[Resensi] You’re Not Funny Enough : Kesempatan untuk Jamie

SP_A0969

Judul : You’re Not Funny Enough

Penulis : Jacob Julian

Penerbit : PING!!!

Tahun Terbit : 2014

Editor : Vita Brevis

Design Cover : Ann_Retiree

ISBN : 978-602-255-617-6

***

“Sebenarnya, kesempatan itu dicari atau didapat?”

“Ada dua hal. Dicari dan didapat. Yang jelas, kesempatan bukan keberuntungan. Orang yang jeli akan tahu bedanya. Yang pasti, mereka mengarah pada satu hal. Impian.” Hal. 160

***

You’re Not Funny Enough, menceritakan tentang Jamie, seorang standup comedian dan sebuah kesempatan akan masa depan. Jamie yang diceritakan putus kuliah ini tengah menjalani masa di mana ia tidak lagi mampu melempar jokes dan memilih untuk menjauhi dunia standup comedy. Ia pergi hingga ke luar pulau untuk mengejar yang namanya kesempatan, walaupun di dalam novel ini, Jamie digambarkan masih bergulat dengan kenyataan bahwa apakah kesempatan itu masih ada untuknya.

Hingga suatu waktu, ia bertemu dengan Fey dan Luka, sepasang tunangan yang meminta agar Jamie memberikan sebuah hadiah berupa one-man-show di panggung kapal.

Dari situlah Jamie perlahan-lahan mampu bangkit dan sedikit demi sedikit bersua denga kesempatan. Meskipun, jalan yang ia lalui tidak bisa dikatakan mudah. Ia bahkan sempat bekerja menjadi cleaning service agent (tukang bersih-besih kotoran) di salah satu mall di kota perantauan.

***

Cover

Dilihat dari kaver, cukup menarik. Desainnya simpel, menggambarkan sebuah panggung sempit dengan sebuah bangku dan tirai penutup berwarna merah. Namun, ada sesuatu yang mengganggu mata saya saat pertama kali melihat kavernya. Yaitu, tirai penutup berwarna merah. Mungkin dimensi atau ukuran pikselnya terlalu kecil sehingga terkesan agak pecah gambarnya.

 

Layout Isi

Di dalam lembaran novel ini, terdapat beberapa ilustrasi. Di antaranya : sebuah tirai (tidak pecah kok, hehehe), sebuah standing mic, dan pada penempatan nomor halaman terdapat sebuah mic. Lucu.

Tokoh

Tokoh utama di dalam cerita adalah Jamian Dupont atau sering dipanggil Jamie. Pria ini mempunyai nama panggung yaitu JD. Keren! Digambarkan sebagai pria yang gemar merokok dan minum bir. Pria berkacamata ini terjebak dalam kegalauan karena mantan kekasihnya, Sonya, meninggalkan dirinya di saat yang tidak tepat. Ah, cowok juga bisa galau ternyata…

Selain itu ada beberapa tokoh pendukung (Beni, Fey, Gaiman, dan Tyson) yang menurut saya menjadi turning point dari cerita. Ada beberapa yang yang tanpa sadar, mengubah kehidupan Jamie. Dari beberapa tokoh pendukung tersebut, saya paling suka dengan Gaiman. Seorang kepala petugas kebersihan yang menjadi tempat Jamie mengenali bagaimana kesempatan itu harus dicari atau didapat. Beberapa kejutan juga diberikan penulis melalui tokoh ini.

Alur

Alur di dalam cerita didominasi oleh alur maju. Namun ada satu cerita di mana alur balik digunakan, yaitu saat masa kejayaan Jamie sebagai comic lokal.

Latar

Banyak latar yang digambarkan penulis, di antaranya adalah Jukeboxe Café di kota Madiun, Kapal Tirta Warsa, dan alun-alun kota Banjarmasin. Setiap latar memiliki porsi ceritanya masing-masing. Namun, dari tiga latar di atas, saya paling suka latar Kapal Tirta Warsa. Tiupan angin dan deburan ombak seakan menuntun Jamie untuk menemui satu hal berharga, kesempatan.

 

***

Novel ini mengambarkan kehidupan seorang comic lokal, dan tentunya ada beberapa joke yang diberikan oleh penulis. Ada satu joke yang menurut saya biasa aja, tapi berhasil membuat saya ketawa-tawa.

