Senja yang Mendadak Bisu – Karya-karya Terbaik #KampusFiksiEmas2015

Jpeg

Jpeg

Judul : Senja yang Mendadak Bisu – Karya-karya Terbaik #KampusFiksiEmas2015

Penulis : Lugwina, dkk

Penerbit : De Teens

Tahun : 2015

ISBN : 978-602-0806-08-2

***

Blurb

Bah Kanta masih ingat apa yang dikatakan calon bupati berambut pitak itu, “Sst…, bukan buat dimakan…,” bisiknya pelan, mata culasnya melirik ke kiri dan kanan, takut ada yang mendengarkan. “Buat syarat, Ki…ehm buat…anu, sesajen. Minta berkahnya begitu lho, Ki. Namanya juga ikhtiar, sebentar lagi Pilkada, Ki.” Begitu katanya, sambil matanya bergerak-gerak tak mau diam. Barangkali begitulah gelagat manusia yang tidak bisa dipercaya, batin Bah Kanta. Bah Kanta tak pernah mengira bahwa senja bisa tiba-tiba bisu.

Pembaca mungkin akan beberapa kali terhenti sejenak selama membaca antologi ini. Selain menikmati suguhan pesona budaya dari berbagai daerah di Indonesia, cerpen-cerpen ini akan meninggalkan jejak untuk direnungkan.

***

Kata-kata ‘meninggalkan jejak untuk direnungkan’ ternyata benar-benar saya rasakan saat membaca cerpen-cerpen pilihan di dalam antologi ini. Terlabih, saat saya bersua dengan cerpen karya Pia Devia ‘Hikayat Terpendam Gadis Lasem’ dan cerpen karya Amira Zarra ‘Iki Palek : Sebuah Perih Rindu Tak Bekesudahan’.

Cerpen ‘Hikayat Terpendam Gadis Lasem’ menyuguhkan kisah seorang gadis lumpuh, korban obat-obatan penggugur kandungan yang ditenggak ibunya kala ia masih bergelut di rahim. Kalau boleh saya bilang ‘nyentrik’ untuk cerpen ini. Tokoh utama cerpen ini bukanlah si Gadis Lasem itu sendiri, melainkan setoples ‘aku’ yang ia genggam setiap waktu. ‘Aku’ yang mendiami toples itu bukanlah sosok hidup, namun digambarkan bisa bercerita. Aku, adalah pilinan tembakau yang seringkalidisebut orang sebagai rokok.

Kemudian, cerpen ‘Iki Palek : Sebuah Perih Rindu Tak Bekesudahan’ membuat saya bergidik ngeri. Sebelumnya saya sudah samar-samar mendengar tentang upacar pemotongan ruas jari yang dilakukan oleh Suku Dani di Papua. Tapi, setelah membaca cerpen ini, saya jadi tahu, bahwa perempuanlah yang harus dipotong ruas jarinya, apabila ada anggota keluarga yang telah mati. Yosani, wanita yang berusia lima puluh tahun itu, hampir kehilangan seluruh ruas jarinya, akibat hampir anggota keluarganya mati karena perang antar suku. Dan, tampaknya ia harus merelakan ruas jari terakhirnya lagi, karena sang suami yang bahunya terkena panah, telah tiada beberapa hari yang lalu. #SaveYosane #iniapa

***

Antologi ‘Senja yang Mendadak Bisu’ ini merupakan kumpulan cerpen-cerpen dari #KampusFiksiEmas2015. Andai saja cerpen saya lolos audisi, ya? #efeknggakloloshehe.

Jadi, apasih #KampusFiksiEmas2015 itu?

Sedikit info aja, bahwa #KampusFIksiEmas2015 adalah rangkain dari ulang tahun #KampusFiksi by Diva Press. #KampusFiksi merupakan (apa ya?) rumah atau tempat pelatihan menulis bagi kamu-kamu (ciye bahasanya) yang mau dan mampu untuk jadi novelis. Dan berkat #KampusFiksi ini saya (angkatan bangkotan #KampusFiksi) malah jadi jatuh cinta dengan dunia tulis menulis. Eaaa

Sekian ya sekilas info mengenai #KampusFiksiEmas2015. Mari kita lanjutkan untuk membahas Antologi yang ciamik ini.

