Hujanlah Lain Hari – Lika-Liku Cinta di Kedai Ramyun

download

sumber : divapress-online.com

Judul : Hujanlah Lain Hari – Lika-Liku Cinta di Kedai Ramyun

Penulis : Lindaisy

Penerbit : Diva Press

Cetakan : Pertama, November 2014

Editor : Diara Oso

ISBN : 978-602-296-050-8

***

Janhwa senang mendapati kenyataan bahwa Jangwoo menjadikannya alasan untuk mulai menyukai hujan. Sama seperti bertahun-tahun yang lalu, saat Janhwa menjadikannya alasan untuk menjadi gadi yang tidak menyusahkan.—hal. 355

***

Shim Jangwoo, pemuda berambut gondrong yang mempunyai lesung pipit itu dihadapkan dengan dua pilihan.

Memotong rambutnya yang gondrong atau tidak boleh bekerja di kedai ramyun.

Ia amat menyukai rambutnya yang gondrong, di sisi lain ia harus mencari pekerjaan untuk mengisi dompetnya yang kian hari kian menipis.

Geum Janhwa, pemilik kedai ramyun itu sudah menetapkan aturan yang harus dipatuhi semua bawahannya : Tidak boleh berambut gondrong!

Janhwa : Potong rambutmu, ya?

Jangwoo : Tidak bisa.

Janhwa :Kalau begitu, aku juga tidak bisa menerimamu. Maaf.

Jangwoo : Kalau begitu, aku mundur.—hal. 83

Kedai ramyun benar-benar tengah membutuhkan tambahan karyawan karena Buyeon atau akrab disapa sebagai Bryan, koki disana, mengundurkan diri. Bryan merekomendasikan Jangwoo untuk bekerja di kedai ramyun namun, hanya karena masalah rambut gondrong, posisi Bryan terpaksa masih kosong.

***

Jangwoo melunak, ia merelakan rambut gondrongnya pergi dan kembali melamar pekerjaan di kedai ramyun.

“Perkenalkan kembali, Shim Jangwoo!” ujarnya dengan suara lantang.  Jangwoo membungkuk, lalu meraih tangan Janhwa dan menyalaminya secara sepihak.—hal.87

Saya suka dengan adegan di atas. Sosok Shim Jangwoo digambarkan ceria dan mudah bergaul. Terbukti dengan ia mudah melebur dengan bosnya yang belum lama ia kenal. Di dalam bayangan saya, sudah ada sosok Yoon Shi Yoon di Drama Korea “Flower Boy Next Door” sebagai Shim Jangwoo. Ditambah lagi, Yoon Shi Yoon mempunyai lesung pipit saat ia tersenyum sama seperti penggambaran sosok Jangwoo.

Sebelumnya, mari berkenalan dengan pemilik kedai ramyun. Namanya Geun Janhwa. Gadis yang berusia 22 tahun ini merupakan yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Ia harus kuliah sambil bekerja untuk membiayai adiknya, Geum Janmyung, yang harus dirawat dirumah sakit karena Hepatitis C.

Geun Janhwa digambarkan seorang gadis mungil pekerja keras dan perfeksionis. Ia juga keras kepala, seperti apa yang digambarkan penulis pada halaman 262 :

Janhwa meringis. Ia ingat bagaimana keras kepalanya ia waktu itu. Oh bukan, Janhwa memang gadis yang keras kepala kalau sudah berurusan dengan keinginanannya. Perfeksionis.

Dilihat dari penggambaran penulis tentang Geun Janhwa di atas, saya jadi membayangkan sosok Park Shin Hye dalam drama korea The Heirs yang memerankan peran Janhwa. Ia gadis mungil yang pekerja keras dank eras kepala untuk menyusul eonni-nya ke Amerika.

***

Jangwoo dan Janhwa menjadi partner dalam bekerja yang apik. Sampai-sampai pelayan lain di kedai ramyun curiga dengan kedekatan mereka berdua. Bahkan, Jangwoo rela mencari pinjaman uang kesana-sini untuk biaya transplantasi hati Janmyung. Namun, malam itu semua berubah karena kehadiran sosok Woohyun, kakak tingkat Janhwa di kampus. Jangwoo dan Woohyun terlibat perjanjian yang menyebabkan Jangwoo dalam posisi yang sulit.

Akhirnya, demi Janhwa, lelaki yang tidak suka hujan ini mengalah dan menghindar semenatara dari Janhwa.

Cinta tidak pernah salah, hanya mungkin waktunya yang tidak tepat.

Mungkin makna di atas tersirat dari lika-liku cinta di kedai ramyun tersebut. Kegigihan Janhwa untuk tetap membuka kedai ramyun keluarganya, kerja keras Jangwoo untuk terus hidup dan mencari “teman masa kecilnya” serta hadirnya Woohyun di tengah-tengah mereka membuat saya seakan menonton drama korea sekali duduk dan tanpa iklan! Mengalir begitu saja.

***

Namun, saya sempat menyayangkan karena terjadi sebuah ketidakkonsistenan dalam penggunaan kata sapaan eonni atau kakak perempuan dalam  Bahasa Indonesia.

Pada halaman 57, Janmyung memanggil Janhwa dengan sebutan “eonni”, namun pada halaman 58, Janmyung menyebut Janhwa dengan sebutan “kakak”. Menurut saya alangkah lebih baik apabila Janmyung tetap konsisten memanggil Janhwa dengan sebutan “eonni”.

Dan, satu lagi. Saya senang dengan covernya. Background-nya putih dan fokus dengan gambar payung serta judul yang diketik dengan huruf balok semua. Terkesan simpel dan enak dilihat.

Well, novel ini berbeda dengan novel-novel dengan latar belakang Korea yang lain. Ceritanya mengalir!

Recommended buat teman-teman yang bosan nonton drama korea. Hihi

Selamat membaca!^^

 1

Ps. Saya iseng-iseng membuat poster untuk novel ini. Itung-itung untuk menciptakan imajinasi saya akan pemeran dalam novel ini semakin nyata lagi. Semoga sukaaa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s