[Kumcer] Rentak Kuda Manggani

IMG_2203

Judul : [Kumcer] Rentak Kuda Manggani

Penulis : Zelfeni Wimra dkk

Penerbit : Diva Press

Tahun : 2015

ISBN : 987-602-255-954-2

Halaman : 176

***

Kumpulan cerpen (Kumcer) ini terdiri dari 21 cerpen dengan berbagai latar yang berbeda, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kumcer ini mengangkat satu tema yaitu ‘Bangun Cinta’. Semua cerpen yang ada di dalam kumcer ini merupakan cerpen-cerpen terpilih dari sebuah lomba menulis cerpen Bangun Cinta. Ah, cinta! Selalu tak habis kata-kata untuk menggambarkannya.

***

Cerpen pertama dibuka oleh seorang white man yang jatuh cinta dengan tenun ikat Sabu. Namata, sebuah bukit kecil di Raelolo, Kabupaten Sabu Raijua, NTT. Sebuah tempat yang asing di telinga meskipun nama provinsinya tak asing lagi.

saburaijuakab.go.id

Hiri, merupakan seorang cucu dari salah satu Dewan Pemangku Adat di Sabu. Sepeningal kakeknya, Hiri kembali ke tanah Sabu dan ia dikejutkan oleh kehadiran white man yang sebelumnya sudah tinggal di rumah sang kakek. White man tersebut bernama Max, pria asing tersebut datang jauh-jauh untuk meneliti tenun ikat khas Sabu dan sempat membuat beberapa sumur untuk warga disana. Hiri kemudian merasa dipermalukan. Bagaimana bisa orang asing seperti Max bisa jatuh cinta budayanya, terlebih dengan tenun ikat? Sedangkan ia sendiri justru merantau jauh dari Sabu.

***

Yang kedua, saya penasaran dengan cerpen yang judulnya dijadikan judul kumpulan cerpen ini, Rentak Kuda Manggani. Hm, nama daerah baru lagi. Semakin menambah pengetahuan saya mengenai daerah-daerah yang ada di Indonesia. Latar yang digunakan oleh penulis adalah Manggani, sebuah daerah yang terletak di Kototinggi, Sumatera Barat. Setelah searching mengenai Manggani, saya baru mengetahui bahwa dahulu, Manggani merupakan daerah pertambangan dan sekarang mendapatkan julukan sebagai kota tambang yang hilang.

Gambaran Manggani via parintangrintang.wordpress.com

Kisah bangun cinta ini dilalui oleh seorang lelaki yang dianggap mengkhianati istri serta anak perempuannya. Lelaki itu meninggalkan mereka dikala kehidupan tengah susah-susahnya, tepatnya saat Negara ini sudah merdeka, saat harga bibit cengkeh hanya dapat dibeli dengan separuh tabungan yang ada. Perbedaan kultur antara lelaki itu dengan istrinya yang seorang pribumi membawa pada perpisahan. Si lelaki tidak tahan dengan penderitaan yang ada dan memutuskan untuk merantau, meninggalkan dua orang yang dikasihi. Selama puluhan tahun.

“Kata Ibu, pengkhianatan Ayah sudah dimaafkannya, tetapi belum dilupakannya!”—Dara Manggani hal 43.

Pengkhianatan memang musuh di dalam selimut di dalam cinta. Dan pengkhiatanan akan memunculkan penyesalan yang terlambat. Lelaki itu ingin meminta maaf setelah sekian puluh tahun pergi dengan pengkhianatan, namun yang ia dapati hanya seorang perempuan dengan lirikan yang sama persis seperti milik ibunya.

Cerpen yang menarik lainnya adalah Stille Nacht. Latar belakang medang perang dengan sepasang suami-istri yang mendebatkan adakah Tuhan saat perang itu terjadi. Tuhan tidak ada dalam perang, karena sang suami berpikir, di dalam perang hanya dikuasai nafsu-nafsu iblis yang hanya ingin saling membunuh. Namun, pada seuatu malam, Malam Natal tepatnya, kedua kubu yang tengah berperang tersebut menanggalkan senjata saat salah satu diantaranya membuat semacam pohon natal dan melantunkan kidung Natal tradisional, Stille Nacht.

