Kasta, Kita, Kata-Kata

29345298

sumber : goodreads.com

Judul : Kasta, Kita, Kata-Kata

Penulis : Ardila Chaka

Penerbit : PING

Tahun : 2016

ISBN : 978-602-296-183-3

Jumlah halaman : 188

***

Cinta bukan tentang apa, siapa, kapan, di mana dan mengapa. Cinta ialah tentang bagaimana. Bagaimana kasih sayang kedua insan menjadi penutup bagi kekurangan masing-masing.—Hal. 187

***

Blurb

Berawal dari hati yang terusik, Galih memperjuangkan sesuatu yang bukan kewajibannya untuk meyakinkan seorang gadis bahwa hidup bisa lebih indah dari senja di Kalibiru. Berawal dari rasa terima kasih, sang gadis penikmat senja berhasil merobohkan dinding keterbatasan. Melalui pena, ia merangkai kata dan menggoreskan cerita dalam lukisan. Sehingga, surat-suratnya menjadi pelecut semangat bagi Galih untuk mengoyak segala ketidaksempurnaan. Dari sebuah dataran tinggi di Yogyakarta, kisah ini bermula.

Cinta ialah tentang bagaimana kekurangan bisa menjadi sumber kekuatan.

***

Novel ini adalah novel dengan cerita cinta paling sederhana yang pernah saya baca. Kisah cinta tersebut berbalut dengan perjuangan untuk mendapatkan keadilan, bahwa setiap orang berhak dan dapat belajar. Meskipun mereka mempunyai keterbatasan.

Ajeng, gadis manis yang susah berbicara dengan lancar, menghadapi kenyataan bahwa orang-orang di sekitarnya menganggap dirinya tidak normal. Bahkan oleh adik kandungnya sendiri, April. Ajeng bukannya tidak normal, ia hanya tidak seperti orang kebanyakan, yang mampu menyusun kata-kata dan berbcara dengan lancar.

Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Agaknya ungkapan tersebut benar adanya di kehidupan Ajeng. Galih, anak pemilik ladang tempat kedua orangtua Ajeng bekerja, menuntunnya untuk keluar dari ‘ketidaknormalan’ yang dipandang orang-orang darinya. Galih, dan seorang anak KKN, mengajari Ajeng membaca dan menulis. Tidak ada terlambat untuk belajar. Ajeng pun demikian. Meskipun ia baru mengenal huruf dan angka di usianya yang menginjak enam belas tahun, ia sedikit demi sedikit akhirnya bisa membaca dan menulis.

***

Saya suka sebal dengan orang-orang yang ‘nyentrik’ seperti masyarakat sekitar Ajeng. Mereka berpendapat bahwa Ajeng mendapatkan tulah, atau kemalangan. Mereka kemudian menyarankan agar Ajeng dibawa ke dukun atau orang pintar. Tidak berhenti sampai di situ, pikiran ‘nyentrik’ mereka juga kerap membanting perasaan Ajeng. Seperti membandingkannya dengan April yang bisa berbicara dengan normal dan menyematkan istilah ‘susah laku’ padanya. Hemm…masyarakat ya…

Dari novel ini saya juga mendapatkan pengetahuan baru. Bahwa ‘gagu’ atau kesulitan dalam berkata-kata bukanlah penyakit. Namun merupakan gangguan berbahasa. Dalam kasus Ajeng, gangguan bahasa tersebut dimanakan dengan Afasia.

Afasia merupakan adanya kerusakan di otak kiri sehingga seseorang kehilangan kemampuan untuk memproses bahasa. Ada dua jenis afasia, yaitu broca dan wernicke.—Hal. 49

***

Konflik yang dibuat oleh penulis juga sederhana, seperti apa yang kita temukan di kehidupan sehari-hari. Ajeng dan Galih, keduanya memiliki konflik yang hampir sama. Keluarga, kata-kata dan akhirnya cintalah yang menyatukan mereka. Penggambaran sosok Ajeng jga selayaknya gadis desa, tidak macam-macam dan berlebihan. Terutama untuk gadis desa di wilayah Jogja. Sikap berontak Galih juga nggak keluar dari norma-norma, saya berani menyebut ‘masih sopan’.

Oiya satu lagi, adanya setting sebuah tim KKN di Kalibiru juga menambah daya tarik saya. Saya jadi sedikit ada gambaran tentang KKN yang akan saya jalani nanti (sedikit curhat).

Mengenai judul yang serba ‘K’ menurut saya nggak sembarangan ambil.

Kasta. Ajeng dan Galih berbeda kasta. Ajeng anak seorang penggarap lahan, sementara Galih merupakan anak dari si pemilik lahan, yang dikategorikan sebagai orang berada di desanya. Pertemanan mereka awalnya ditentang oleh orangtua Ajeng, yang merasa tidak pantas berteman dengan anak pemilik kebun yang mereka kerjakan. NAmun, karena kebaikan dan kesopanan Galih, orangtua Ajeng akhirnya luluh juga.

Kita. Menurut saya, ‘kita’ dalam konteks tersebut adalah Ajeng dan Galih. Yang sama-sama ‘terikat’ tali pertemanan. Galih lah orang pertama yang menganggap Ajeng sebagai teman. Yang kemudian sedikit memberikan terang di kehidupan Ajeng.

Katakata. Ajeng dan Galih, keduanya mempunyai hal spesial terkait dengan kata-kata. Melalui kata-kata itulah mereka sedikit demi sedikit mengubah ‘aku’ dan ‘kamu menjadi ‘kita’ hingga akhirnya mereka meruntuhkan tebalnya dinding kasta antar kedua keluarga.

***

Dunia memang penuh kejutan. Begitu pula dengan dunia Ajeng dan Galih. Penulis seakan memberikan ‘kejutan’ kecil pada kehidupan mereka berdua. Ada yang semakin membaik dan ada yang dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Endingnya juga lepas dari dugaan saya. Karakter yang di awal hanya berperan sebagai perantara, yaitu Mbak Lia, justru turut serta dalam ending.

Untuk tambahan, mungkin sebaiknya pada beberapa kalimat yang ditulis dengan bahasa Jawa diberi catatan kaki. Karena, mungkin saja pembaca tidak paham dengan bahasa Jawa yang digunakan dan harus berhenti sejenak untuk menerka atau googling maksudnya apa. Selain itu, mungkin akan lebih ‘hidup’ lagi apabila gambar-gambar hasil karya Ajeng juga divisualisasikan ke dalam novel.

Well, saya mendapatkan satu pelajaran berharga bahwa belajar itu perlu dan tidak mengenal usia. Seperti halnya yang dilakukan Ajeng. Ia belajar dan berusaha untuk melawan keterbatasannya.

Selamat membaca!

Rate : 3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s