***

Antologi ini mempunyai tema ‘Lokalitas-Inspiratif’ jadi, saya banyak mendapatkan informasi mengenai lokalitas dari berbagai penjuru nusantara, salah satunya cerita tentang upacara pemotongan  ruas jari di Suku Dani. Dalam antologi ini memuat 21 cerpen dengan judul sebagai berikut :

  1. Battle Tirakat – Shoma Noor Fadlillah
  2. Gadis di Pulau Seberang – Ade Ubaidil
  3. Hikayat Terpendam Gadis Lasem – Pia Devina
  4. Iki Palek : Sebuah Perih Rindu Tak Bekesudahan – Amira Zarra O.
  5. Jangan Sebut Dia Singkek – Puput Palipuring Tyas
  6. Kapurung – Pramastri Sisimaya
  7. Kunng-kunang Ranu Lus – Endah Suci Astuti
  8. Malam Ketiga Belas Setela Tahun Baru Lunar – Zulfa Ulinnuha Tirta
  9. Moksa – Farrahnanda
  10. Otok – WR. Rahman
  11. Pasola – Heruka
  12. Peneruts Klithik – Reyhan M. Abdurrohman
  13. Pii Pesenggiri – Yenita Anggraini
  14. Pohon Randu Wangi – Teguh Afandi
  15. Rambu Solo untuk Ambe – Nufira Stalwart
  16. Sarangan – Sugianto
  17. Segenggam Mayam – Musrifah Nur Arfianti
  18. Senja yang Mendadak Bisu – Lugwina W. G.
  19. Tanduk Emas –Ghyna Amanda
  20. Tentang A Fen – Dhamala Shobita
  21. Yang Bernama yang Tergambar yang Berarti – Mini GK

Dan yang dipilih untuk menjadi judul dari antologi ini adalah judul cerpen milik Lugwina W. G. yaitu ‘Senja yang Mendadak Bisu’. Jadi seperti apa senja yang mendadak bisu itu?

‘Senja yang Mendadak Bisu’ menceritakan tentang Bah Kanta, seorang renta dari tanah Sunda yang kerap mengomeli bujang-bujang muda, yang kerap berburu burung Kadali. Bukan sembarang omelan, melainkan omelan yng disisipi hikayat atau dongeng setempat. Bocah-bocah yang diomeli tidak pernah beringsut, justru mereka mendengarkannya baik-baik di saung milik Bah Kanta. Senja yang Mendadak Bisu, didapatkan Bah Kanta kala ia ingin menawarkan untuk menanami tegalan di dekat sawahnya dengan bambo dan tanaman buah-buahan. Sukendar, pegawai kecamatan mengatakan bahwa itu tanah milik Negara. Akan ribet urusannya, bahkan harus sampai mengurus ke provinsi (yang bener aja pak!). Senja Bah Kanta mendadak bisu. Niat baiknya tenggelam bersama senja. Di lain waktu, Bah Kanta kembali merasakan ‘Senja yang Mendadak Bisu’ saat ia mengetahui tegalan yang dulu mau ia Tanami dengan pohon buah-buahan, kini sudah di tangan pengembang perumahan.

Gustiiii! Bah Kanta mendekap dada kirinya dengan gigi gemeretak. Seperti ada yang meremas jantungnya kuat-kuat hingga sesak—Hal. 202

Senja di tanah Sunda kembali bisu. Hanya terdengar suara deru truk pengangkut aspal yang hilir mudik masuk desa.

Cerpen di atas memang membuat saya trenyuh. Mengapa nasib orang kecil seperi Bah Kanta begitu dipinggirkan? Cerita ‘Senja yang Mendadak Bisu’ mengingatkan saya dengan istilah ‘Alih Fungsi Lahan’, dimana lahan-lahan produktif seperi tegalan dan sawah-sawah dialihfungsikan menjadi hutan beton. Ya, semoga, mereka masih bisa membisu kala tidak ada beras digantikan irisan-irisan beton.

Selamat Membaca!

Rate : 3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s