Nyanyian di Bawah Hujan – My Gloomy November

IMG_20150405_075503

Judul : Nyanyian di Bawah Hujan – My Gloomy November

Penulis : Risma Ridha Anissa

Penerbit : De Teens

Tahun : 2015 (Cetakan Pertama)

ISBN : 978-602-296-035-5

Editor : Miz

 

***

Blurb :

Bagi Ghita, November berarti kering. DUnia seolah mati. Setidaknya dunia Ghita. Berbagai kesedihan dan kehilangan yang kerap terjadi pada bulan November, membuat Ghita amat membenci bulan kesebelas itu.

Demi mencapai mimpi dan memenuhi wasiat sang Nenek, Ghita melakukan perjalanan dari Milan ke Sicilia. Bukan perjalanan yang mudah. Dikejar-kejar orang, dicemooh menjadi bumbu dalam perjalanannya ini.

Hingga pertemuannya dengan Lanzo, si pemuda aneh dan misterius ini mengubah segalanya.

Ghita pun berusaha menapaki November kali ini dan meniti jalan mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi menjadi penyanyi opera seperti sang nenek.

Maka, di bawah rinai hujan, Ghita bernyanyi. Akankah mimpinya bermain dalam opera terwujud? Apakah pada November kali ini ia harus kehilangan cinta (lagi)?

***

 Semua kebahagiaan dan impian bertransformasi menjadi kepedihan yang tak berujung. Kepedihan yang hanya bisa terobati dengan berlalunya November di tahun ini.—Hal. 16

 ***

Seperti apa yang tertulis pad blurn di atas, bulan November memang telah membuat Ghita Allonza, menitikkan air mata. Di bulan kesebelas itulah, ia kehilangan orang-orang yang ia cintai, termasuk Lestari Larasati, seorang asal Indonesia yang dikenal dalam dunia opera di Millan. Cintanya kepada sang nenek, membawa Ghita kembali ke Millan, kembali pada Papanya yang seorang diktator dan mencari sosok Tuan Castrogiovanni.

Perjalanan Ghita untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang pemain opera seperti sang nenek, tidaklah mudah. Ia harus kucing-kucingan dengan dua pengawal utusan sang Papa, dikecewakan Beniqno sebagai sahabat masa lalu, ditantang battledance di jalanan Milazzo hingga bertemu dengan Lanzo dan sahabatnya, Aldi, dan membuka kenangan masa lalunya.

***

Penulis menceritakan kisah Ghita dengan penuh misteri. Saya langsung penasaran saat Ghita pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Malpensa, Milan. Dengan bermodal secarik surat peninggalan mendiang Nonna (panggilan untuk nenek dalam bahasa Italia), Ghita menguatkan tekat untuk kembali menghadapi sang papa. Rasanya seperti menonton film penelusuran atau investigasi! Dan, yang membuat saya tambah penasaran lagi, sebenarnya siapa sih, papanya Ghita itu? Sampai-sampai beliau harus menyewa dua orang pengawal untuk Ghita?

Satu bintang untuk rasa penasaran yang dibangun penulis untuk pembacanya!^^

 

Kemudian muncul tokoh Beniqno. Saya pikir, Beniqno adalah tokoh protagonist yang sengaja dibuat penulis untuk teman hidup (?) Ghita. TERNYATA SAYA SALAH! Pria yang digambarkan maskulin dan beroma rosemary (ini seperti apa ya aromanya?) ternyata adalah pria yang membuat Ghita kecewa.

“Seharusnya kau tak perlu bersusah-susah melarikan diri. Toh, percuma saja! Kemana pun kau berlari, jejakmu pasti terdeteksi dengan mudah!”—Hal. 39

Beniqno ternyata kaki tangan Papa Ghita. Ia bahkan tak segan-segan untuk mencengkeram lengan Ghita dengan kasar, saat Ghita akan melarikan diri.

Gemes! Kok ada ya, cowok macam Beniqno itu, hih!

Satu bintang lagi saya berikan untuk pembangunan karakter Beniqno yang membuat saya gemes dan ingin menampar mencubit cowok itu!

 

***

Kelebihan novel ini ada pada ide ceritanya. Penulis agaknya tidak mau membuat pembacanya mudah menebak isi cerita dari  perjalanan Ghita ke Millan. Penulis mengungkapkan printilan-printilan kisah yang membuat bulan November kelabu Ghita ke permukaan dengan rapi. Selain itu, banyak pengetahuan yang saya dapat tentang Italia dengan kota-kotanya yang mempesona seperti Millan, Sicilia, dan Milazzo. Yang saya tahu, Millan adalah kota mode dengan deretan butik branded dunia berada. Namun, ternyata Millan menyimpan culture yang belum sempat saya ketahui, seperti makanan tradisional panforte dan negroni, Gedung Opera Teatro Greco dll.

