7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe

Jpeg

Judul : 7 Kisah Klasik – Edgar Allan Poe

Penulis : Edgar Allan Poe

Penerjemah : Dion Yulianto dan Slamat P. Sinamba

Penerbit : Diva Press

Tahun : 2015

ISBN : 978-602-255-968-9

Jumlah halaman : 204

***

Blurb

Edgar Allan Poe terkemuka karena memberikan warna baru dan lebih gelap dalam kesusastraan Amerika yang kala itu dikuasai genre romantic. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena dunia telah lama mengenalnya sebagai master dari kisah-kisah pendek bernuansa gelap, gotik dan kental akan nuansa horror.

Baginya, teror dan horror berasal dari jiwa. Poe percaya teror adalah bagian dari kehidupan dank arena itu subjek yang sah untuk sastra.

Karakter manusia memang tidaklah sederhana, tidak melulu hitam putih. Ada sisi hitam kelam yang berusaha menyeruak dalam diri manusia. Poe lewat teknik penulisannya yang khas dan rumit, seolah hendak mengajak pembaca untuk mengupas lapis demi lapis karakter dalam diri manusia.

Selamat datang di dunia gotik ala Edgar Allan Poe. Mari membaca, Poe akan mengajak Anda berpikir ulang tentang diri kita sejatinya sebagai manusia.

***

Sebelum membahas buku ini, mari, saya perkenalkan dulu dengan Mr. Poe.

Pada bagian tentang penulis di halaman paling belakang, tertulis bahwa Edgar Allan Poe merupakan salah satu penulis besar dari Amerika Serikat yang lahir pada 19 Januari 1809. Karya pertama Poe yang menjadi langkah awalnya di dunia literatur adalah Manuskrip di Dalam Botol.

Menurut informasi dari poemuseum.org, nama Poe mengingatkan pada seorang pembunuh dan lelaki kejam, seorang wanita misterius yang bangkit dari kubur. Karya-karya Poe yang terkenal lainnya adalah The Tell-Tale Heart, The Raven, dan The Fall of the House of Usher.

***

Ini adalah karya Poe yang saya baca untuk pertama kali. FYI, saya selalu membaca bagian ‘tentang penulis’ terlebih dahulu untuk menebak bagaimana saya akan dibawa penulis ke dalam ceritanya. Eyaa

Ekspektasi awal saya adalah saya akan membaca kisah-kisah seru yang akan membuat saya berpikir karena pada bagian tentang penulis terdapat informasi bahwa Poe mulai banyak menulis kisah-kisah detektif.

Ternyata TIDAK.

Cerita pertama dengan judul Kucing Hitam, benar-benar meruntuhkan ekspektasi saya. Poe menulis dengan kata ganti orang pertama atau aku. Cerita dibuka dengan manis, yaitu penggambaran seorang pria yang sejak kecil menyukai binatang. Dari kecil ia memelihara berbagai binatang di rumah, mulai dari burung, ikan mas, anjing, monyet, kelinci dan akhirnya seekor kucing gemuk berbulu hitam yang ia beri nama Pluto.

Tokoh ‘ia’ juga merasa beruntung karena ia memiliki istri yang juga penyayang binatang. Untungnya, sang istri tidak percaya akan takhayul bahwa kucing hitam sebenarnya penyihir yang menyamar. Mereka hidup dalam kasih sayang bersama dengan hewan-hewan peliharaannya.

Namun semua itu berakhir saat tokoh ‘aku’ mulai gemar mengonsumsi alkohol. Tempramennya berubah dan sering marah pada hal-hal kecil. Bahkan tidak jarang, sang istri juga turut merasakan pukulan tangannya.

Hingga, pada suatu  malam, saat ia pulang dengan keadaan mabuk, ia menemukan Pluto yang sudah tua lalu menganggunya. Pluto tidak menanggapinya lalu tokoh ‘aku’ menjadi geram dan mencongkel salah satu mata kucing berwarna hitam itu dengan pisau lipat. IYA, MATANYA DICONGKEL! Kejam, kan? Tidak hanya itu, ia juga menjerat kucing hitam itu dengan sebuah tali dan menggantungkannya di pohon belakang rumah.

