Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah

Jpeg

Judul : Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah

Penulis : Sisimaya

Penerbit : Diva Press

Tahun : 2016

ISBN : 978-602-391-080-9

Jumlah Halaman :264

***

Two roads diverged in a wood, and I-

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

“The Road Not Taken”—Robert Frost

***

Penggalan puisi di atas menjadi pegangan Agus, seorang auditor handal di Jakarta, dalam mengambil keputusan. Baginya, tiga baris terakhir puisi tersebut adalah mantra yang cukup ampuh saat ia merasa ragu dalam penentuan dua pilihan di dalam hidupnya.

Namun tidak kali ini.

Dua pilihan yang dihadapinya sungguh membuatnya bimbang. Pasalnya, ia harus merelakan kariernya sebagai auditor, meninggalkan ibukota dan menapaki tangga baru bersama Mas Bayu, untuk membuat sebuah prabrik gula jawa.

Agus akhirnya memilih untuk pulang. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan dan pengorbanan. Ia pulang karena satu dua hal, di antranya ‘balas budi’ kepada Mas Bayu, kakak angkatnya yang telah banyak membantunya dulu. Pulang ke Manggar Wangi, Blitar, tidak hanya merelakan kariernya, namnun, tambatan hatinya juga perlahan-lahan mundur perlahan.

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

Agus memilih jalan yang ia yakini. Perbedaan-perbedaan yang ia alami dalam hidup membuat sosok Agus kian terasah, mulai dari keahlian berdemokrasi dengan para penderas nira, taktik mencari sumber daya, hingga cinta.

***

Membaca novel ini, membuat saya manggut-manggut. Terlalu banyak pengetahuan yang diberikan penulis kepada saya. Mulai dari cara pembuatan gula jawa, tentang coconut sweetener, cara membuatnya, cara memilih nira yang baik, hingga menjelaskan bagaimana cara kerja dari mesin-mesin pabrik milik Agus dan Mas Bayu bekerja.

Tidak hanya itu, penulis juga mengupas habis mengenai kekayaan alam serta budaya yang ada di Blitar. Kelapa, gula jawa, kerajinan dari kelapa, hingga limbah yang biasanya hanya dipandang sebelah mata. Selain itu, penggambaran masyarakat Manggar Wangi yang taat akan agama juga tak kalah seru, apalagi disisipi dengan konflik-konflik seputar bisnis haram.

Sedikit informasi yang saya dapatkan tentang coconut sweetener atau gula kelapa adalah kadar glisemiknya yang rendah yaitu 35. Di mana glisemik merupakan glukosa yang nantinya akan dimanfaatkan oleh sel-sel tubuh secara langsung, sedangkan fruktosa (biasa di dalam buah) akan digunakan oleh liver untuk proses metabolisme.

Bagi yang penasaran dengan kenampakan coconut sweetener, ini adalah satu dari banyaknya hasil telusuran saya di Google.

sumber : http://www.cocopure.com.au/

***

Bosan? Sama sekali tidak.

Di samping menjelaskan mengenai betapa terjalnya jalan untuk membangun sebuah pabrik coconut sweetener, penulis juga menyisipkan kisah cinta khas anak muda di desa. Cinta dalam diam. Paling menthok hanya pegangan tangan. Aww, itu yang membuat saya geretan.

Namun, kisah cinta khas kota Jakarta antara Agus dan Anggi terasa hambar. Dialog antara keduanya juga hambar. Apa lagi dialog Anggi yang kurang ‘nyess’ sebagai anak yang sejak lahir tumbuh sebagai anak metropolis Jakarta.

Ada satu lagi yang saya acungi jempol untuk penulis. Penulis seakan tidak ada habisnya untuk memberikan kejutan untuk pembacanya. Keberanian penulis untuk sedikit menggambarkan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ‘ciamik’ sekali. Walaupun hanya dengan satu kalimat, namun mungkin akan menampar beberapa pihak.

“Baginya, terus bertahan di BUMN yang korup membuat keluarganya tidak akan mendapatkan berkah.”—Hal. 50.

***

Untuk cover, rasanya kurang pas jika disandingkan dengan betapa struggle kehidupan seorang Agus yang merupakan tokoh kunci dari cerita ini. Menurut saya, warna pastel identik dengan kisah menye-menye, sangat berlawanan dengan Agus yang bekerja keras, banyak akal dan inspiratif. Apa lagi warna pastel yang dominan adalah pink dan dusty baby blue (duh, warna apa ini?) mungkin akan cocok dengan alur dan cerita apabila menggunakan warna yang lebih ‘maskulin’ seperti navy blue atau hijau tua.

Tapi tidak masalah, toh saya lebih banyak nikmati ceritanya bukan hanya cover.

Terakhir, saya sempat ‘menculik’ beberapa kutipan sederhana yang sayang banget untuk dilewatkan.

“Sesuatu akan terasa berharga justru ketika tidak ada.”—Hal. 23

“Kalau kamu selalu ingat bahwa asalmu itu hanya dari setetes air, kamu tidak akan pernah sombong.”—Hal. 17

Selamat membaca! Selamat berjumpa dengan manis pahitnya gula jawa!

Rate : 4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s