Konstantinopel –Misteri Jari Kelingking yang Hilang

Jpeg

Jpeg

Judul : Konstantinopel –Misteri Jari Kelingking yang Hilang

Penulis : Sugha

Penerbit : Diva Press

Cetakan : Pertama, 2015

Editor : Ambra

ISBN : 978-602-296-088-1

***

Blurb

“Aku akan membawa kalian semua bersamaku, satu per satu.”

Pembunuhan berantai. Tujuh anggota Konstantinopel. Pesan berbahasa Turki. Dan, jari kelingking yang hilang. Bima berpikir keras. Waktu bergerak cepat dan menjadi sangat berharga. Kasus ini menyeret Bima dalam pada serangkaian peristiwa mengerikan. Semua ini harus segera dihentikan sebelum si pembunuh beraksi lagi. Tapi, kenapa mereka diincar? Untuk apa semua kematian ini? Dan yang terpenting…siapa berikutnya?

***

Ben, benimle bütün, götürecegim, birer-birer.—Hal. 77

***

Awalnya, saat melihat judulnya untuk pertama kali, saya menyangka akan dihadapkan dengan kisah di negeri Konstantinopel dengan setting masa lalu. Tapi, ternyata tidak.

Kata orang, politik memang penuh intrik. Satu sama lain saling menjatuhkan, demi sebuah kedudukan. Saya yang (dapat dibilang) buta akan politik, menjadi sedikit lebih tahu, melalui cerita dalam novel ini. Tidak semua orang yang baik adalah ‘baik’ dan tidak semua orang yang jahat adalah ‘jahat’.

***

Novel ini menceritakan kehidupan Bima, seorang lulusan terbaik STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara) yang kemudian diangkat menjadi asisten Wakil Kepala BIN (Badan Intelijen Negara). Sebuah pekerjaan yang tidak main-main, meskipun hanya menjadi seorang asisten. Kemudian, Bima dihadapkan dengan sebuah kasus pembunuhan berencana yang menyangkut Konstantinopel, sebuah kumpulan pelajar asal Indonesia yang kuliah di Universitas Istanbul, Turki. Anggota dari Konstantinopel adalah Inge, Sandra, Roman, Cinta, Juan, Januar, dan Felix. Tiga diantara mereka sudah tewas (Inge-Sandra-Roman). Bima, dengan rasa ingin tahunya yang tinggi berusaha mencari motif dari pembunuhan berencana yang melibatkan anak angkat presiden, Cinta Clarisa.

Ceritanya menurut saya agak berat, tapi penulis memaparkannya dengan simpel sehingga saya merasa enjoy saat membacanya. Peristiwa satu dengan yang lain tanpa sadar, mempunyai satu benang merah kusut yang secara perlahan mulai dipecahkan oleh Bima. Oke, saya mulai mengidolakan sosok Bima disini.

***

Putra Bimasakti, atau yang akrab disapa Bima, oleh penulis digambarkan sebagai orang yang kaku tapi lucu dan lugu. Dan itu, terlihat dari gaya bicaranya. Seperti pada percakapan di bawah ini :

Bima : Tapi ada yang lebih penting dari semua itu…

Mereka : Apa?

Bima : Di mana letak toiletnya? Saya bener-bener kebelet!

Mereka : Arrrgh!

Selain orang kaku+lucu+lugu, ada satu sifat Bima yang digambarkan secara implicit oleh penulis, yaitu ceroboh. Mengapa? Karena ia meninggalkan laptop milik Wakil Ketua BIN begitu saja, disekitar penduduk sipil (Cinta-Felix-Juan-dan Januar). Sehingga, salah satu folder di dalam laptop tersebut telah berhasil dibuka oleh keempat penduduk sipil tersebut dan menimbulkan tanda tanya.

Dan, ada satu hal lagi dari sosok Bima, ia juga pantang menyerah. Meskipun ia sudah dipecat dari BIN, ia tetap mencoba memecahkan motif pembunuhan dan menemukan siapah dalang dari kasus pembunuhan berantai itu.

***

Jalan ceritanya seru. Apalagi saat penulis menyajikan analisis dari setiap kejadian. Seperti tentang analisis kematian Cinta dengan tanatologi atau ilmu yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kematian dan perubahan yang terjadi setelah seseorang mati. Juga dengan istilah Rigor mortis atau kekakuan mayat. Penulisan mengenai analisis tersebut simple, tapi nggak terkesan menggurui. (Sedikit) mirip dengan analisis salah satu tokoh detektif dunia yang terkenal dengan istilah ‘The Science of Deduction’.

Namun ada beberapa hal yang mungkin tidak disengaja seperti penyebutan anggota konstatinopel kurang lengkap.

Hal. 133

Pak Catur : Jadi urutan pembunuhannya adalah Ine, Sandra, Roman, Cinta, Januar dan yang terkahir adalah Juan?

Mengapa saya sebut komentar Pak Catur di atas kurang lengkap? Karena masih ada satu lagi anggota Konstatinopel yang luput disebutkan, yaitu Felix.

***

Well, selamat menguraikan benang kusut Konstantinopel bersama Bima! Semoga puasanya lancar dan bisa meraih kemenangan di hari Fitri! ^^

Rate : 3/5

***

“Mengakui sebuah aib rasanya sangat memalukan. Tapi, menutupi sebuah aib dengan kejahatan lainnya adalah suatu tindakan yang sangat biadab.”—Putra Bimasakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s