The Chef – Looking for ‘Pangeran Puding’

IMG_20150217_065736

Judul : The Chef – Looking for ‘Pangeran Puding’

Penulis : Hanna Enka

Penerbit : Mazola

Cetakan : Pertama, 2015

ISBN : 978-602-255-689-3

***

Blurb

Feba merasa masa lalunya seolah-olah kembali berjalan menghampiri begitu ia menginjakkan kaki di Miami. Keputusan gadis itu untuk kembali ke Miami selain meniti karier menjadi koki, memang untuk menemukan pangeran pudingnya.

Pejalanan panjang Feba mencari pangeran pudingnya mempertemukannya dengan cerita baru. Membimbingnya menemukan kembali keluarga, cinta, persahabatan, dan tentu saja resep-resep baru.

“Sekarang, aku mengerti. Ternyata ini maksud perkataan Jamie Oliver, masakan yang enak tidak selalu harus buatan tangan.”

***

“Makanan memang selalu bisa membangkitkan ingatan seseorang.”Hal. 83

Feba Clarina, seorang gadis yatim piatu berusaha mencari pangeran pudingnya yang telah lama menghilang di Miami, Florida. Dengan berbekal resep pudding yang pernah diberikan oleh pangeran pudingnya itu, ia mengalami petualangan cinta, pertemanan, dan sakitnya penghinaan.

Feba berjuang seorang diri di Miami. Ia bekerja di sebuah Café di Giralda Ave dan bertemu dengan Demian, laki-laki yang dengan ‘tiba-tiba’ memberikan jaketnya saat cuaca tengah dingin.

Rein—kakak Demian, terseret masuk ke dalam kehidupan Feba. Ia adalah pemilik restoran seafood yang cukup terkenal di Miami. Perkenalan Rein dan Feba yang agak buru-buru karena peristiwa ‘salah sangka’ berhasil membuat Feba sedikit demi sedikit menemukan siapa sebenarnya sosok pangeran pudding yang ia cari.

Life is never flat, sesuai dengan pepatah itu, kehidupan Feba juga tak selalu mulus. Ia bahkan sempat kena tamparan oleh Sienna, seorang top model yang cemburu melihat kedekatan Feba dengan Demian dan Rein.

And finally, setelah bersakit-sakit dahulu, Feba menemukan sosok pangeran pudding yang selama ini ia cari.

***

Cover

Cover dari novel ini eye catching banget!

Dengan warna pastel background dan ilustrasi seorang chef yang tengah memegang pan. Jenis huruf yang digunakan juga pas dan tidak berlebihan.

Satu bintang saya tambahkan untuk keindahan cover-nya! Hehe

***

Isi

Awalnya, saat melihat tagar #NovelProfesi pada cover depan, saya sudah merasa excited. Karena sebuah novel profesi yang sebelumnya saya baca berhasil membuat perasaan naik-turun tak karuan.

Namun, setelah 288 halaman berhasil saya rampungkan, saya belum juga menemukan sensasi membaca novel profesi. Bagaimana ya? Penulis cenderung menekankan kehidupan pribadi dari tokoh utama dibandingkan dengan profesi yang diangkat dalam novel ini, yaitu seorang chef. Meskipun penulis juga menyertakan beberapa adegan tokoh utama yang sedang membuat sesuatu, dilengkapi dengan resep-resep.

***

Latar

Latar yang diangkat penulis adalah Miami, Florida. Penulis menggambarkan keindahan pantai Miami dan beberapa tempat wisata yang bahkan saya baru tahu saat membaca buku ini. Seperti Everglades National Park, sebuah taman wisata alam yang tidak hanya menyuguhkan wisata keindahan alam namun, kehidupan liar yang ada di dalamnya. Iseng-iseng saya gooling tentang tempat ini, dan benar saja. Ternyata memang ada populasi buaya liar yang menghuni tempat wisata ini. Hiii.

sumber : gogobot.com

sumber : britannica.com

Oh ya, selain itu, saya juga terkesan dengan riset yang dilakukan penulis pada adegan cooking challenge antara Feba dan Sienna.

“…aku sudah mendatangkan patissier nomor satu dari Cantina.”Hal. 117

Penulis menyebutkan bahwa persiapan pertandingan masak antara Feba dan Sienna membutuhkan waktu satu jam. Saya iseng lagi untuk mencari berapa waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bisa datang ke daerah Giralda Ave dari Cantina. Saya memanfaatkan google maps dan boom! Ternyata hanya membutuhkan waktu 34 menit dengan berkendara mobil (without traffic jam).

