Terminal Hujan – Indahnya Berbagi Rintik Harapan di Kota Hujan

myhome

Judul   : Terminal Hujan

Penulis : -hQZou-

Penerbit : de Teens

Tahun terbit : 2015

Editor : Diaz

ISBN : 978-602-255-810-1

***

“Aha! Bagaimana kalau namanya Terminal Hujan?”

“Oke, kanapa ide gue Terminal Hujan? Pertama, kata Ica, Kebon Jukut itu lokasinya ada di belakang Terminal Baranangsiang. Kedua, karena Bogor adalah kota hujan.”—Hal. 61.

 ***

Pertama kali saja membaca judulnya, saya langsung bertanya-tanya apakah Terminal Hujan itu? Apakah sebuah terminal tempat para ilmuan mengukur curah hujan seperti yang ada di mata kuliah Klimatologi? Ataukah sebuah terminal bus yang setiap hari turun hujan?

Jeng-jeng…

Dan semua spekulasi saya salah.

Seperti yang telah dijelaskan oleh kutipan di atas, bahwa Terminal Hujan merupakan gabungan antara sebuah tempat di belakang Terminal Baranangsiang dan Kota Bogor. Lalu tempat apakah itu?

Setelah gooling, akhirnya saya menemukan sebuah official website dari komunitas ini. Berikut adalah sepenggal cerita tentang Terminal Hujan.

1

***

Novel ‘Terminal Hujan’ ini merupakan sebuah novel yang terinspirasi dari sebuah komunitas dengan nama yang sama tersebut. Cerita berawal dari Valesia yang akrab disapa ‘Ica’, seorang lulusan Psikologi UI yang prihatin dengan dunia pendidikan anak-anak di kota Bogor. Berangkat dari kepedulian itu, Ica kemudian mengajak serta teman-teman alumni SMA-nya untuk sedikit memecahkan masalah tersebut.

Ica, kemudian bertemu dengan Umi Hasna, pendiri salah satu sekolah non-formal untuk anak-anak di Kebun Jukut, Bogor. Ica dan kawan-kawan akhirnya bergabung dengan Umi Hasna, mengajar anak-anak daerah Kebun Jukut di setiap akhir minggu dan disanalah ia bertemu kembali teman kecil yang bernama Farah.

***

Di dalam novel ini penulis seakan mengajak kita untuk mengikuti perjalanan dari awal Terminal Hujan terbentuk, terbentur masalah lokasi dengan kelurahan, sampai profilnya dimuat dalam sebuah Koran. Tentu saja ceritanya tidak melulu tentang kegiatan belajar mengajar, tapi disisipi dengan cerita khas keluarga dan tentu saja, cinta!

***

Cerita khas keluarga menggambarakn sebuah keluarga pas-pasan penjual nasi uduk yang mempunyai seorang anak bernama Farah. Ia dianggap anak bodoh oleh ibunya sendiri karena tinggal kelas. Farah takut dan sedih. Takut karena akan pukulan ibunya dan sedih karena ingin membantu sang ayah berobat dengan cara mengamen.

Melihat sang ibu mengatakan ‘bodoh’ pada anaknya sendiri, akhirnya Ica, berusaha membantu Farah dalam hal berlajar di Terminal Hujan.

 ***

Lain halnya dengan Agda, dokter muda ini menjadi dekat dengan Ica karena sama-sama jadi pengajar di Terminal Hujan. Kisah cinta yang malu-malu ini membuat saya geregetan!

Bagaimana tidak? Ica yang sebenarnya dari dulu sudah mendamba Agda secara diam-diam, hanya bisa menunggu Agda untuk mengutarakan cintanya. Sementara Agda, yang juga menyimpan rasa untuk Ica, belum menemukan waktu yang pas untuk itu. Sampai akhirnya Agda membuat Ica menunggu.

 ***

Novel ini mengajarkan saya bagaimana sebenarnya dunia pendidikan di Indonesia. Banyak anak-anak yang berjuang untuk dapat bersekolah sembari berjuang sebagai kaum marginal. Dan, dengan novel ini pula saya belajar akan indahnya arti berbagi itu. Seperti yang diajarkan oleh Ica dan kawan-kawan melalui Terminal Hujan. Selain itu, saya juga dapat belajar bagaimana cara menghadapi anak kecil untuk belajar, yaitu dengan membuat suasana hatinya senang terlebih dahulu.

Dua bintang saya berikan untuk nilai-nilai positif yang telah penulis berikan kepada saya melalui novel ini.

 ***

Namun, di samping itu, saya juga menyoroti beberapa hal, diantaranya :

Hal. 31

“Pertahankan terus nilai-nilai Ananda Rifki, ya, bu? Ananda Rifki anak yang cerdas, luar biasa…”

Bu Siti, ibunda Farah, hanya tersenyum mangkel melihat kejadian itu. Ia iri dan ingin anaknya seperti Fitri.

Bu Evi—ibu guru Farah di SD, menyebutkan bahwa teman sekelas Farah yang bernama Fikri adalah murid yang cerdas, mendengar hal tersebut, ibu Farah iri dan ingin anaknya secerdas Fitri. Mungkin yang dimaksud adalah secerdas Fikri.

Hal. 82

Di kejauhan, seorang polisi berhasil menciduk seorang oengendara beserta pembonceng motor yang tak dapat kedapatan membawa helm.

Kata ‘membawa helm’ mungkin kurang pas digunakan. Menurut saya, akan lebih pas apabila kata tersebut diganti dengan ‘memakai helm’ atau ‘mengenakan helm’ sesuai dengan UU RI no. 22 tahun 2009.

2

Sering terjadi salah sebut antara ‘Tisa’ atau ‘Farah’.

Hal. 86

Tisa—yang menyampir ukulele di pundaknya—tiba pertigaan lampu merah sambil bersiul. Ia terlonjak melihat Farah yang diseret paksa oleh ibunya. Langsung saja, Tisa menghambur ke arah ibu-anak itu.

“Bu, jangan seret Tisa, Bu. Lepaskan dia, Bu!” sergah Tisa.

Menurut saya, bagian yang saya tulis dengan huruf tebal seharusnya Farah, mengingat Tisa baru saja mengetahui bahwa Farah tengah diseret oleh ibunya. Terkesan aneh dan agak membingungkan apabila Tisa yang baru datang kemudian diseret oleh ibu Farah, yang sebelumnya dijelaskan tengah menyeret anaknya itu.

Hal. 101.

Tisa pun tidak mau ketinggalan. Ia ingin menikmati masa-masa indah ke pasar malam bersama ayah dan ibu tercintanya—dan berharap bisa mengais rezeki di tempat itu.

Baru saja keluar dari sebuah tenda makan setelah mengamen, Farah melihat sekelebat…

Mungkin yang dimaksud seseorang yang baru saja keluar dari warung makan tenda adalah Tisa.

***

Di samping semua kelebihan dan kekurangan yang ada di novel ini, saya menambahkan bintang satu lagi untuk membawa saya mengenal apa itu Komunitas Terminal Hujan, tentang berbagi dan melihat indahnya senyum anak-anak.

Untuk kakak penulis, kalau saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke Bogor, bolehkah saya singgah sebentar untuk melihat senyum adik-adik di Terminal Hujan?

Salam senyum dari saya! Hehe

***

“Namanya juga anak-anak. Terkadang imajinasinya tak bisa dijangkau oleh orang dewasa.”—Hal. 77

Iklan

2 thoughts on “Terminal Hujan – Indahnya Berbagi Rintik Harapan di Kota Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s