Bapak, kapan kita akan berdamai?

Jpeg

Judul : Bapak, kapan kita akan berdamai?

Penulis : Regza Sajogur

Penerbit : De Teens

Tahun : 2015

Jumlah halaman : 264

ISBN : 978-602-0806-37-2

***

Blurb

Pakk!

Tangan kasarnya berhasil mendarat di pipiku. Perih.

“Kapan sikap pembangkangmu itu bisa berubah?”

“Sampai Bapak juga bisa melunak terhadapku,” jawabku.

Pukulan kedua mendarat di perutku.

Marolop kecil tidak mngerti, mengapa baju Natalnya berbeda dengan milik kakak-kakaknya. Ia tidak mengerti, mengapa bapaknya tidak pernah mengajak bercanda ria. Ia tidak mengerti, mengapa harus menerima hantaman hanya karena bermain di bawha hujan.

Hingga akhirnya, Marolop berhenti berusaha mengerti.

Tidak peduli lagi dengan alasan kebencian bapaknya, Marolop yang masih remaja memilih pergi, jauh ke Kota Bogor.

Tanah rantau mengajarkan banyak hal. Namun, masa lalu tetap mengetuk sela-sela waktu Marolop, memaksa kembali masuk. Atau mungkin sebenarnya perasaan itu memang tidak pernah keluar. Perasaan tidak diterima oleh bapaknya sendiri sudah bercokol kuat dalam diri, membuatnya jadi pemuda yang benci sekaligus iri melihat kasih sayang bapak kepada anaknya.

Hingga akhirnya, alasan kebencian bapaknya terkuak. Dan Marolop harus belajar makna kedewasaan.

***

Kata orang, kasih ibu itu sepanjang masa.

Kalau kasih bapak?

Sepanjang masa juga bukan? Namun hal tersebut tidak pernah dirasakan oleh Marolop Gurning. Seorang anak berdarah Batak yang dari dari kecil belum merasakan kasih sayang seorang bapak. Sang bapak, sedari ia kecil kerap memukul, memarahi dan berbagai tindakan yang belum mencerminkan kasih sayang seorang bapak pada anaknya. Sampai akhirnya Olop tidak tahan dan memutuskan untuk merantau dari tanah kelahirannya di Desa Ponjian di Sumatera Utara menuju Bogor, Jawa Barat.

***

Toko utama di dalam novel ini adalah Marolop, atau yang kerap disapa Olop. Sosok Marolop sepenangkap saya adalah sosok yang pekerja keras namun gampang tersentuh dengan beberapa hal, apalagi yang menyangkut ibu dan masa lalunya. Salah satunya adalah saat ia membaca surat yang dikirimkan oleh Mamaknya, mata Marolop tak lepas dari air mata.

Karena tokoh utama adalah orang Batak, maka setiap percakapan di antara tokoh utama dengan orang lain pun ada yang menggunakan bahasa batak dan dan bahasa Indonesia dengan aksen batak. Menariknya adalah, meskipun ditulis dalam bahasa Indonesia, percapakapn orang-orang Batak tersebut selalu saya baca dengan aksen batak pula. Hahaha. Sepertinya saya sudah terbawa akan aksen batak ini.

“Bah, jelek kali kau kuetengok pagi ini…” Hal. 116

***

Alur yang digunakan penulis adalah perpaduan antara alur mundur dan alur maju. Pertama kali saat membaca, saya diajak untuk bertegang-tegang ria (?) karena ada yang hendak menikahi seseorang. Kemudian saya diputarkan kembali memori-memori masa kecil yang kurang begitu menyenangkan tentang seorang  bapak. Penulis juga memberikan ‘kejutan’ tentang mengapa selama ini bapak Marolop sangat membenci anaknya itu.

Pertanyaan saya adalah ‘Kok ada ya, (maaf) bapak yang membenci anaknya sendiri dengan alasan demikian?’

Tetapi itulah dunia, penuh dengan misteri didalamnya. Eyaa

***

Satu hal yang menambah pengetahuan saya akan budaya Batak adalah, orang-orang Batak di tanah rantau itu rasa tolong menolongnya masih kental, sama seperti yang coba dituliskan penulis melalui perjalanan Marolop muda ke pulau Jawa dengan beberapa orang Batak yang mengasihinya.

  1. Marolop dengan sopir truk yang memberinya sarung kumal di Kabanjahe.

  2. Marolop dengan sopir truk yang memberinya tumpangan ke pulau Jawa.

  3. Marolop dengan seorang Boru yang memberinya tumpangan menginap semalam.

  4. Marolop dengan Tulang Sihombing yang memberinya pekerjaan di bengkel motor dan menganggapnya seperti anak sendiri.

***

Well, dari perjalanan hidup Marolop Gurning, saya mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang berharga. Jangan menyerah apabila meninginkan sesuatu, sesulit apapu itu. Selalu berusaha dan mengejarnya sampai dapat. Masa lalu memang terkadang membayangi, namun jangan sampai kita kalah dengan masa lalu.

“Karena masa lalu tidak lantas membuatmu tenggelam dan akhirnya terpuruk.”
—Koko Chris, hal. 159

Happy reading!

Rate : 4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s