Lalu sebuah peristiwa mengubah segalanya. Saat rumahnya kebakaran, ia menemukan gambaran kucing dengan jeratan tali di lehernya pada dinding rumah bekas kebakaran. Ia merasa diteror oleh kucing hitam itu.

Kebiasaan minum tokoh ‘aku’ tidak juga berubah, ia masih terus minum meskipun harta bendanya habis dilalap api. Suatu malam ia menemukan kucing hitam gemuk yang mirip dengan Pluto, lalu membawanya pulang. Lagi, ia bertindak keji dengan kucing hitam keduanya itu, karena ia merasa diteror dan dihantui perasaan bersalahnya pada Pluto. Awalnya ia hendak membunuh kucing itu dengan kapak, namun sialnya, justru sang istri yang terkena kapaknya tepat dibagian kepala. Untuk menghilangkan jejak, ia menguburkan sang istri di tempat yang sungguh tidak manusiawi. Hingga, semuanya terungkap saat polisi datang ke rumahnya untuk melakukan pemeriksaan. Suara rintihan dan jeritan membuat tokoh ‘aku’ menemui ajalnya untuk dipertanggungjawabkan di depan pengadilan. Suara rintihan itu pula yang membawa polisi untuk merobohkan salah satu dinding dan menemukan sebuah jasad perempuan berlumuran darah dengan seekor kucing hitam hidup di atasnya.

***

NGERI!

Itulah perasaan saya saat baru menyelesaikan cerita pertama. Saya bergidik karena membaca buku ini pada malam hari. Sangat tidak disarankan untuk membacanya di malam hari, ya! Nanti nggak bisa tidur.

Hal tersebut juga yang membuat saya sangat hati-hati untuk membaca kisah Poe selanjutnya. Saya membaca dengan penuh rasa penasaran, ‘kejutan’ apa lagi yang akan Poe berikan.

***

Selain cerita Kucing Hitam di atas, ada enam judul lainnya yang melengkapi kisah penuh teror di buku ini. Keenam judul cerita tersebut adalah :

  1. Jantung yang Berkisah
  2. Kumbang Emas
  3. William Wilson
  4. Potret Oval Seorang Gadis
  5. Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher
  6. Obrolan dengan Sesosok Mumi

Dari keenam cerita di atas, saya paling suka cerita dengan judul Kumbang Emas. Kumbang Emas merupakan cerita penuh teror dan tindakan keji namun disisipi dengan cerita detektif yang membuat saya ‘mikir’. Poe menyisipkan kode-kode yang khas seperti pada cerita detektif pada umumya. Rumit pokoknya!

***

Cerita – cerita karya Poe memang syarat akan teror dan kisah horror. Rasa deg-degan selalu menyertai saya saat membaca setiap ceritanya. Apalagi didukung dengan cover yang nggak kalah ‘horor’ dan layout halaman yang nggak banyak tingkah. Hehehe. Layoutnya sesuai dengan taste klasik yang sederhana dan membuat pembaca seperti saya berkonsentrasi penuh pada cerita.

Well, saya agak terganggu pada bagian blurb. Di sana lebih menjelaskan bagaimana karya-karya Poe itu. Menurut saya, lebih baik apabila pada blurb di tulis penggalan salah satu cerita Poe, agar membuat pembaca lebih penasaran. Toh, penjelasan mengenai karya-karya Poe akan didapat pada halaman awal dan bagian tentang penulis, kan?

Selain itu, terjadi kesalahan penulisan nama. Agak menyimpang sedikit sih dengan isi, tapi memang terjadi kesalahan penulisan penerjemah pada halaman 4. Di sana tertulis Diyan Yulianto, padahal setahu saya, seharusnya Dion Yulianto. Hehehe. Rasanya kurang sopan kalau nama sang translator yang turut membantu pembaca merasa deg-degan itu, salah dalam penulisan.

***

Sekali lagi saya sarankan ya, never read this book in the middle of nite! Apalagi buat penaku seperti saya ini hihi. Tapi kalau kalian mau coba, silahkan saja. Saya jamin, anda akan terbayang-bayang bagaimana sosok kucing yang tanpa bola mata tergantung di batang pohon atau tubuh yang terpotong-potong di lantai rumah.

Selamat membaca!

Rate : 3/5

Iklan

2 thoughts on “7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s