Interval – Sisa Luka yang Kalian Tinggalkan

Judul : Interval – Sisa Luka yang Kalian Tinggalkan

Penulis : Diasya Kurnia

Penerbit : PING

Tahun : 2016

ISBN : 978-602-391-059-5

Jumlah Halaman : 176

***

Blurb

Bagaimanapun, aku hanya gadis SMA. Selayaknya, saat ini aku sedang merasakan asmara.

Tapi justru seakan semua awan mendung dikirim dalam mas kehidupan yang katanya penuh warna ini.

Persaingan menjadi ketua ekskul tari di sekolah menyeret statusku sebagai penari jathil keliling yang dianggap rendah. Rey, satu-satunya sahabatku, tiba-tiba menjauh. Dan seakan itu belum cukup, Kakek mengusir Carl, guru baru yang menjadi idola di sekolah, hanya karena dia orang asing.

Tidak sekali aku berpikir bahwa tentu hidupku akan berbeda jika orang tuaku bersedia tetap di sisi.

Tampaknya, waktu tidak selalu menjadi obat mujarab bagi luka. Bahkan setelah jeda yang lama, beberapa hal dari masa lalu masih bergelayut. Termasuk pertanyaan kepada orang tuaku: “Kenapa kalian memilih pergi?”

Tapi, semakin dekat dengan tujuan, aku bimbang. Benarkah aku ingin tahu jawaban mereka?

***

Kinanti, gadis penari jathil tersebut mengalami lika-liku kehidupan yang mungkin bisa dibilang unik. Ia tak pernah tau dimana orangtuanya dan bahkan ia masih bertanya-tanya, mengapa ia ditinggalkan sendiri, bersama sang kakek. Hidup sepertinya masih berliku bagi Kinanti, saat profesinya sebagai penari jathil tersebut dianggap ‘rendah’ oleh teman sekolah bahkan para tetangga. Untung saja, Rey, sahabatnya, masih setia di sisinya, tempat mencurahkan keluh kesah serta berbagi cerita.

Perlahan hidup Kinanti berubah, semenjak kedatangan Carl, pria asing dari Amerika yang menjadi volunteer untuk mengajar di sekolah Kinanti. Rey, memilih untuk menjaga jarak dengan Kinanti, meninggalkan gadis berwarna rambut tak biasa itu dalam tanda tanya.

Singkat cerita, Kinanti beranjak menjadi wanita muda yang tangguh. Ia kuliah dan berhasil mendapatkan posisi yang lumayan penting pada sebuah perusahaan. Rey yang dulu berjarak darinya, kini mulai kembali normal, bahkan, ialah yang membantu Kinanti untuk menemukan kedua orangtuanya di Negeri Paman Sam, Amerika.

Amerika, Negara adidaya tersebut memberikan kejutan-kejutan yang terduga untuk Kinanti. Sedih, senang, lega dan kecewa, semua dirasakan Kinanti selama beberapa minggu disana. Pertemuan dan berpisahan membawa Kinanti pada sebuah fakta-fakta baru tentang kehidupan dan cinta.

Ah, Kinanti, tangguh benar dirimu. Berjuang seorang diri untuk menemukan orangtuanya di Amerika, dan menyaksikan orang-orang yang dikasihinya bersemayam di liang lahat, seakan membentukmu menjadi Kinanti yang tak hanya lihai menari jathil.

***

Pertama kali mengetahui nama tokoh utama dalam cerita ini, saya langsung jatuh cinta. KINANTI. Nama tersebut menurut saya Indonesia banget! Sangat pas dengan kultur budaya yang menjadi setting cerita yaitu kota Ponorogo. Tentu saja, Ponorogo dengan tari reognya yang khas juga tak luput dimasukkan oleh penulis ke dalam cerita.

Perpaduan antara seni reog dan teka-teki orangtua Kinanti disambugkan dengan cara yang pas. Nggak berlebihan, sehingga saya nggak melewatkan satupun adegan tiap adegan. Melalui novel ini saya juga mendapatkan sebuah pesan moral, yaitu janganlah memandang rendah suatu profesi, apapun itu. Karena kita sebenarnya tidak akan pernah mengetahui apa yang mereka lakukan, sebelum kita benar-benar pada posisi mereka. Penari jathil juga seniman, bro! Jangan diremehkan!

Saya juga suka dengan cover buku ini. Tekstur remasan kertas ciamik banget untuk menggambarkan kusutnya kehidupan Kinanti, yang sedikit demi sedikit diuraikan oleh penulis dengan halus.

Perjalanan cinta Kinanti yang tak mulus juga natural. Suka deh dengan ending yang dibuat oleh penulis. Ihiy…sepertinya ada yang kasmaran dengan teman lama!

Oh iya, ada satu poin yang membuat saya harus bolak-balik halaman agar tidak gagal paham. Namun, jatuhnya, saya gagal paham juga.

Pada halaman 26, di sana tertulis “…aku tak begitu bodoh dibanding anak lain, kecuali dalam bidang bahasa Inggris.” Dari sana, saya simpulkan bahwa Kinanti cukup menguasai bahasa Inggris.

Namun pada halaman 47, tertulis, “….nilaimu tidak begitu buruk meski kamu tidak begitu mahir bahasa Inggris.”

Bukankah hal di atas saling bertolak belakang, ya? Saya gagal paham *sungkem*.

Well, novel ini cukup komplit karena meramu budaya, perjuangan, cinta, dan pesan moral. Menurut saya, salah satu cara untuk melestarikan budaya dapat menggunakan cara ini, diramu menjadi sebuah tulisan. Meskipun, sampai halaman terakhir ludes saya baca, saya masih belum paham mengapa penulis memilih ‘Interval’ sebagai judul novel ini.

Selamat membaca!

Rate : 3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s