Le Mannequin – Jika Aku adalah Lembayung, Lalu Siapakah Senja Itu?

 

SP_A0986

Judul : Le Mannequin – Hatiku Tidak Ada di Paris

Penulis : Mini GK

Penerbit : Diva Press

Tahun Terbit : 2014

Editor : Ratna Mariastuti

ISBN : 978-602-255-588-9

***

Jika aku adalah lembayung, lalu siapakah senja itu? Hal. 127

***

Le Mannequin menyajikan cerita tentang kehidupan seorang desainer, Sekar. Berbeda dengan novel popular lainnya, novel ini menceritakan perjuangan Sekar dari nol sebagai seorang desainer muda Indonesia.

Nampaknya, don’t judge a book by it’s cover sangat melekat pada novel ini. Pada kaver novel ini, disajikan gambar sebuah mannequin yang mengenakan sebuah gaun dengan latar Menara Eiffel. Namun kenyataannya? Sebuah kearifan lokal yang kental sengaja disajikan penulis sebagai jalan seorang Sekar menjadi seorang desainer dan membawa gadis itu ke pusat fashin dunia, Paris.

Ah, akan sangat tidak bijak jika saya menyebutkan kearifan lokal mana yang disajikan penulis.

Jadi, mari baca novel ini!

Satu bintang saya sematkan untuk Le Mannequin karena telah memberikan saya kejutan antara kesinambungan kaver dan cerita di dalamnya.

***

Selanjutnya saya akan membahas unsur intrinsik yang ada pada Le Mannequin J

TOKOH

Tokoh utama yang dikisahkan adalah Sekar Purnomo. Seorang gadis desa yang mempunyai sebuah mimpi besar untuk menginjakkan kakinya di pusat fashion dunia dan bercita-cita menjadi desainer.

Selain Sekar, terdapat pula tokoh pendukung yang tak kalah enting di dalam cerita. Candra Kesuma, Lukman Hakim, Yasak dan Demian. Keempat laki-laki itu mengiringi Sekar sejak masih di tanah air hingga melesat ke kota Paris, dalam porsinya masing-masing tentunya.

PENOKOHAN

Sekar, dalam novel ini, digambarkan sebagai gadis yang pekerja keras. Hal tersebut terlihat dari awal ia bekerja di sebuah pabrik garmen, Jakarta hingga menjadi salah satu desainer muda yang karyanya bisa diikutsertakan dalam pagelaran busana di Paris.

Candra Kesuma, sahabat kecil Sekar. Ia sempat bergulat dengan waktu saat ia mengantarkan Sekar untuk menjemput mimpinya di Jakarta. Namun, sepertinya waktu tidak mengijinkan Candra untuk menahan Sekar lebih lama di desa tempat kelahirannya, Gunung Kidul.

Lukman Hakim –bisakah saya tidak membahas laki-laki ini? Sungguh, saya sempat terbawa emosi saat tahu ia telah mengkhianati wanita dan memilih untuk seseorang yang bahkan ada main di belakangnya. Maaf, penulis berhasil membuat saya terlena dengan penggambaran sosok Lukman yang menurut saya tidak punya pendirian.

Bintang kedua saya sematkan untuk penokohan Lukman untuk Le Mannequin.

Yasak, seorang pemuda blasteran yang ditemui Sekar saat ia berada di salah satu toko bunga di kota Bandung. Penulis menggambarkan Yasak sebagai anak yang sayang orang tua. Terbukti, Yasak kebingungan selama hampir satu jam hanya untuk memilih bunga jenis apa yang akan ia berikan untuk ibunya.

Yasak Love U, Mom. Hal. 125

Dan ucapan Yasak ini, membuat saya jatuh hati padanya.

Demian, adik Yasak, yang dikisahkan secara sekilas namun tetap berakhir manis. Demian dituliskan sebagai seorang adik yang mau melindungi kakaknya. Hal tersebut terlihat saat ia berusaha memberitahu Yasak bahwa seseorang yang akan dilamarnya telah menerima lamaran orang lain. Demian tidak ingin kakaknya terluka. Namun, Demian harus mengakui, waktu lebih gesit daripada dirinya.

