Wrecking Eleven – Kick n Rusuh

IMG_2205

Judul : Wrecking Eleven – Kick n Rusuh

Penulis : Haris Firmansyah

Penerbit : PING!!!

Tahun : 2015

Jumlah halaman : 180

ISBN : 978-602-279-179-9

Catatan : Novel romance komedi gokil campur sepak bola!

***

Blurb

Sepak bola menjadi titik balik kemampuanku setelah entah sudah berapa ratus kali kalah dalam pertarungan Tazos, Bayblade, maupun Tamiya. Setelah menemukan passion itu, aku harus berjuang untuk bersama Bag Jep demi mencairkan tim sepak bola Garuda Baja yang sudah setahun dibekukan. Jatuh bangun kami menghidupkan tim kembali…

Duh, kok jadi kayak lagu.

Persatuan dan kesatuan kami diuji ketika kekalahan dan hal lain menghampiri. Rupanya, strategi dan kemampuan saja tidak cukup. Kerja sama sangat dibutuhkan. Apalagi setelah sebagian besar anggota ada yang dapat dapat kontrak iklan sosis dan kacang atom, kumat main pS, milih nemenin ceweknya, Piala Wali Kota makin erat didapat.

Kami adalah sekumpulan pejuang di lapangan.

“Di lapangan, kita satu tim. Di luar lapangan, kita sahabat!”

***

Masih inget anime ‘Captain Tsubasa’ nggak?

Itu lho, yang sempat hits waktu aku masih SD *lah?

Opening anime ini hits banget, bahkan saya sampai sekarang masih apal!

“Lari…lari…lari…tendang dan berlari! Berjuanglah, Tsubasa, pahlawan kita~~”

Nih, silahkan dengerin dulu hihi.

Seto, dari kecil selalu terombangambing mengikuti tren mainan. Mulai dari kartu Tazos, Bayblade, hingga Tamiya. Sayangnya, ia juga selalu ketinggalan untuk sekedar mengikutinya. Saat teman-temannya tengah gandrung Bayblade, ia malah baru punya kartu Tazos. Saat mereka pindah ke Tamiya, Seto malah baru punya Bayblade. Hhhh Seto…

Tapi, untuk kali ini, Seto menetapkan pilihan dan tidak akan terombang-ambing lagi. Ia akhirnya menjatuhkan pilihannya di sepak bola. Sejak masuk SMP, ia sudah bergabung di tim sekolah. Menginjak SMA, ia bersama Bang Jep, berusaha mengaktifkan kembali ekskul sepak bola yang sempat dibekukan oleh pihak sekolah hingga berambisi untuk merebut kembali Piala Wali Kota.

***

Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa novel ini adalah novel dengan berbagai ramuan. Ramuan dari romance, komedi, gokil dan dicampur lagi dengan sepak bola. Mmm tapi memang saya akui, ramuan komedi dan gokil lebih kuat daripada yang lain. Jadi, nggak ada yang namanya bahasa kaku, formal dan membosankan. Bhay!

Kebetulan, sewaktu saya membaca novel ini, saya lagi suntuk sama proposal skripsi *cie curhat* jadi, begitu baca jokes yang sebenernya mmm agak garing, saya senyum-senyum sendiri. Lumayanlah, bisa senyum dan sedikit melepas penat. Seperti ini nih, jokes yang membuat saya hhhh dan akhirnya senyum-senyum sendiri.

“Nama gue Sebastian. Cukup panggil Tian. Nggak usah panggil gue Kak Tian atau Bang Tian. Walaupun seangkatan dengan Bang Jep, gue masih seumuran kaliam, kok. Iya, gue telat kecepetan masuk SD.”—Tian.

 ***

Walaupun ini adalah novel komedi, namun ada satu adegan yang menurut saya kurang pas dan semestinya diganti karena kurang sopan. Adegan tersebut ada pada halaman 64.

“Tapi, Pak. Anggotanya cuma kurang satu orang lagi. Beri kami waktu sedikit lagi, ya. Aku mohon.” Bang Jep cium-ciumin punggung tangan Pak Kepsek.

“Tidak bisa, Jefry. Maafkan saya…”Pak Kepsek.

Mengapa saya sebut kurang sopan?

Karena penggunaan kata ‘Aku’ oleh tokoh Jefry yang merupakan seorang murid. Tidak sopan rasanya jika seorang murid menggunakan kata ‘Aku’ saat berbicara dengan guru apalagi dalam hal ini adalah Kepala Sekolah. Dan sebaliknya, justru Kepala Sekolah yang menggunakan kata ‘Saya’ saat berbicara dengan muridnya.

Kebalik nggak, sih?

Ya, walaupun ini novel komedi plus gokil, tapi sebaiknya norma kesopanan tetap harus dijaga. Kan yang baca novelnya juga ada di seluruh Indonesia, kan? Iya nggak? 😀

***

Well, saya kasih tiga bintang buat novel ini. Dengan penggunaan bahasa yang bisa dibilang nyleneh atau nggak wajar ini, saya jadi terhibur. Joke-joke yang sebenernya garing, tapi kalau dibaca pas lagi suntuk banget dan butuh bacaan ringan, jadi nggak garing-garing amat. Hihihi.

Dan, saya mendapatkan sebuah moral value dari Pak Wah, pelatih sepak bola Seto saat SMP,  yang selalu menggunakan kata ‘Wah’ setiap berbicara.

“Selain skill, yang dibutuhkan seorang pemain bola adalah attitude.”—Hal. 31

Keren ya? Coba aja semua pemain bola punya attitude yang excellent, nggak akan ada yang namanya tawuran di lapangan. Tapi, hal ini saya rasa nggak hanya berlaku untuk pemainnya saja, supporter bolanya juga lho!

Happy reading y’all!

Rate : 3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s