Ketua Kedua – Hey kamu, ayo bantu aku!

Jpeg

Jpeg

Judul : Ketua Kedua – Hey kamu, ayo bantu aku!

Penulis : Suci Salihati

Penerbit : PING!!!

Cetakan : Pertama, 2015

***

Blurb

Randu, pemilik nilai tertinggi di angkatannya sejak kelas I, adalah ahli menyontek.

Yara, seorang gadis yang terkenal sebagai troublemaker dan sering bermasalah dengan guru.

Ayesha, murid teladan sekaligus ana seorang guru yang mau mengikuti ektrakurikuler cosplay, meski hanya sebagai anggota bayangan.

Ketiganya berjuang membentuk klub cosplay dengan segala suka sukanya dengan gaya anak SMA yang kadang, bukan, tapi sering konyol.

“Analoginya begini, Harry Potter menang melawan Lord Voldermort. Apa kita bisa menang melawan Lord Voldemort?”

“Bisa tidak sih, kamu member analogi yang lebih sesuai dengan keadaan?”

***

“Aku minta dua hal kalau kamu tidak mau rekaman ini aku kirimkan ke staf sekolah. Yang pertama, bantu aku menyontek. Yang kedua, bantu aku mendirikan ektrakurikuler baru.”—Yara, hal. 17.

Randu, anak yang ‘selalu’ mendapat peringkat pertama di sekolahnya, tiba-tiba merasa dijebak oleh Yara, siswi pembuat onar. Ia hanya punya dua pilihan, membantu Yara atau rekaman bukti ‘perjuangannya’ untuk sampai di peringkat satu tersebar. Randu mau tidak mau memilih opsi pertama, membantu Yara agar bukti tersebut tidak sampai ada yang tahu.

Sewaktu Yara mengatakan hal tersebut, saya pikir Yara adalah sejenis gangster di sekolah khas anak SMA. Penguasa, pemaksa dan pembuat onar hingga sering menyambangi ruang BK. Well, saya salah. Tidak sepenuhnya salah sih, walaupun Yara bukanlah penguasa, tapi ia cukup bisa dikatakan pemaksa dan pembuat onar. Lebih tepatnya, ia memaksa adik kelas untuk bergabung di klub cosplay yang baru punya 2 anggota.

Bersama Ayesha, anak wakil kepala sekolah, Pak Arif, yang selalu mendapat peringkat di bawah Randu, mereka mengajukan permohonan ke kepala sekolah untuk pendirian klub coplay tersebut. Meskipun Ayesha hanya sebagai anggota bayangan (karena takut ketahuan Bapaknya) dan hanya berperan sebagai tukang jahit.

Pembuat onar memang jarang mendapat perhatian. Begitu yang dialami Yara. Saat akan mengajukan usulan pendirian klub cosplay, ia ditolak mentah-mentah oleh Pak Arif. Bahkan, ia ditolak sebelum proposal klubnya dibaca. Lain halnya dengan Randu. Si peringkat pertama tersebut mendapat sambutan hangat oleh wakil kepala sekolah itu. Sungguh diskriminasi!

Bapak juga kenal saya, tapi perlakuannya beda!—Yara, hal.50

 Namanya klub baru, pasti sepi anggota. Tapi yang namanya Yara, tidak pantang menyerah meski mengalami penolakan. Yang saya suka dari Yara, ia pekerja keras dan visioner. Mengapa visioner? Karena yara gencar ‘menarik’ anak kelas satu agar kelak saat ia lulus nanti, sudah ada penerus klub cosplay itu. Uhuy!

Tapi tenang saja, cuma karena satu dua Bu Puji, aku tidak akan berhenti. Besok, aku akan cari orang lagi.—Yara. Hal 71

 Perjuangan nggak akan sia-sia. Klub cosplay akhirnya mendapat persetujuan dari kepala sekolah. Tapi, masih ada banyak masalah yang dihadapi mereka. Saat ingin menunjukkan eksistensi sebagai klub cosplay, mereka terganjal masalah akademik, ijin orang tua hingga sebuah rahasia yang terancam diketahui.

***

Novel ini ringan (berasa bulu aja -_-) saat dibaca. Penggunaan bahasanya sederhana sehingga mudah dipahami. Tapiiii, saya tetep aja kurang greget. Something missing gitu lah. Apa coba yang kurang? Yap, eksplorasi tentang cosplaynya sedikit plain. Saya bukan anak cosplay juga sih, tapi kalau ditambah beberapa hal lagi tentang cosplay, saya rasa akan meningkatkan tingkat greget itu (halah). Alurnya juga ada yang tidak bisa saya tebak. Saya menuntut penjelasan (penting! Haha) kenapa Andra bisa di rumah Yara sore itu? Kenapa?!

Beberapa kejutan diselipkan dengan apik oleh penulis. Seperti keadaan ‘unik’ Ayah Yara yang saya anggap menurun ke putrinya yang barbar dan penuh semangat. Tapi, dengan keadaan Ayah Yara yang ‘unik’ itu, saya mendapat pelajaran berharga bahwa its better be yourself. Seperti kata Yara.

Lagi pula, orang mau seperti apa, kan, suka-suka—Yara, hal.24.

 Lain lagi dengan Ayah Ayesha yang hanya menuntut pendidikan tanpa mengindahkan keinginan anak. Tapi, dengan usaha dan kerja keras, Ayesha membuktikan bahwa ia mampu.

Namun, Randu…

Saya akui ia hebat. Jarang ada orang yang mau mengakui ‘kebodohannya’ yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Randu sebenarnya anak yang cerdas. Ia bahkan mampu men-skakmat (apalah ini) Pak Arif saat pengajuan proposal klub cosplay.

Benar kalau ini tidak ada hubungannya dengan akademik, makanya jadi ekstrakurikuler, kan, Pak? Kalau ini akademik, mungkin sudah masuk kurikulum.—Randu, hal.55

Cerdas bukan kata-katanya?

Oke, mari lanjut.

Sebelumnya, saya bilang bahwa novel ini ringan, bahasanya sederhana dan mudah dipahami. Tapi, ada beberapa hal yang menurut saya agak berlebihan jika diucapkan oleh seorang anak SMA seperti Yara. Ehm, bukan berlebihan sih, tapi apa ya…kurang pas, iya kurang pas.

Otak manusia hedonis metropolismu mungkin tidak sanggup menelaah hakikat cosplay yang sesungguhnya. –Yara, hal. 93

 

Setelah ia berlama-lama berbicara soal hakikat cosplay dan materialism, bahwa cosplay itu harus tulus…Hal. 94

 

Aku yang bagaikan bunga dan heroine tegar, jadi Sakura—Yara, hal 99.

 

Untuk cover, terdapat dua gambar siswa SMA. Yang satu seorang siswi berambut panjang (saya yakin banget itu Ayesha) dan seorang siswa yang tengah bersila (yakiiin banget itu Randu). Tapiii, dimana sosok Yara? Saya rasa jika ditambah dengan sosok Yara dengan rambut sebahunya di antara Randu dan Ayesha akan pas. Dan matching dengan judulnya ‘Ketua Kedua’.

Well, happy reading y’all!

Rate : 3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s