[Resensi] Maya – And The Darkness Surrounding

SP_A0984

Judul : Maya – And the Darkness Surrounding

Penulis : Arikho Ginshu

Penerbit : PING!!!

Tahun Terbit : 2014

Editor : Ainini

ISBN : 978-602-255-619-0

***

Namun, suara gemuruh yang tiba-tiba terdengar dari ratusan atau mungkin ribuan orang membuatku tersentak dalam ketakutan. Adakah ini alam kematian yang ditakutkan banyak orang itu? –Hal. 33

***

Saat pertama kali melihat novel ini, saya berpikir bahwa novel ini akan menyuguhkan cerita misteri kehidupan seorang perempuan bernama Maya. Dan, saya salah besar. Saya sempat terkecoh dengan kaver pada awalnya dan setelah membaca beberapa halaman pertama, saya tidak menemukan tokoh yang bernama Maya.

Setelah saya mengamati kaver novel ini lagi, saya baru sadar bahwa Maya yang dimaksud bukanlah seorang gadis tanpa senyum, melainkan nama sebuah suku yang konon sudah hilang, Suku Maya. Dilihat dari gambar sebuah bangunan tinggi menjulang yang disebut sebagai El Castillo.

***

Berawal dari persahabatan empat mahasiswa, Binar Saga, Tondi, Rimba dan Damar, sedikit demi sedikit misteri akan keberadaan Suku Maya terungkap. Binar Saga yang merupakan satu-satunya perempuan dalam persahabatan mereka, mendadak tak sadarkan diri saat mereka berempat tengah bermalam di Hutan Seblat, Sumatera Utara.

Hingga, waktu yang mempertemukan keempat sahabat tersebut dengan Ki Rangkat, seseorang yang dianggap penduduk sekitar sebagai orang yang mempunyai ilmu. Melalui Ki Rangkat, diketahui bahwa Binar Saga tidak sekedar tidur. Namun, jiwa gadis itu terpisah dari raganya, menuju tempat yang jauh di sana, dan hanya satu orang dapa menyelamatkan.

“Raga tak harus selalu bersama jiwa, Anak muda!” –Hal. 5

Menembus dimensi yang berbeda, orang yang terpilih untuk menyelamatkan Binar Saga akhirnya sampai pada sebuah daerah nun jauh di sana. Berbekal tekat kuat untuk menyelamatkan Binar Saga, orang terpilih itu (atau istilah kerennya The Choosen One), bertemu dengan titisan bintang Suku Maya, Amorza dan saudara lelakinya Azorda. Melalui kedua orang suci Suku Maya tersebut, The Choosen One akhirnya bisa menyelamatkan Binar Saga dari persembahan yang hampir saja merenggut jiwa Binar Saga.

Satu bintang saya berikan untuk ide yang bahkan tidak dapat saya duga untuk cerita ini.

***

Unsur Intrinsik Cerita :

TOKOH

Binar Saga. Digambarkan oleh penulis secara eksplisit, baik dari fisik maupun perilakunya.

Binar Saga. Gadis berambut lurus sebahu dan tinggi tak kurang dari 165cm, begitu kira-kira bila aku menebaknya. Kedua bola matanya bening serupa telaga tepi hutan. Meski kelopaknya tak terlalu lebar, beberapa bulu mata yang lentik dan alis yang berbaris rapi itu membuatnya cantik. Hindungnya bangir dan bibirnya mungil. Selalu kudapati sepasang lesung pipit pada senyumnya yang merekah. –Hal. 53

Tondi Situmorang. Seorang pemuda berusia dua puluh delapan tahun yang juga merupakan atlet paralayang. Sifatnya yang pantang menyerah dan pekerja keras digambarkan penulis melalui usahanya dari sekolah menengah atas hingga kuliah untuk menjadi seorang atlet paralayang. Ia adalah seorang yang menjunjung tinggi persahabatan, hingga ia tidak tahu lagi batas mana kekasih dan sahabat itu berada.

Kekasih dan sahabat mungkin dua hal yang berbeda. Namun, sering berada pada timbangan rasa yang nyaris sama. –Hal. 274

Rimba dan Damar. Rimba adalah seorang pemalu yang selalu kalah setiap kali ia taruhan dengan Binar Saga. Sementara Damar adalah kekasih Binar Saga yang amat mencintai persahabatan mereka berempat.

Amorza dan Azorda. Anak titisan bintang yang tinggal dengan seorang pendeta, Raghda. Mereka dianggap orang suci oleh masyarakat Maya dan bertuga menjadi penjaga api. Keduanya adalah saudara yang saling memiliki. Pun saat Azorda tidak lagi bisa di sisi Amorza karena ia telah melompat ke dalam Cenetos. Namun, jiwa Azorda tetap hidup dan Amorza dapat berkomunikasi dengan saudara laki-lakinya itu saat ia mengenakan kalung milik Azorda.

Satu yang saya kagumi dari Azorda adalah, ia tidak malu untuk mengakui bahwa ia menyayangi saudara perempuannya secara langsung. Meskipun Azorda telah tiada dan hanya bisa menyampaikan lewat suara.

“Ketahuilah, meninggalkanmu sendiri adalah penyesalan terbesar yang pernah kurasakan.”—Hal. 271.

 

LATAR

Latar yang digunakan ada dua tempat, yaitu di Hutan Seblat, Sumatera Utara dan tempat Suku Maya Tinggal, sekitar El Castillo.

Satu bintang saya tambahkan lagi karena penulis berhasil menghubungakn dua tempat yang jauhnya berkilo-kilometer ini menjadi sebuah cerita yang menarik.

 

SUASANA

Tegang. Hanya satu kata yang bisa saya berikan untuk menggambarkan suasana di dalam cerita. Ditambah lagi saat upacara persembahan dengan mengorbankan seorang manusia.

Di depan mataku, aku menyaksikannya dengan mengeluarkan air mata. Pendeta itu menyayat dada gadis itu, membuat sebuah garis yang panjang di sana. Garis yang dari dalamnya mengalir darah dengan cepat meneyebar, seperti anak sungai kecil membasahi tubuhnya yang diam. –Hal. 260

Ah, satu bintang lagi saya haturkan karena penulis telah membuat saya dag-dig-dug tak karuan saat membaca bagian persembahan untuk bulan.

***

Penulis juga menyisipkan diksi yang menurut saya unik dan mengena saat membacanya.

Bersama mereka berlari menjauhi kematian, kematian yang telah berada pada ujung jari kaki mereka. –Hal. 269

Dan, ada satu hal lagi yang membuat saya harus memberikan bintang yang keempat untuk novel karya Arikho Ginshu ini. Sepanjang saya membaca, saya hampir tidak menemukan kesahalan editing. Hal tersebut membuat pembaca nyaman dan cerita sukses saya cerna.

***

Jadi, novel dengan empat bintang ini saya rekomendasikan untuk para pembaca yang ingin bermain dengan adrenalin. Satu peringatan dari saya, jangan membaca novel ini sendirian. Pastikan ada teman di dekat kalian.

Happy reading! 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s