“Macet itu tidak mengenal waktu. Entah itu pagi, siang, malam! Berarti tidak macet itu kalau sore dan subuh…” hal. 222

***

Sayangnya ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam novel ini. Di antaranya :

Penggunaan istilah asing atau bahasa daerah yang tidak dicetak dalam huruf miring. Apabila hanya satu atau dua kata masih ditolerir, tapi di dalam novel ini ada banyak kata dari bahasa asing atau daerah yang mungkin luput dari perhatian.

Kata mandeg pada hal. 15

Kata guyon pada hal. 25

Kata greg pada hal. 28

Kata sharing pada hal. 40

Kata upbeat pada hal. 92

Kata ajek pada hal. 99

Kata basement pada hal. 130.

Selain itu ada beberapa kalimat yang menurut saya sifatnya ambigu.

Penyeberangan dilakukan sesuai jadwal dan kapal masih terlambat. Hal. 69

Saya bingung, bagaimana kapal bisa dikatakan sesuai jadwal tetapi kapalnya sendiri masih terlambat. Mohon dijelaskan hehe :p

Dia merasa belum atau pernah kemari. Hal. 118

Kalimat di atas menurut saya menimbulkan makna ganda. Belum dan pernah mempunyai makna yang berbeda, sehingga membuat saya harus berkali-kali membaca bagian ini dan akhirnya saya gagal paham. L

Jamie mengangguk. Tidak belum mengatakan sepatah kata pun di sini. Hal. 190

Kalimat di atas kasusnya sama seperti yang terjadi pada poin nomor dua. Saya gagal paham, apakah Jamie tidak mengatakan sepatah kata atau belum mengatakan sepatah kata.

Beberapa typo juga hadir di dalam novel ini. Di antaranya :

Mila dan Jamie mengantarkan kepergian Jamie sampai di ruang pengantar sebelum Jamie naik kapal. Hal. 69

Mungkin maksud penulis adalah Mila dan Beni. FYI, Mila adalah istri Beni. Beni adalah sahabat Jamie selaku pemilik JukeBox Café tempat Jamie biasa melakukan standup comedy di Madiun. Namun, pengulangan nama ‘Jamie’ sebanyak tiga kali dalam satu kalimat menurut saya, bisa menjadi sandungan pembaca dan menimbulkan gagal paham.

Selain itu pada saat Jamie melakukan standup comedy (hal. 220-221) terdapat kekurangan tanda baca. Ada beberapa part yang kekurangan tanda petik penutup (”). Atau saya yang kurang paham? Mohon dikoreksi sebelumnya, karena pada awal dialog digunakan tanda petik pembuka (“).

Satu lagi, terdapat satu kalimat yang menurut saya masih kurang utuh.

“Aku juga penampilanmu tadi…” hal. 264

Menurut saya kalimat di atas kurang satu kata. Predikatnya belum ada. Saya membaca kalimat tersebut berulang kali dan setelah membaca dari bagian sebelumnya, mungkin kata yang kurang adalah kata ‘suka’. Sehingga menjadi ‘Aku juga suka penampilanmu tadi.’

 

***

At least, buku ini recommended untuk dibaca, terutama bagi teman-teman yang menyukai dunia standup comedy dan yang sama sekali buta tentang standup seperti saya. Ehm, mungkin para comic senior juga saya sarankan untuk membaca novel ini. Hehe

Dua setengah bintang saya sematkan untuk You’re Not Funny Enough! 😀

 

***

Satu pelajaran yang saya dapatkan setelah membaca novel ini adalah, hidup itu penuh perjuangan. Dan perjuangan itu akan membuahkan hasil jika kita berani untuk melangkah.

 

***

Kutipan terfavorit saya :

“Pekerjaan tidak menentukan kepribadian seseorang.”— Fey, hal. 169
“Tidak semuanya yang pergi itu akan selamanya pergi. Ada yang pergi untuk kembali.”— Gaiman, hal. 175
“Pergi ke dunia luar. Walau mereka kejam, setidaknya mereka akan takut padamu bila kau kuat.”— Gaiman, hal. 251

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s