“…ternyata Tuhan masih ada di tempat ini…”–Hal. 34

***

Selain cerpen-cerpen di atas, masih ada belasan cerpen lainnya yang akan menghadirkan nuansa membangun sbeuah cinta itu. Berikut adalah judul cerpen-cerpen pilihan dari Lomba Menulis Cerpen Bangun Cinta yang membuat saya penasaran hanya dengan membaca judulnya yang kebanyakan unik-unik itu. Wihiiii

  1. Namata (Peringa Ancala)
  2. Menjadi Jangkrik (Benny Arnas)
  3. Stille Nacht (Adam Yudhistira)
  4. Rentak Kuda Manggani (Zelfeni Wimra)
  5. Gisela Meine Rose (Granito Ibrahim)
  6. Love, Halley, and War (Ade Ferdiansyah)
  7. Lelaki yang Takut Menyebang Jalan (Faisal Oddang)
  8. Pegawai Pajak (Yohanes W. Hayon)
  9. Dan Selamat Sore, Cinta (Kevn Arnando)
  10. Sebelum Mencapai Tacloban (W. N. Rahman)
  11. Tentang Seekor Kucing dan Ingatan-Ingatan Lainnya (Yetti A. KA)
  12. Gadis Pelari dan Lelaki Bertatto Sayap (Endah Suci Astuti)
  13. Sepotong CInta dalam Mangkuk Berwarna Lumut (Majenis Panggar Besi)
  14. Sepasang (Ken Hanggara)
  15. Blowing in the Wind (Karta Kusumah)
  16. Biji Mata yang Tak Boleh Menangis (Wanda SP)
  17. Tentang Kisah Cinta Kakek dan Kisahku Sendiri (Elin Nofia Jumesa)
  18. Matahari Bukan Jodohmu, Bulan! (Mel A.)
  19. Lepas Seperti Ayam (Deddy Arsya)
  20. Presque Vu (Lanahdiana)
  21. Lelaki Patah Hati yang Terjebak di Ruang Nostalgia (Fatur Shau)

***

Selepas membaca kumcer ini, saya jadi berpikir, mengapa tema yang diangkat adalah bangun cinta? Karena tidak menemukan beberapa lembar pembuka di awal (seperti pada kumcer lainnya, yang biasanya terdapat lembar kata pengantar) akhirnya saya searching (lagi) mengenai lomba menulis ini.

Pemilihan tema bangun cinta oleh penyelenggara lomba (Titik Temu dan Diva Press) ternyata mempunyai sebuah alasan, guys! Mengapa?

Kenapa Bangun Cinta? Bukan Jatuh Cinta. Secara logika yang namanya jatuh pasti sakit. Kalau bangun, tidak ada kata sakit. Yang ada hanyalah semangat untuk bangkit. Intinya, kalau niat menjalin hubungan cinta dengan kata bangun, bukan jatuh, walaupun mengalami pahitnya dikecewakan tidak akan pernah merasakan sakit, tapi yang dirasa adalah hikmah positif yang diambil dari setiap kejadian hubungan percintaan tersebut.

sumber disini!

***

Beberapa cerpen disini ditulis dalam bahasa yang mmm nyastra! Jadi, saya harus membacanya dua sampai tiga kali agar paham benar isi dari cerpen tersebut.

Well, bagi teman-teman yang bosennn (sengaja triple n biar berasa bosennya) dengan cerita-cerita jatuh cinta dan nggak mau lagi jatuh (ya iya lah), mungkin bisa (atau harus?) membaca kumcer ini. Siapa tahu teman-teman akan bersemangat lagi untuk tidak memikirkan bagaimana sakitnya jatuh cinta dan segera bangkit!

Rate : 3/5

Iklan

One thought on “[Kumcer] Rentak Kuda Manggani

  1. Terima kasih tulisan ini sudah di-link-an ke blog saya terkait cerpen Rentak kuda Manggani. Mangani atau Manggani? Saya punya beberapa literatur lama penggunaan nama “Mangani”, tetapi tidak punya nama “Manggani”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s