SETTING

 Setting di dalam novel mengambil empat kota sekaligus, Jogja, Bandung, Jakarta, dan Paris. Namun, dari keempat kota tersebut, saya lebih tertarik dengan kota Jogja. Karena di kota Jogja, tepatnya di daerah Gunung Kidul, penulis mengisahkan persahabatan Sekar dan Candra secara apik. Khas anak desa yang bermain di Air Terjun Sri Gethuk dan meniup bunga dandelion.

ALUR

Penulis mengisahkan perjalanan hidup Sekar dengan dua alur, alur maju dan mundur. Alur mundur mendominasi cerita dan mengungkap rahasia-rahasia kecil yang mampu mengubah hidup tokoh utama, Sekar. Dari sini pula, saya mengetahui bagaimana Sekar amat menyukai melihat sepasang patung mannequin yang mengenakan baju pengantin.

***

Novel ini memberikan saya pengetahuan yang sangat berharga. Seperti motif-motif batik dan makna setiap warna pada bunga mawar. Terima kasih, Mbak Mini! Setelah ini saya tidak akan salah lagi memilih warna bunga untuk hadiah seseorang. Hehehe

Bintang ketiga saya haturkan pada Le Mannequin untuk mengapresiasi pengetahuan yang saya dapatkan.

***

Ada beberapa hal yang saya amati pada Le Mannequin.

1. “…Oh, bukan. Anda cemburu ya karena tidak punya pasangan dan menjomblo di tempat ini? Jadinya kamu iri melihat mereka.” Hal. 31

Pada dialog di atas, penulis menggunakan kata ganti orang kedua Anda dan kamu. Hal tersebut menurut saya, menimbulkan kebingungan. Dialog di atas diucapkan Sekar kepada Demian saat berada di sekitar Menara Eiffel. Posisi keduanya adalah dua orang yang baru saja bertemu dan (menurut saya) akan lebih cocok menggunakan ‘Anda’ daripada ‘kamu’.

2. “Dua kali itu pula dia mengambil bonsai. Sepertinya dia sangat tertarik dengan bunga.” Hal. 125

Menurut saya, kalimat yang diucapkan pelayan di toko bunga itu ambigu. Bonsai dan bunga menurut saya merupakan jenis tanaman yang berbeda. Tanaman yang dibuat bonsai adalah tanaman tahunan. Sedangkan bunga merupakan tanaman semusim.

 3. Terdapat kesalahan editing yang menurut saya cukup mengganggu. Seperti :

Ada beberapa istilah asing (Bahasa Jawa ataupun Bahasa Inggris) yang belum dicetak miring (Sudron, Senewen, Lipstick, Gypsy, dan Margarine).

‘Diaa’ harus makan yang lembut, tidak boleh yang kasar-kasar. Hal. 248

“Pertengahan ‘bukan’ depan, aku dan Sabinta menikah.” Hal. 285

4. “Sekar merasa tersaingi, sekalipun barang-barang branded melekat pada tubuhnya.” Hal. 132

Kalimat tersebut kurang terasa feel-nya. Karena pada lembar sebelumnya penulis menggambarkan penampilan Sekar sebagai berikut.

“Tunik warna salem dengan brokat di bagian bawah melingkar, membungkus tubuh mungil Sekar. Hadirnya stiletto di kedua kakinya memberikan kesan feminim, ditambah dengan tas tangan dengan warna senada.” Hal. 127

Mungkin akan lebih terasa bahwa Sekar mengenakan barang-barang branded jika ditambahkan beberapa brand terkenal seperti ‘hadirnya Stiletto Christian Loubotin  di kedua kakinya’ dan ‘ditambah dengan tas tangan merk Gucci dengan warna senada”.

 ***

At least, saya memberikan tiga bintang untuk novel popular dengan kearifan lokal yang kental ini, Le Mannequin.

 Selamat membaca!^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s