The Doctor – Dokter Bukan Malaikat

Camera 360

Judul  : The Doctor – Dokter bukan Malaikat

Penulis : Rahadi W. Pandoyo

Penerbit : Mazola

Cetakan : Pertama, 2015

“Seumur hidup kau membanting tulang mengumpulkan rupiah demi rupiah. Begitu salah mengobati orang, seorang sarjana hukum akan menuntutmu dan habislah segala yang kau miliki.”

The Doctor, Rahadi W. Pandoyo

Dari beberapa #novelprofesi yang pernah saya baca, The Doctor merupakan novel yang menjadi favorit saya. Novel ini menceritakan tentang Adib Farhan Muzakki, seorang dokter muda yang jatuh bangun dalam menekuni profesinya sebagai dokter umum yang belum mengambil spesialis. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini, berangkat dari seorang anak buruh pabrik tahu yang menggantungkan nasib pada sebuah stetoskop, demi kehidupan yang lebih baik. Tak tahunya, Tuhan masih sayang dengan pemuda ini. Adib diberikan alur cerita kehidupan yang naik turun, meskipun dari novel ini diceritakan banyak turunnya.

***

Cerita Adib dibuka dengan kesialan. Saya bahkan tidak menyangka kalau sesama dokter bisa saling menjegal, sama seperti yang dialami Adib. Ia ‘dijegal’ oleh teman sesama dokter di RS. Kiara Medika, dan harus merelakan pekerjaan pertamanya itu. Adib, lelaki berambut keriting dan berkacamata minus itu tidak bisa berbuat apa-apa, selain mencari pekerjaan baru dan pandai-pandai mengelola sisa uang di tabungan agar istri dan calon anaknya bisa makan. Tiga bulan lamanya Adib terus mengirim lamaran ke rumah sakit-rumah sakit, namun tak banyak yang membalas lamarannya. Sampai akhirnya ia mendapat pekerjaan baru sebagai dokter jaga malam di sebuah klinik di Tangerang. Gaji yang diterima Adib tidak seberapa, ia terpaksa mencari tambahan menjadi tukang parkir. Cemoohan keluarga sang istri tidak ia hiraukan. Baginya, selama masih halal, akan ia lakukan demi istri yang menunggunya setiap minggu.

“Lagi pula sehina apa pekerjaan tukang parkir menurut mereka? Aku bukannya menggarong atau merampok. AKu mencari uang halal.”—Hal. 84

Hari sial Adib nampaknya masih ada. Ia ‘dikadali’ oleh pasiennya khingga ia harus bertanggung jawab untuk membayar seluruh tagihan rumah sakit yang meludeskan semua uang tabungannya. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin peribahasa tersebut pantas untuk menggambarkan keadaan Adib. Di samping ia dikadali oleh pasiennya, Adib juga harus kehilangan calon bayi yang ada di rahim istrinya, Nirmalasari. Yang saya tidak habis pikir adalah, perlakuan keluarga Nirmalasari terhadap Adib. Mereka menatap Adib dengan tatapan dingin dan menghakimi, seolah-olah ia penyebab kematian dari sang jabang bayi. Meskipun tidak dipungkiri, Adib memang terlalu sibuk untuk mengurus klinik dan pekerjaan samping lainnya.

Adib bisa merasakan keluarga Nirmala menimpakan seluruh tanggung jawab atas kejadian ini padanya. Mereka menyalahkannya bulat-bulat. Entah apa yang dikatakan Nirmala pada keluarganya, yang jelas mereka kelihatan sangat marah.—Hal. 127

Selain itu, saya juga dibuat trenyuh saat Adib menemui bayinya yang terbujur kaku di kamar jenazah. Bagaimana sih, perjuangan seorang ayah yang mati-matian mencari nafkah namun disambut tatapan menghakimi dan menyadari anaknya telah tiada?

Adib tidak bisa menahan air mata lebih lama lagi. Beberapa butir menggelinding membasahi pipinya. Dibelainya kepala janin yang rambutnya masih tumbuh tipis sekali itu. Ia berusaha agar tidak menangis. Tapi, tak urung isakannya keluar juga.—Hal. 125

Kesialan Adib yang datang bertubi-tubi membuat Adib mempertanyakan apakah ia pantas untuk tetap menjadi seorang dokter? Dulu, ia bertekad untuk menyelesaikan kuliahnya di kedokteran untuk mengubah nasib. Ia bahkan rela tidur di masjid dan makan lauk kecap untuk beberapa bulan demi uang kuliah. Sekarang, setelah ia lulus, ia bahkan hampir tidak bisa mengirimi uang bulanan yang cukup untuk istrinya.

Dokter tidak pernah diajari cara mencari uang. Kebanyakan dokter akan menjadi buruh, menerima gaji dan bekerja di bawah perintah majikan, baik sebagai PNS ataupun karyawan swasta.—Hal. 98

***

Selama membaca novel ini, saya seperti diajak untuk berpikir realistis. Ucapan yang keluar dari mulut saya saat itu adalah, “Oh, ternyata seperti ini tho, kehidupan dokter…”

Awalnya saya berpikir sama seperti masyarakat umumnya, bahwa semua dokter pasti berkecukupan dan mapan. Sebuah stereotip. Jauh sekali di bayangan saya akan perjuangan dokter muda seperti Adib ini. Ternyata sungguh tidak mudah untuk menjadi dokter, di tengah masyarakat yang masih menganggungkan betapa terhormatnya status seseorang sebagai dokter.

Tuntuan masyarakat agar dokter menjadi sosok yang bagaikan malaikat itu menjadi beban berat yan tak satu pun dokter sanggup menanggungnya.—Hal. 171

***

Adib, dokter muda yang sempat menggantungkan stetoskopnya dan memilih bekerja di gudang supermarket, agaknya memang ditakdirkan untuk tetap berjalan sebagai kodratnya sebagai lulusan kedokteran. Melalui teman semasa kuliahnya dulu, ia dipertemukan lagi dengan ‘stetoskopnya’. Walaupun disertai dengan adegan-adegan menengangkan karena kepalanya terkena sabetan kapak merah, Adib kini menerima keadilan. Keadilan semasa ia ‘dijegal’ dulu dan keadilan bahwa sepasang suami istri memang seharusnya bersama. Ya, Nirmalasari yang setelah kematian calon anak mereka pulang ke rumah orangtuanya di Indramayu, akhirnya memutuskan untuk kembali ke pelukan suaminya.

***

Dari cerita ini, dapat diambil sebuah pelajaran berharga. Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan umatnya. Adib, contohnya. Ia sudah dijegal teman sejawatnya, dikadali pasiennya sampai ditinggalkan istri dan calon anaknya, ia tetap berusaha untuk hidup pada jalannya. Sungguh, kehidupan seorang dokter muda seperti berjalan di lorong abu-abu.

Untuk para dokter atau calon dokter, wajib untuk membaca novel ini. Setidaknya, akan ada teman untuk berjuang demi mengamalkan sulitnya sumpah dokter di masyarakat. Dan tidak kalah penting, bagi tema-teman yang masih menganggap dokter itu malaikat. Mungkin, novel ini akan sedikit mengubah stereotip kalian.

“Lulusan fakultas kedoketran tidak otomatis digaji Negara seperti lulusan akpol, akmil, STPDN, dan lain-lain. Banyak orang tidak tahu, bahkan mungkin tidak percaya, di Jakarta seorang dokter umum bisa bergaji lebih rendah dari sopir busway.”—Hal. 171

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s