The Architect – Kita, Sketsa Asaku, Perspektif Cintamu

IMG_2201

Judul : The Architect  – Kita, Sketsa Asaku, Perspektif Cintamu

Penulis : Ariesta F. Firdyatama

Penerbit : Mazola

Tahun, : 2015

Cetakan : Pertama

Jumlah halaman : 320

***

Blurb

Di kala Tio dipercaya menangani proyek, sebuah telepon yang tak sampai lima menit membawa kejutan besar baginya. Sebuah tawaran menggiurkan datang. Kesempatan bekerja di kantor konsultan arsitektur yang cukup punya nama di belantara Jakarta.

Dia dihadapkan pada uda pilihan, antara tanggung jawab dan masa depan.

Anditio Wirawan bermimpi menjadi arsitek professional yang menangani perencanaan gedung pencakar langit. Mempunyai kantor sendiri.

Namun, kenyataan tak selalu indah seperti mimpi.

***

 

 

 

Cerita dibuka oleh seorang ibu muda, menerjang hujan deras sembari mengendarai motor. Sang bayi tak hentinya menangis, dan hujan pun enggan untuk sekedar berubah menjadi gerimis. Ibu muda itu menepikan motornya, berteduh bersama tatap orang-orang yang menyangsikan mengapa ia bisa berada disini, seorang diri, dan mengendong bayi yang menangis.

Saya kemudian dibawa menuju masa lalu (iya masa lalu -_-) dimana seorang fresh graduate tengah berjibaku untuk memasuki dunia kerja. Anak desa yang kuliah dengan hasil gadaian sawah orang tuanya itu enggan untuk kembali ke kampung halaman, sebelum benar-benar dapat berpenghasilan sendiri.

Tio –Anditio Wirawan.

Fresh Graduate

Teknik Arsitektur

Universitas Sebelas Maret

Pekerjaan awal ia lakoni sebagai pekerja proyek, menjadi pesuruh dan bantu-bantu. Ia geram, mandor tempat ia bekerja sama sekali tak mengindahkan syarat minimal untuk mendirikan sebuah bangunan, dengan mengurangi jumlah rangkanya. Tak tahan dengan sikap sok dari mandor tersebut, Tio akhirnya mengundurkan diri.

Sebagai fresh graduate, Tio merasakan betapa susahnya cari pekerjaan dengan minimnya pengalaman.

Sampai akhirnya, Tio mendapatkan sebuah proyek untuk membangun rumah milik juragan buah Pak Broto. Dari sanalah, Tio menapaki karier sebagai arsitek muda. Dari sana pula, Tio berhasil bekerja di sebuah perusahaan konsultan arsitektur ternama di ibukota, lalu kembali ke Solo setelah mendapat ‘penghianatan’, terbang ke Surabaya, hingga akhirnya mendarat ke Singapura untuk menjemput impian sebagai arsitek di usia muda.

***

Akhirnya!

Novel profesi lagi, hore! Seneng banget deh waktu pertama kali melihat cover-nya yang eye-catching. Lelaki pakai kemeja plus dasi, membawa gulungan kertas yang saya kurang tahu namanya dalam istilah dunia arsitektur, dengan dada yang tegap menatap masa depan.

Tapi, ikon helm proyek yang menutupi tangan agak menganggu deh. Mungkin ada baiknya jika ikon tersebut ditempatkan di ujung kiri buku.

The Architect.

Yap, judul tersebut tersebut sudah jelas menggambarkan isi buku secara umum. Kehidupan seorang arsitek. Awal karier seorang arsitek lulusan lokal yang mendapatkan pengakuan internasional (lingkup ASEAN). Mulai dari pekerja bawahan di proyek, mengerjakan proyek mandiri, bergabung dengan kantor konsultan, hingga mendirikan kantor konsultan arsitektur sendiri.

Saya jadi tahu, bagaimana perjalanan karier seorang arsitek itu. Tambahan pengetahuan baru, nih! Yeay!

Dari awal, penulis menggunakan alur mundur. Yaitu penulis menceritakan pada tahun 2014, kemudian pembaca diajak mundur perlahan menuju masa dimana ia baru lulus kuliah, tepatnya tahun 2007. Sedikit demi sedikit, pembaca diajak untuk maju lagi dengan mengikuti perjalanan hidup Tio. Penulisan dari tahun 2007 kemudian bergerak maju, alus banget lah kalau saya boleh bilang.

Ada beberapa hal yang saya suka di dalam novel ini. Salah satunya adalah kutipan ini :

…Jakarta itu tidak sekeras seperti apa yang dikatakan orang…–Hal. 64

Bener banget! Jakarta itu nggak keras. TAPI, bagi orang-orang yang mempunyai kualitas serta kemampuan untuk survive di ibukota.

Oh iya, ada lagi. Penulis juga oke nih, menggambarkan perasaan Tio yang lagi geram sama Vira (temen sekantor (apa pacar ya?)  Tio di Jakarta) yang terdapat di halaman 69.

