DIJUAL : KEAJAIBAN

Jpeg

Judul : Dijual Keajaiban

Penulis : Gao Xingjian, Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, R. K. Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris.

Penerbit : Diva Press

Penerjemah : Tia Setiadi

Tahun : 2015

Cetakan : Pertama

ISBN : 978-602-391-049-6

Jumlah halaman : 228

***

Saya memperoleh ‘rasa’ yang lebih-kurang sama. Ini merupakan indikasi bahwa hasil terjemahan Tia Setiadi akurat tidak hanya pada tataran bahasa.—Bernard Batubara, penulis.

***

Dijual Keajaiban merupakan kumpulan cerpen pilihan dari pengarang besar Asia. Terdapat 9 cerpen di dalamnya, yang masing-masing mempunyai cara tutur khas penulisnya.

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan prolog yang ditulis oleh Bernard Batubara mengenai pentingnya peran seorang penerjemah di dalam sebuah karya terjemahan. Karena penerjemah tidak sekedar mengenai bahasa, melainkan mempertahankan ‘rasa’ yang ditulis oleh penulis, agar pembaca juga mendapatkan ‘rasa’ yang sama saat membaca karya terjemahan.

Saya setuju dengan Mas Bernard Batubara mengenai tugas penerjemah. Keren aja sih, bisa tetap mempertahankan taste asli dari teks dan dibawakan dengan bahasa yang berbeda. Salut!

***

Oke, kembali ke Dijual Keajaiban, ya! Di dalam kumpulan cerpen ini terdapat 9 judul cerpen yang ciamik! Daftar judul cerpen yang ada pada Dijual Keajaiban bisa teman-teman lihat di bawah ini :

  1. Di Sebuah Taman (Gao Xingjian)
  2. Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai (Khairiyah Ibrahim as-Saqqaf)
  3. Qismati dan Nasibi (Naguib Mahfouz)
  4. Memandang ke Luar Jendela (Orhan Pamuk)
  5. Anjing Buta (R. K Narayan)
  6. Di Selatan Dua Lelaki Tua India (Salman Rushdie)
  7. Dijual: Keajaiban (Taufiq el-Hakim)
  8. Tujuh Jembatan (Yukio Mishima)
  9. Nampan dari Surga (Yusuf Idris)

Dari kesembilan cerpen, ada dua cerpen yang membuat saya melongo. Tidak habis pikir. Cerpen tersebut adalah Memandang ke Luar Jendela dan Dijual: Keajaiban.

Memandang ke Luar Jendela

Cerpen ini menceritakan tentang kehidupan kakak-beradik yang hobi main kartu. Mereka hidup harmonis bersama Mami, Ayah dan keluarga mereka di sebuah apartemen. Namun pada suatu hari, saat hari suntik siswa sekolah, si bungsu pulang ke rumah lebih awal, dan menemukan si Ayah tengah mengisi koper-kopernya di kamar. Kemudian si Ayah merengkuhsi bungsu tersebut dalam pangkuannya, sembari duduk memandang jendela. Sendu sekali, suasananya.

“Tatkala ayahku mengangkatku dari pangkuannya dan mengambil kopernya, aku berujar, “Jangan pergi, Ayah.” Dia menciumku sekali lagi, dan lalu pergi.”—Hal. 79

Akhirnya kedua kakak-beradik itu hanya tinggal dengan ibunya. Suatu hari, si ibu dan kaka-beradik itu hendak tinggal dengan nenek mereka namun hanya tolakan yang mereka dapat. Ada unsur kekecewaan saat mereka meninggalkan rumah nenek.Mereka akhirnya kembali ke apartemen, namun saat hendak menyebrang jalan di depan apartemen yang ramai dengan bus-bus dan truk…

“Aku berpaling pada ibuku, bertanya-tanya mengapa dia belum meraih tangan kami dan menyebrangkan kami ke sisi lain jalan, dan melihat bahwa ibuku sedang menangis diam-diam.”—Hal. 104.

Orhan Pamuk sukses banget mengayun-ayunkan perasaan saya hanya dengan satu paragraf terakhir. Ada dua hal yang bergelayut di pikiran saya, dua-duanya sama buruknya. Apakah si ibu sengaja meninggalkan anak-anaknya di jalan saat jalan tengah ramai. Ataukah si ibu sangat terpukul dengan dua penolakan yang dilakukan orang-orang terkasih di sekitarnya.

Dijual: Keajaiban

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang rahib atau pendeta yang dianggap mempunyai berkat dari Tuhan dan mampu memberi keajaiban bagi orang-orang di sekitarnya. Suatu hari datanglah seorang lelaki, ia berteriak bahwa istrinya yang sekarat membutuhkan berkat sang rahib. Dengan tergesa, mereka menemui wanita tersebut. Dan hanya dengan usapan dan doa, wanita yang tadinya sekarat, bisa segar kembali. Hal yang sama terjadi pada seorang tua dan pemuda cacat. Penduduk di desa tersebut akhirnya ‘memberikan’ beberapa pounds sebagai tanda ‘terima kasih’ dan memaksa rahib itu untuk menginap. Rahib tersebut akhirnya menginap selama 9 hari dan memutuskan untuk pulang setelahnya. Namun, para penduduk bertingkah ‘aneh’. Mereka memaksa untuk mengantarkan sang rahib sampai tujuan dengan alasan ‘banyak begal di jalan’. Sepanjang perjalanan sang rahib banyak bercerita dengan penduduk yang menemani perjalannya. Hingga pada perbatasan desa, sang rabih tidak menemukan secuil pun batang hidung mereka. Sang rahib pulang di sambut sukacita keluarganya. Mereka bersyukur sang rahib bisa pulang dengan selamat. Mereka mengatakan uang yang mereka berikan tidaklah seberapa dibandingkan dengan keselamatan sang rahib.

“Sungguh, hal itu menjadi jelas sekarang…Orang mati itu, lelaki sakit itu, dan pemuda cacat itu yang meminta berkahku! Lihai sekali!”—Hal. 153

Ckckck, Taufiq el-Hakim pada awal cerita menyakinkan sekali bahwa memang ‘benar-benar’ ada orang-orang sekarat yang membutuhkan pertolongan sang rahib. Sial, saya juga ditipu, nih! Sama kesalnya ketika saya tahu bahwa orang suci pun tak luput dari mereka yang ‘mengaku’ membutuhkan pertolongan.

***

Dijual Keajaiban bukan merupakan karya terjemahan yang pertama kali say abaca. Sebelumnya saya pernah membaca karya terjemahan dari R. Tagore, Sir Arthur Conan Doyle, Allan Poe dan saya lupa karya milik siapa lagi. Semuanya mempunyai ‘rasa’ yang berbeda-beda. Jujur saja, dengan membaca karya terjemahan milik penulis dunia menambah koleksi harta karun di dalam pikiran saya. Semakin beragam dengan berbagai warna.

Selamat membaca!

Rate : 4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s