The Photographer – Cahaya untuk Hati yang Berani Tertatih

IMG_20150423_202202

Judul : The Photographer – Cahaya untuk Hati yang Berani Tertatih

Penulis : Endang SSN

Penerbit : De Teens

Tahun Terbit : 2015

ISBN : 978-602-296-085-0

***

Hanya manusia-manusia yang peka dan mau belajar yang bisa menikahi kameranya, bukan mereka yang tidak berani mencoba dan hanya berilusi menghasilkan foto keren. Fotografi itu sesuatu banget—Hal. 159.

***

Yeaay! I’ve done with another kind of #NovelProfesi!

Kali ini bertema tentang fotografi dan tentu saja, profesi yang diangkat adalah fotografer.

Tokoh utamanya, Rasta. Pemuda (pada bagian awal digambarkan sebagai anak SMA) yang ‘mencintai’ fotografi. Namun, cintanya pada fotografi terhalang oleh restu orang tua *eyaaa…

Sang ayah, Pak Hernowo, tidak menyetujui jalan Rasta di dunia visual itu. Terlebih lagi, Rasta tidak hanya menganggap fotografi sebagai hobi tapi sudah merembet menjadi cita-cita.

“…Mau jadi apa kamu kalau hanya berbekal ilmu fotografi? Jadi fotografer? Mau makan apa coba?”—Pak Hernowo, hal. 20.

Saya sebel banget sewaktu membaca kutipan di atas. Seakan-akan Pak Hernowo merendahkan profesi sebagai fotografer. Ingin rasanya bilang, “Mau makan apa? Makan nasi lah, pak!”

Selain itu ada Raja, adik semata wayang Rasta. Ia membenci Rasta dan apapun yang berhubungan dengan kakaknya itu. Raja iri karena Rasta mendapat perhatian lebih banyak dari Ayahnya, hal tersebut membuat Raja juga membenci fotografi.

“Kalau kakak nggak bersikap sok manis di depan Ayah, mana mungkin dia selalu ngebela kakak mati-matian? Bahkan untuk fotografi yang sama sekali nggak Ayah suka, dia masih ngasih kakak kesempatan untuk ke dunia itu walau Cuma sesaat.”—Raja, hal. 44.

Bahkan, cinta Rasta pada fotografi juga tidak disetujui oleh Sasa, kekasih hatinya.

“Bisa nggak sih kamu nggak motret? Muak tahu ngeliatnya! Sekarang kamu pilih, aku apa kameramu itu!”—Sasa, hal. 54.

Kalo saya jadi Rasta, saya akan bilang, “Pilih kamera lah!” Tapi, saya bukan Rasta -_-“

***

Pak Hernowo, Raja dan Sasa pelan-pelan meninggalkan Rasta karena alasan fotografi. Hanya Ian, sahabat Rasta yang mendukungnya untuk terus menekuni dunia itu. Namun, karena emosi sesaat, Rasta mau tak mau harus gantung kamera.

Pada awalnya, saya merasa kehilanga saat Rasta memutuskan untuk gantung kamera dan memilih kuliah di Desain Komunikasi Visual ITS. Namun, ia saat ia bertemu dengan teman-tema baru di Surabaya, ia jadi plin-plan.

Berhenti-nggak-berhenti-nggak.

Jujur saja, hal tsb membuat saya kesal.

***

Well, kelebihan novel ini ada pada informasi deskriptif yang diberikan oleh penulis, untuk memperkuat prosfesi fotografer. Seperti bagaimana mendapatkan hasil jepretan yang bagus dengan cara mengatur ISO, shutter, fokus kamera hingga penggunaan lensa kamera. Disini saya mendapat informasi baru lagi. Saya pikir, manual hanya ada pada pengaturan fokus lensa, tapi ternyata ada pada jenis lensa juga. Lensa  kit, lensa fix dan lensa manual.

Tapi, lama-kelamaan, saya seperti bosan dengan deskripsi-deskripsi tersebut. Terkesan *maaf to much hehehe ^^V. Selain itu, perseteruan Rasta dengan Ayahnya saya kira sedikit berlebihan. Over all, saya menikmati novel The Photographer ini. Hanya saja sensasi dunia fotografer belum saya rasakan selama membacanya.

Well, happy reading!

Rate : 3/5

The Potographer

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s