“Eng, oh, ini…,hm…,nggak…, nggak. Dia…bukan pacar, kok, temenku, temen kantor. Tio namanya. Kenalin.”—Vira.

Dia bukan pacar kok, hanya temen kantor. Catat besar-besar. HANYA TEMEN KANTOR.

Ada beberapa hal juga nih, yang saya soroti pada novel ini.

  1. Penggunaan istilah selain Bahasa Indonesia yang tidak diketik miring.

Seperti adem-ayem, mangap, mencla-mencle, dan lain-lain.

Padahal di halaman 53 terdapat istilah selain Bahasa Indonesia yang diketik miring yaitu kata ‘ngalor-ngidul’.

Jadi, ini mmm apa ya? Masalah konsistensi dalam penulisan istilah selain Bahasa Indonesia sih, diketik miring atau tidak.

  1. “Siap, Bos!” Eri menowel pipi gembil keponakannya.—Hal. 114

FYI, Eri merupakan keponakan Tio yang tinggal di Jakarta. Hayooo, Eri menowel pipi keponakannya? Jadi, Eri punya keponakan? Saya rasa, terjadi typo disini. Mungkin yang dimaksud penulis adalah Tio menowel pipi gembil keponakannya.

Ada lagi yang sepertinya lolos dari pandangan penulis (halah) yaitu pada halaman 132. Dimana penulis menjelaskan tentang siapa itu Pak Andri.

Pak Andri memang dosen dengan jumlah terbang amat tinggi.

Pak Andri bisa terbang? Wiiih, mungkin disini yang ingin disampaikan penulis adalah Pak Andri yang mempunyai jam terbang tinggi sebagai dosen. Hehehe

Satu lagi!

Pada halaman 220, penulis juga memberikan kesan ambigu pada kalimat yang disampaikan.

Tubuh kurus ayah Rasti tampak lemah terbelit selang-selang infus.

Saya kurang setuju dengan penggunaan kata terbelit karena pada keadaan sebenarnya selang infus itu jangan sampai terbelit (pengalaman opname tahun lalu *sedih). Terbelit dalam KBBI mempunyai arti terlilit, terlingkar. Jadi, agak aneh aja kalau selang infus sampai terlilit di tangan. Bahaya!

Dan satu lagi! (dari tadi satu lagi mulu -_-) penggunaan kata ulang selang-selang infus.  Setahu saya selang infus itu hanya terpasang satu di tangan atau di kaki pasien. Sedangkan kata selang-selang itu bermakna ganda which means lebih dari satu. Jadi, lebih baik menggunakan kata selang infus saja.

  1. Perubahan logat bicara.

Pada halaman 205, saat saya baca, logat Rasti mendadak berubah. Rasti yang tinggal di Sragen dan pada halaman-halaman sebelumnya digambarkan ceplas-ceplos dengan bahasa campuran Indonesia – Jawa, mendadak berubah logatnya.

“Horor kali, Mas.”—Rasti logat Medan.

“Horor, kali Mas.”—Rasti yang sesungguhnya.

  1. Mungkin yang ini agak mmm membuat ambigu. Oh, bukan ambigu, tapi memang membuat bingung. Mengapa? Karena salah dalam penyebutan nama penyanyi dan membuat saya ingin tahu kemudian mencari tahu kebenarannya. Mohon saya dikoreksi kalau salah.

Pada halaman 206 penulis menyebutkan lagu Break Away oleh Mariah Carey. Bukannya lagu Break Down itu dilantunkan oleh Kelly Clarkson ya? (hasil searching di youtube) Hehehe. Kalau Mariah Carey, mungkin judul lagunya Break Down.

  1. The last, terdapat beberapa poin yang berusaha ditampilkan penulis pada kehidupan Tio sebagai arsitek.
  • Awal karier Tio bergabung dengan proyek yang dimandori mandor sok.
  • Proyek rumah Pak Broto.
  • Bekerja di Jakarta sebagai arsitek muda.
  • Kembali ke Solo karena perusahaan yang di Jakarta bangkrut.
  • Terbang ke Surabaya lalu bekerja disana.
  • Mendirikan kantor konsultan arsitektur sendiri.
  • Mendarat di Singapura dengan achievement arsitek termuda dalam sebuah sayembara.

Dari ketujuh poin di atas, semuanya dijejalkan ke dalam cerita. Tidak ada yang diutamakan atau dieksplor lebih dalam sebagai poin utama. Dari poin satu, loncat ke poin dua, loncat lagi ke poin tiga, seterusnya hingga ke poin tujuh. Saya akui, penulis cukup halus dalam menggambarkan setiap poin-poin tersebut, namun saya merasa ada yang kurang. Mungkin, apabila penulis memilih salah satu poin di atas untuk diutamakan dan dieksplor lagi, akan menambah greget novel The Architect ini.

Well, happy reading y’all!

“Hidup itu spekulasi. Cuma ada dua pilihan, gagal atau berhasil. Kalau hidup Cuma buat jadi orang yang cemen ngadepin resiko, ya udah sembunyi aja di ketiak bapak.”
—Rasti, hal. 168.

Rate : 2.5/5

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s