1

sumber : googlemaps

Satu lagi bintang saya tambahkan untuk The Chef!

***

Namun ada beberapa hal yang saya soroti dalam novel ini.

Pertama

Pada hal. 164 diceritakan Sienna memenangkan tawaran untuk membintangi iklan Magnum.

Pada hal. 172 diceritakan proses shooting iklan dengan Sienna yang berpose tengah memegang satu cup es krim.

Setahu saya Magnum bukanlah sebuah ice cream cup, namun sebuah stick ice cream.

sumber : icecreamsource.com

Kedua

“…mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambut pembuatan iklan itu.” Hal. 177

Saya menangkap percakapan yang dilakukan teman Sienna tersebut, bahwa mereka tengah membicarakan soal pembuatan iklan es krim Magnum yang sebelumnya sudah dicertikana oleh penulis.

Namun, saya menemukan ada hal yang janggal. Karena pada beberapa halaman sebelumya, tepatnya saat Sienna mengundang Demian untuk datang ke pestanya.

“Ini pesta perayaan iklanku yang sudah rilis.”Hal. 160

Kata-kata yang saya tulis dengan huruf tebal tersebut mempunyai makna yang saling bertolak belakang.

Bukankah sebuah iklan akan dirilis, apabila iklan tersebut sudah selesai dibuat?

Ketiga

Setelah saya amati, agak sedikit kurang sinkron antara tokoh feba dengan judul novel ini “The Chef”. Karena di dalam cerita saya banyak menemukan bahwa Feba lebih sering membuat cake atau sejenis kue daripada masakan. Walaupun terdapat sebuah adegan Feba memasak rendang dan beberapa masakan lainnya. Namun, saya melihat Feba lebih sering membuat cake atau kue. Jadi, menurut saya, akan lebih pas jika judul novel ini adalah “The Patissier”.

Nama cake / kue yang feba buat dalam novel :

Strawberry Shortcake

Rice Cake

Chocolate Maccaroon

Yogurt Mousse

Peach Pie

Mont Blanc

***

Well, kelebihan novel ini adalah riset yang dilakukan oleh penulis patut diacungi jempol. Penggambaran pesisir Miami dan berbagai tempat di Miami membuat saya terdorong untuk men-googling. Namun, kelemahannya adalah ada beberapa hal yang membuat saya bingung sehingga harus membaca ulang beberapa bagian novel (3 hal yang saya soroti di atas.)

Saya harus menahan diri karena harus memberikan dua bintang pada novel ini.

Di samping kelemahan dan kelebihan yang sudah saya utarakan, novel ini patut dibaca. Apa lagi bagi kalian yang tertatik di bidang pastry dan hobi jalan-jalan.

Happy reading!^^

Iklan

4 thoughts on “The Chef – Looking for ‘Pangeran Puding’

  1. Hmmm…. saya belum pernah baca novel ini sebenernya… tapi kalo baca dari review yang ditulis sama Mbak Arintya ini jadi paham lah garis besar novel ini seperti apa… but…. cuma perasaan saya saja, atau emang sebagian besar komponen dari plot novel ini hampir mirip sama cerita dari komik jepang Kitchen Princess?

    Soalnya gini… pertama, kedua tokohnya sama-sama anak gadis yatim-piatu yang hobi masak dan terjun dalam dunia masak-memasak. Kedua, mereka sama-sama cari orang yang mereka sebut “Pangeran Pudding”. Ketiga, dua gadis itu sama-sama dekat dengan dua orang pemuda dan kedekatan itu membuat dia dicemburui oleh seorang gadis yang menjadi model papan atas.

    Bedanya mungkin di bekal untuk cari Pangeran Pudding itu, kalo di novel ini resep pudding, kalo di komik itu cuma sendok pudding (hell yeah… sendok pudding… ._.). Terus, latarnya juga beda, kalo novel ini latarnya di Miami, kalo komik itu -sudah pasti- latarnya di Jepang. Bedanya lagi juga kalau di novel ini diceritakannya para tokohnya sudah dewasa (yaahh usia kerja…) kalau di komik itu tokoh-tokohnya masih anak-anak SMA yang unyu dan menggemaskan (?). Dan tokoh model di Kitchen Princess itu sama sekali nggak bisa masak, berbeda dengan tokoh di novel ini yang menunjukkan bahwa si model bisa masak.

