Aku Menunggumu – Sampai Titik Jenuhku Tiba

 20150326_050104

Judul : Aku Menunggumu – Sampai Titik Jenuhku Tiba

Penerbit : De Teens

Tahun Terbit : 2015

Cetakan : Pertama

ISBN : 978-602-255-803-3

***

Pernah dengar cinta segitiga?

Udah biasa kan?

Kalau cinta segiempat? 

Jujur saja saya baru denger dan jarang ditemukan.

Itulah yang dialami oleh Kalea, gadis Hawaii yang terjebak dalam cinta segi banyak itu.

KALEA – RUKA – KONANE – MALIA

Semuanya berawal dari alat musik Ukulele. Kalea yang sempat trauma dengan alat musik yang mengingatkannya pada mendiang ibunya itu, akhirnya meminta Ruka untuk mengajarinya bermain Ukulele. Bermain Ukulele sama saja mengais kenangan indah bersama Sang Ibu. Tapi, semua itu dilakukan Kalea dengan sepenuh hati.

***

Novel ini menggambarkan latar kepulauan Hawaii, lengkap dengan University of Hawaii Manoa, pantai-pantainya yang indah serta lengkap dengan sajian tarian khas Hawaii. Salah satu tarian yang disebutkan pada novel ini adalah Kokohi dengan iringan musik Ka Nohona Pili Kai yang syahdu.

Satu bintang saya berikan untuk pengetahuan baru yang menarik hati ini. Yeeaay!

***

Aku menunggumu, sampai titik jenuhku tiba.

Judul novel ini menurut saya mempunyai makna yang dalam. Seseorang akan setia menunggu sampai pada titik dimana ia akan merasa jenuh atau dapat dikatakan sampai ia bosan sendiri. Tentunya kadar jenuh setiap orang berbeda-beda. Begitu juga dengan Kalea dan Ruka. Kedua tokoh utama ini saling menunggu akan cinta, namun dengan objek yang berbeda.

Cerita kemudian diramaikan dengan kehadiran Konane dan Malia. Konane merupakan tokoh sekunder protagonis dan Malia merupakan tokoh sekunder antagonis. Malia yang selalu merasa tersaingi oleh kehadiran Kalea, tak disangka mebawa perubahan besar pada hidup Kalea. Ada sebuah hal yang membuat Kalea harus berhenti menunggu yang berkaitan dengan kehadiran Malia di kehidupannya.

Lalu bagaimana dengan Konane? Awalnya saya sempat simpatik dengannya, namun setelah apa yang ia ucapkan pada Kalea saat ia telah lulus kuliah membuat saya berpikir ulang.

“Tunggu aku di musim penghujan berikutnya. Aku akan kembali untuk menemuimu lagi. Aku tahu kau pasti menungguku.” Hal. 171

Konane meminta Kalea untuk menunggu dirinya yang akan pergi dari Hawaii, sementara ia sadar, ia sudah mempunyai kekasih. Cowok macam apa? 

Terima kasih pada penulis yang telah membuat saya terbang lalu terjatuh pada waktu yang hampir bersamaan gara-gara Konane. Terima kasih, Vi! *elap air mata*

Bagaimana dengan penantian Ruka? Adakah progres?

Jawabannya : TIDAK.

Ruka juga tengah menunggu seseorang dari masa lalunya. Teman masa kecil yang kini menganggu pikirannya karena ternyata ia selalu ada, lengkap dengan senyum. Namun, seseorang yang ditunggu Ruka ternyata tengah menunggu orang lain juga. Dan Ruka secara sadar mengetahui hal tersebut dan hanya ia simpan dalam hati.

Kalea da Ruka menunggu sampai hitungan tahun. Lama juga ya? Namun, semuanya akan berakhir indah apabila dilakukan dengan kesabaran. Begitu pula dengan Kalea dan Ruka.

1

Satu bintang lagi saya berikan untuk jalan cerita yang cukup njelimet* ini.

***

Kelebihan dari novel ini adalah pengenalan budaya baru yang menurut saya menarik. Budaya hawaii dengan tarian dan musiknya, serta bagaimana cara memainkan ukulele menjadi tambahan pengetahuan bagi saya. Terlebh lagi saya beranggapan bahwa ukulele itu berasal dari Indonesia, tapi ternyata dari hawaii –“

Selain itu, penulis memberikan cerita yang lain daripada biasanya. Cinta segiempat, nah lho! Dan melalui novel ketiga dari Vivi ini, saya menemukan ciri khas yaitu penggunaan istilah air mata dengan ‘ air bening yang jatuh dari mata’.

Ada kelebihan tentunya ada kelemahan, bukan? Kelemahannya yaitu kurangnya sisipan bahasa Hawaii pada isi cerita. Penulis banyak menyisipkan kata Aloha!Maloha! Ano’i dan Aloha wau i’a oe!  Mungkin bila ditambah kosakata yang lain, suasana Hawaii-nya akan semakin hidup.

Satu lagi, pada hal. 86 sepertinya terjadi salah ketik.

Ruka

Kelas bahasa berakhir dan aku belum menemukan Ruka seharian ini…

“Kalea?”

Aku menemukan Konane di hadapanku. Konane? Oh, lama sekali aku tak bertemu dengannya–hm, mungkin aku terlalu berlebihan.

POV yang digunakan saya rasa bukan Ruka, melainkan Kalea. Mohon dikoreksi apabila kurang berkenan.

Aloha nui loa!
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s