimat :

“Dari mana kamu tahu aku di sini?”—Elmi.

“Mamamu. Aku sengaja datang untuk menjemputmu ke kantor. Terus mamamu bilang kamu ke makam kakakmu.”—Rasyad.

Jadi, sejak kapan Mama Elmi ada di kantor Elmi? Atau mengapa Mama Elmi tiba-tiba bisa bertemu Rasyad di kantor Elmi?

Pada halaman 216, saya juga dibuat bertanya-tanya tentang apa pekerjaan Dirga sebenarnya., mengingat pada halaman tersebut penulis menuliskan “Mau survey daerah Kenjeran buat KKN awal tahun anak-anak kampus.”

And the last, penggunaan ungkapan ‘Yeah, holly shit’ yang mungkin dimaksudkan penulis biar keren, malah jatuhnya gagal di mata saya. Nggak keren.

Selain beberapa poin yang saya amati di atas, ada satu lagi yang membuat novel ini kurang geregetan. Kenapa?

Karena masalah yang dipilih sebenarnya menarik, yaitu OCD. Penulis juga sudah membahasakan istilah-istilah ilmiah menjadi bahasa sehari-hari, sehingga orang-orang awam seperti saya masih bisa angguk-angguk mengerti. Namun, konflik-konflik kecil yang saling tumpang tindih, seperti kemunculan Firda, hubungan Bu Nurul dan Rasyad membuat saya terpalingkan dari masalah utama yaitu OCD yang diidap Elmi dan hubungan jarak jauhnya.

Well, terlepas dari semua itu, saya jatuh hati banget sama covernya.

Udah lama banget saya nggak baca novel dengan cover super menggemaskan dan memakai warna pastel. Apa lagi, ditambah ilustrasi dua orang yang berjalan berlawanan arah, pas banget untuk menggambarkan hubungan jarak jauh Elmi yang struggle, seperi permainan monopoli.

Tiga dari lima bintang saya berikan untuk novel Distance Blues ini. Novel terunyu yang membuat saya sedikit bernostalgia dengan hubungan jarak jauh beda benua.

Selamat membaca!

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s