    Yaaa…. saya sama sekali nggak punya ide sih dengan kemiripan yang saya temui di kedua karya ini. Mungkin pengarangnya terinspirasi dengan cerita Kitchen Princess? atau mungkin cuma kebetulan yang menyenangkan? Karena ide cerita itu sebenernya banyak yang memikirkan, bisa saja satu ide dipikirkan oleh sepuluh orang sekaligus, cuma dia yang cepat dan cerdas aja yang bisa mengklaim duluan sebuah ide… hehehe^^. Tapi terlepas dari itu, setelah saya baca review mbak, saya pikir buku ini menarik juga, apalagi mungkin saja saya bisa menemukan seluk-beluk patisserie yang belum pernah saya temui juga…^^

    Anyway, nice review, nice blog jugaa…^^ gak bosen buka-buka setiap entrynya… hehehe^^… senang bisa “discover” blog ini secara tidak sengaja…. 😀
    Nice to meet ya! dan… Sori saya ngesai di kolom komentar… hahaha XD

    • Halo Swidya, salam kenal yah! 😀
      Terima kasih udah mampir kesini

      Anw, aku suka deh dgn istilah kamu ttg “kebetulan yang menyenangkan”, karena aku juga sering menemukan hal tsb di beberapa novel yang pernah aku baca. Bukan kebetulan menyenangkan dengan komik, melainkan dengan film. Bikin gemes nggak sih? Hehe

      Dan, aku jadi penasaran dan pingin baca deh komik jepang “Kitchen Princess” itu. Udah lama sekali, aku nggak baca komik. Hihi.

      Love,
      Arintya 🙂

  2. Hai, salam kenal…

    Kalau menurutku secara gak langsung itu seperti bilang kalau novel ini mengkopi versi komik kitchen princess kan, ya??

    Tapi menurutku sih, kalau pada tahu, komik kitchen princess pun gak pure asli Natsumi Ando. Komik itu juga diklaim plagiat.

    Lagipula, aku mah sependapat sama kak Raditya Dia yang bilang “Lo boleh curi alur, Lo boleh curi idenya. Selama lo menceritakan kembali dengan versi lo, itu bisa dibilang menghasilkan karya yang baru.”

    Lagian, jaman gini? Susah kali bisa dapat ide yang benar-benar pure. Bahkan penulis Davinci Code sudah beberapa kali digugat karena katanya plagiat.

    Apa ya, kalau menurutku, kita menulis juga terinspirasi dari membaca sesuatu. Makanya ada pepatah bilang , biar kamu bisa menghasilkan tulisan yang bagus, banyak-banyaklah membaca. Nah, sebaiknya gak usah membaca kali ya, biar gak terbayang-bayang akhirnya malah mirip dan dikatain ngikutin… Hehehehe

    Toh prinsip hidup daur ulang. Sama kek sinetron, banyak pake hilang ingatan tapi intinya ya muter muter di situ doang..

    Selama dia bisa menceritakan versi dia sendiri, rasanya itu original.

    Atau apa sih bedanya plagiat sama yg nulis mirip2? Setahuku plagiat adalah yang kopi karya semua persis, sama, tanpa perbedaan yang berarti.

    Lebih lebih kita kadang mengomentari berlebihan, kayak kita bisa nulis aja lebih baik daripada mereka-mereka. Contohnya kek kecil-kecil punya karya, kan banyak yang mirip sama cerita anak-anak versi luar.

    Atau singkatnya, indonesia semua penulisnya bajakan kali yak?? Hehehehe

    Aku pengen baca ini juga deh kalau begitu… Terima kasih reviewnyaaaa… Menggugah selera

    • Halo Katya Dominique!
      Salam kenal ya 🙂

      Terima kasih udah mau membaca review yang menggugah selera ini, hehe. Kamu jadi laper nggak setelah baca review ini? 😀
      Thanks juga atas komentar kamu yang nggak kalah menggugah selera mengenai plagiat, kutipan dari Kak Raditya Dia (Raditya Dika mungkin maksudnya :D) dan banyak lagi.

      Tapi kalo menurutku, ‘kebetulan yang menyenangkan’ dengan ‘plagiat’ itu beda sih. Menurutku lho, kan kalo pendapat orang nggak ada yang salah. Hihihi.

      Selamat membaca, ya!

      Love,
      Arintya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s