[Resensi] Cinta Tak Kenal Batas Waktu

doa

Judul : Cinta Tak Kenal Batas Waktu

Penulis : Wulan Murti

Penerbit : Senja

Tahun : 2016

ISBN : 978-602-391-091-5

Jumlah halaman : 209

***

Kata orang, LDR paling susah adalah LDR beda rumah agama. Bukan LDR antar benua ataupun hanya antar kota.

“Kalian berbeda. Kau tahu kan dia siapa?”—Ila, halaman 52.

***

Ketika membaca novel ini, memori yang dahulu sudah saya jahit rapat, perlahan-lahan terbuka. Perih, namun apa daya, menapak tilas masa lalu memang menyenangkan, sekaligus ia dengan brengseknya membuat kita kembali terluka. Terlebih untuk memori dengan orang terkasih yang jauh, sangat jauh di sana.

Fabian dan Candra, dua orang dengan dua latar belakang yang berbeda, mendambakan mempunyai satu cinta. Fabian dengan mata sipitnya dan Candra dengan mata belonya. Mereka bersepakat untuk mengikat cinta, berusaha menjadikannya satu walaupun berbeda. Tionghoa vs Jawa.

Cinta itu awal-awal memang indah.

Serius deh, bulan-bulan pertama serasa dunia milik berdua. Begitu menggebunya hingga perbedaan yang mendasar itu dikesampingkan untuk sementara.

Aku tak terima ketika hubungan kami mendapat tentangan. Aku menjadi obsesif. Ingin menunjukkan keagungan hubungan kami. Bahwa perbedaan tak dapat mengacaukan cinta kami berdua.—Candra, halaman 62.

Membaca kisah Fabian dan Candra memang bikin saya nostalgia. Rasanya perih-perih gimana gitu. Apalagi saat saya tau bahwa mereka berdua mempunyai nama panggilan untuk pasangan masing-masing.

Bon-bon untuk Fabian
Bin untuk Candra

Awalnya, saya sempat menganggap bahwa memanggil pasangan dengan ‘panggilan sayang’ itu sesuatu yang norak. Namun saat saya berada pada posisi yang sama, hal tersebut justru salah satu cara terampuh untuk menunjukkan sisi ‘care’ kita terhadap pasangan. Jadi, saya norak juga hehehe.

Sudah ya untuk rasa perihnya, mari kita fokus membahas novel ini saja. Lah?

Seperti yang saya sebutkan di awal, kedua tokoh utama saling mencintai, namun terhalang oleh keyakinan yang berbeda. Awalnya, keyakinan yang berbeda tersebut tidak dipermasalahkan oleh keduanya, namun perbedaan yang lebih besar, datang tidak disangka-sangka.

Beda dunia.

Ya, tokoh laki-laki (Fabian) meninggal dunia. Semakin ruwet saja permasalahan yang dialami pasangan tersebut. Sebagai seorang perempuan, saya bisa paham mengapa Candra begitu ‘melow’saat ia teringat pada Fabian. Penggambaran ‘melow’ Candra tidak berlebihan, kurang lebih sama seperti yang saya rasakan dahulu, meskipun berbeda akar penyebabnya. Perempuan bisa terlihat baik-baik saja, namun yakin deh, bila ia kehilangan sesuatu yang ia sayangi, sesungguhnya ia tidak baik-baik saja.

Aku belum dapat lepas dari kenangan tentangnya. Aku terlalu mencintainya. Salahku memang, karena tak menuruti permintaannya untuk tak terlalu mencintainya.—Candra, halaman 43.

Lelah karena terus-terusan mengikuti memori masa lalu dengan Fabian, Candra memilih untuk berdamai dengan keadaan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memulai lembar baru, memulai manata hatinya lagi untuk seseorang yang mungkin akan mengisi hatinya kelak.

Suasana haru kerap digunakan penulis untuk menyihir saya, terlebih saat Candra mengingat masa lalunya dengan menitikkan air mata.

Begitu terhanyut dalam harunya suasanan hati Candra, saya dibuat bete oleh penulis. Thanks ya!

“Fabian, kau, sama-sama orang yang taat, kan? Apa jilbabmu hanya untuk mengusap air mata?” tanya Fabian tajam.—halaman 67

Bagus sih, kalimatnya, ngena juga. Tapi kalo typo kan…bete juga. Typo-nya bukan hanya salah huruf melainkan salah karakter alias salah dalam penyebutan nama.

Seharusnya Joseph, sahabat Fabian, yang mengatakan hal tersebut. Ia bermaksud untuk ‘menyadarkan’ Candra agar tidak larut dalam kesedihan lagi. Namun…sepertinya penulis juga ikut telarut dalam kesedihan, sehingga ia menyebut Fabian sebagai penanya kalimat tajam itu. *hug

Well, selain Joseph, saya juga sempat ingin ‘menampar’ Candra. Saya ingin menyadarkannya agar tidak terjebak pada lubang yang sama.

“Move on boleh sih, tapi kamu bego atau gimana? Kamu malah masuk ke lubang yang sama!” Arintya, pembaca novel.

Akhirnya saya gemas, pingin nampar dan jambak rambut saya. Terlalu gemas pada ending yang ditulis oleh Wulan Murti. Kenapa sih, Can? Kenapa? Kenapa juga cover novel ini kurang ‘nendang’?

Jpeg

*lalu saya menghilang di balik hamparan bunga krisan*

Rate :

Move On!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s