[Resensi] Kopi it is – Kopiss

IMG_20140927_065715

 

Judul : Kopi it is – Kopiss

Penulis : Miko Santoso

Penerbit : Diva Press

Tahun Terbit : 2014

Cetakan : Pertama

Editor : Aya Sophia

ISBN : 978-602-296-001-0

***

Being happy with enough money is not the way I want to die. There’s more to life. – Onne.

***

Rasa-rasanya kutipan di atas tersemat dalam kehidupan ketiga ‘unpredictable friends’, Qiana, Gilli dan Onne. Ketiga perempuan itu tinggal dalam satu atap, dengan beda latar belakang dan beda dalam pemikiran.

Oh, sebelumnya perkenalkan! Di novel ini ada Qiana, si anak bungsu dari dua bersaudara. Perempuan asal Jakarta ini punya kakak perempuan bernama Mbak Aya dan ia merupakan seorang yatim piatu. Nasibnya sedikit demi sedikit berubah saat ia diwarisi sebuah rumah di Bintaro Jaya.

Selanjutnya ada si Sunda, Gilli. Gadis pintar ini (dulunya) bersekolah di STAN. Namun, karena suatu hal, ia harus pindah institusi pendidikan ke Universitas Kehidupan. Petualangan hidupnya semakin ‘riuh’ saat ia ngekos di rumah Qiana.

Yang terakhir ada Onne. Pie kabare, rek? Arek Malang yang satu ini pergi jauh dari kota Apel tidak hanya untuk menuntut ilmu, namun ia juga menuntut haknya sebagai seorang manusia untuk menentukan kehidupannya sendiri. Ia juga ngekos di rumah Qiana, bersama dengan Gilli.

Jakarta – Sunda – Malang hidup dalam satu atap?

Tenang saja, tidak se-ekstrem yang teman-teman pikirkan kok. Tidak ada salah komunikasi yang berarti. Hanya secuil rasa sungkan yang muncul saat melihat ketiga orang tersebut berteduh pada satu atap yang sama. Ingat ya, secuil. Hehe

Menyinggung dengan kutipan di atas, memang, mereka bertiga (digambarkan dalam cerita) memiliki masalah yang tiada habisnya. Salah satunya adalah masalah ekonomi. Ada yang pengangguran dan bingung dengan warisan rumah, ada yang di-dropout dari kampus, dan ada pula yang mendapatkan kenyataan pahit akan harta warisan.

Namun, ada satu hal yang harus saya apresiasi dengan bintang, yaitu kebersamaan mereka. Penulis berhasil membuat ‘rasa’ kebersamaan yang kental di antara tiga tokoh tersebut. Dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan. Dengan segala suka dukanya.

***

Novel ini menggambarkan sebuah perjalanan Kedai Kopi bernama ‘Kopiss’. Dari saat Kopiss masih dalam bentuk ide yang entah di mana sampai Kopiss yang sekarang dengan segala jatuh bangunnya. Tidak runtut memang. Namun pas. Apa lagi ditambah dengan bumbu romansa ketiga perempuan tersebut.

Satu bintang lagi saya haturkan untuk Kopiss.

***

Bahasa yang digunakan easy going. Halah.

Tapi serius, saya langsung habis beberapa bab dalam sekali duduk karena bahasa yang digunakan penulis itu. Selain itu, banyak (sekali) pengetahuan tambahan yang disampaikan penulis lewat Kopiss. Seperti alat-alat untuk membuat kopi (roaster, dll), BEP (Break Event Point) yang mengingatkan saya akan makul Kewirausahaan, istilah cyber, dan masih banyak lagi.

Bagi teman-teman yang penasaran dengan BEP, saya berikan rumus untuk menghitung BEP. Haha

Oiya ada satu lagi yang membuat saya senyum-senyum sendiri membacanya. Yaitu pemberian nama pada masing-masing mesin pembuat kopi yang unik dan absodamntely memorable. Seperti : Miss Silvia, Marjoko, dan satu lagi yang baru belum diberi nama (saking barunya)

Miss Silvia adalah mesin pembuat kopi peninggalan Almarhum Ayah Qiana. Miss Silvia jugalah ujung tombak Kopiss saat pertama kali buka. Miss Silvia merupakan mesin tua.

Imajinasi saya menyebutkan kenampakan Miss Silvia seperti ini.

source : huffingtonpost.com

source : huffingtonpost.com

Marjoko atau nama aslinya La Marzocco (made in Italia) adalah mesin komersial kedua. Dibeli secara kredit oleh ketiga sahabat itu dengan mengagungkan motor kesayangan Onne. Tak lama kemudian, karena sesuatu hal, mereka harus rela melepaskan Marjoko dari meja Kopiss karena tunggakan angsuran. Bye-bye Marjoko. We gonna miss ya!

Kenampakan Marjoko.

source : veneziancoffee.com

source : veneziancoffee.com

Then, I give another star to this Kopiss as well.

***

Setelah selesai membaca novel ini, saya tersenyum. Bukan karena endingnya yang unpredictable, bukan. Bukan juga karena endingnya terlalu biasa. Bukan. Tapi saya tersenyum karena pesan moral yang secara eksplisit disampaikan penulis melalui kisah tiga sahabat yang berjuang untuk mendirikan ‘Kopiss’.

“Uang bukan segalanya untuk bahagia. Tapi bahagia karena kita bersama.” – Arintya, pembaca Kopiss.

Jadi, siapkah teman-teman merasa bahagia karena kebersamaan walaupun minim uang, seperti Qiana – Gilli – Onne?

Find the answer by yourself!

Happy reading!^^

Stars : 3

 

 

Iklan

2 thoughts on “[Resensi] Kopi it is – Kopiss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s