Kafe Serabi

Jpeg

Jpeg

Judul : Kafe Serabi

Penulis : Ade Ubaidil

Penerbit : De Teens

Tahun Terbit : 2015

Cetakan : Pertama

ISBN : 978-602-279-158-4

***

Blurb

Tubuh bongsor membuat Anggun menjadi bahan bully di kampus. Jika bukan karena Tata, sugar glider peliharaannya, serta Anton dan Mila, dua sahabatnya, rasanya ingin berhenti kuliah saja.

Perkara cinta, jangan tanya, sudah di ambang putus asa dengan kejombloannya. Dirinya sering bertanya-tanya:

Apa mungkin aku ditakdirkan terlahir sebagai jomblowati?

Anggun menemukan Kafe Serabi dan Ken. Apakah cowok itu dikirim Tuhan untuknya? Di sana, Anggun mendapat jawabannya.

***  

Mendengar judulnya, saya kira akan dibawa habis-habisan dengan ceirta all about Kafe Serabi. Bagaimana kehidupan di Kafe Serabi, kehidupan pemilik kafe yang ternyata ganteng seperti pemilik Coffee Prince yang terjebak cinta lokasi dengan pegawainya atau beberapa cerita yang mempunyai benang merah di Kafe Serabi. Ternyata bukan itu. Kafe Serabi dipilih penulis untuk turning point kehidupan Anggun Samaravati, gadis bongsor yang sudah lama mendamba seorang kekasih.

Di Kafe Serabi, Anggun mendapatkan kekasih, Keanu Lazuardi. Disana pula, ia mendapati bahwa kekasih ‘kilat’ tersebut ternyata mempunyai keadaan special. He’s not straight. Saya jadi teringat dengan Alan Turing (Benedict Cumberbatch) di film The Imitation Game. Ia menyukai sesama jenis sejak masih kecil, yaitu salah satu teman prianya di kelas. Dan keadaan sekitar tidak bisa menerimanya. Ia lantas dihukum dengan dikucilkan padahal sudah berjasa pada Negara walaupun ia sudah mencoba untuk berubah dengan bertunangan dengan salah satu rekan kerjanya Joan Clarke. Hal tersebut sama seperti yang dialami Ken, Anggun tidak bisa menerimanya kembali walaupun ia sudah berusaha untuk berubah.

***

Ada beberapa hal yang saya soroti di dalam novel Kafe Serabi ini, diantaranya :

1.Setibanya di ruangan, aku melihat mereka tengah diadili di hadapan banyak calon mahasiswa—hal. 14

Mungkin penggunaan kata ‘calon mahasiswa’ untuk konteks kalimat di atas kurang tepat. Karena setahu saya, calon mahasiswa itu adalah lulusan sekolah menengah atas atau kejuruan, dan belum diterima pada sebuah universitas atau perguruan tinggi. Mungkin, lebih tepat menggukanan kata ‘mahasiswa baru’. Menurut saya, agak nggak etis aja, ospek yang pake ‘diadili’ dilakukan pada calon mahasiswa yang belum  sah menjadi mahasiswa disana. Hehehe…

2.Kemudian pada halaman 24, penulis berusaha melempar joke pada adegan Anggun dengan Sang Mama, namun saya rasa itu sedikit cheezy.

“Aku telat, Ma!”

“Apa?! Jangan main-main! Mama kuliahin kamu biar jadi anak yang bener, tapi kelakuan kamu…”

Kemudian terdapat adegan dimana Anggun menutup bibir Mamanya, yang saya kira itu kurang sopan dilakukan oleh seorang anak perempuan.

3.Pada halaman 46, saat Anggun pertama kali bertandang ke Kafe Serabi, Anggun memesan serabi selai stroberi. Namun, penulis kemudian memberikan gambaran bahwa ada menu lain pada kafe tersebut dengan gaya bahasa seperti bahasa iklan atau bahasa yang sering digunakan akun-akun kulinari di instagram. Hehehe.

“Tenang aja, meski namanya Kafe Serabi, menu yang ditawarkan banyak, kok, layaknya kafe-kafe lainnya.”

4.Terjadi banyak perubahan POV yang akan membuat saya bingung dan kurang menikmati jalannya cerita. Pada bab 7, terjadi perubahan POV. Pada bab-bab sebelumnya (1-6) POV yang digunakan adalah POV Anggun, sedangkan pada Bab7 digunakan POV Anton dan pada bab 8 kembali digunakan POV anggun. Kemudian pada bab 11 penulis kembali menggunakan POV yang berbeda yaitu POV Anggun. Mungkin sebaiknya pada awal bab, diberikan pertanda untuk setiap tokoh apabila penulis ingin menuliskan beberapa POV pada 1 cerita.

5.“Itu pula alasan gue musuhin elo, Ndut. Maaf gue ngelibatin lo selama ini…”—Hal. 155.

Agak janggal sih menurut saya, karena Nia baru-baru ini mengetahui bahwa sepupunya, Ken, berpacaran dengan Anggun dan akhirnya mereka putus karena Anggun tahu bahwa Ken seorang gay serta Reza, sepupu Anggun adalah pasangan gay Ken selama di Belanda yang meneror Ken. Sementara penulis menceritakan bahwa Anggun dan Nia mempunyai hubungan yang kurang baik semenjak awal kuliah.

6.Saya agak terganggu dengan ilustrasi sebuah cangkir dan teko pada awal setiap bab serta penggunaan bahasa daerah (sios, kalih, telu, dst) untuk penyebutan bab. Saya paham bahwa penulis mencoba untuk memasukkan budaya lokal pada novel ini, tapi saya rasa bahwa hal tersebut kurang cocok.

***

Untuk ending, saya sempat dibuat melongo. Nggak percaya, Anggun yang lama mendamba kekasih berakhir bahagia dengan seseorang yang bahkan secara tidak sadar sudah lama berada di dalam hidupnya. Terkesan mendadak? Iya! Dan saya rasa sedikit dipaksakan.

***

Happy reading y’all!

Rate: 2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s