Ada kelebihan tentu ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, bukan?

Disini saya akan menyoroti beberapa bagian yang menurut saya membingungkan dan beberapa bagian yang perlu dikoreksi.

Ibarat es balok yang terlalu lama didiamkan di luar lemari pendingin. Meleleh. Mencair. Lembek…—Hal. 144

Saya kurang setuju dengan penggunaan kata lembek. Menurut saya, kata lembek kurang merepresentatifkan ungkapan ibarat es balok yang terlalu lama didiamkan di luar freezer. Lembek dalam benak saya itu seperti nasi yang dimasak dengan air yang berlebih, seperti bubur.

 

Hal. 146 menceritakan Ghita tengah menunggu giliran untuk  audisi di Teatro Graco, kemudian seorang pemuda yang tidak ia kenal, duduk di sebelahnya. Ghita dan pemuda itu lalu terlibat pembicaaran yang asik.

Ghita : Ah, aku tahu! Kau pasti menginginkan peran Duke dari Mantua? Menggantikan…

Him : Tidak juga…

Namun, pada bab awal disebutkan bahwa Ghita tidak mudah akrab dengan orang lain.

“Aku bukan tipikal gadis yang mudah akrab dengan orang lain.”—hal. 8

Dan, saya akhirnya bingung dengan kerakter Ghita. Apakah ia gadis yang tidak mudah akrab dengan orang lain? Atau gadis komunikatif yang senang berinteaksi dengan orang asing?

 

Hal. 164 menceritakan bahwa Ghita menampar Francesco karena pria itu telah membuat Lanzo, terkapar masuk rumah sakit. Kemudia Ghita berkata sesuatu yang berlawanan dengan tindakannya itu.

“Aku memang tak mengerti alasanmu memukul Lanzo. Tapi kupikir, kalaupun dia yang salah, seharusnya kalian bisa membicarakan masalah ini baik-baik.”

Yang ini juga membuat saya bingung dengan karakter Ghita. Ia menampar Francesco kemudian ia mengatakan bahwa seharusnya Francesco dan Lanzo bisa membicarakan masalah tsb baik-baik.

“Mungkin menampar adalah cara Ghita untuk mengekpresikan membicarakan masalah secara baik-baik” Hehehe ^^V

 

Aku termenung. Diam seribu basa.—Hal. 180.

Basa yang dimaksud apakah keadaan dengan pH di atas 7? Ataukah typo dan yang dimaksud penulis adalah diam seribu bahasa? Ah, saya pikir, itu adalah typo hihihi.

 

Publik terpengaruh oleh berita-berita di media massa yang tidak bertanggung jawab.—Hal. 200

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal redaksional pada kalimat di atas. Tapi menurut saya, makna kalimatnya agak gimana gitu hehehe. Dari kalimat di atas akan menimbulkan stereotip bahwa media massa memang tidak bertanggung jawab. Padahal dalam hal ini, media massa termasuk di dalamnya adalah pers (yang professional tentunya) menurut saya adalah sekelompok orang yang dapat mempertanggungjawabkan berita yang mereka siarkan.

Aduh, kok ini malah melebar *sungkem

 

Oh iya, dan satu lagi mengenai cover serta pemilihan judul.

Pada cover menggambarkan seseorang tengah menengadah ke langit saat hujan. Dan yang membuat saya terganggu adalah efek brush dengan pattern maple leaves yang memberikan efek daun yang berguguran. Agak aneh aja, di Italia sana ada fenomena alam dimana hujan bersamaan dengan gugurnya daun-daun. Dan lagi, warna daun yang bermacam-macam, dari hijau, kuning hingga jingga. Hehehe

Untitled-3

 

Daaan, ada typo untuk penulisan nama kota di sampul depan. ‘kebahagiaan itu ada di langit sicilia’ setahu saya, untuk penulisan nama kota selalu di awali dengan huruf kapital yaitu Sicilia.

Untitled-2

 

Selain itu untuk pemilihan judul ‘Nyanyian di Bawah Hujan’. Nampaknya sepanjang perjalanan Ghita dari bandara Malpensa hingga akhir, Ghita belum pernah sekalipun bernyanyi di bawah rintik hujan. Padahal, adegan ini yang saya tunggu-tunggu. Mohon dikoreksi apabila saya kurang cermat. Ataukah ada makna implisit dari pemilihan judul ‘Nyanyian di  Bawah Hujan’? *panggi-panggil penulisnya* 😀

 

***

Over all, saya memberikan dua bintang untuk petualangan Ghita di bulan November yang nampak gloomy. Happy reading y’all!^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s