[Resensi] Rekahan Senja itu Masih Miliknya – Dramaturgi Dovima

Dramaturgi Dovima

Senja milik Dovima

Judul : Dramaturgi Dovima

Penulis : Faris Rachman-Hussain

Penerbit : Gramedia

Tahun Terbit : 2013

ISBN : 978-979-22-9528-3

Editor : Irna Permanasari

Ilustrasi dan Desain Sampul : Staven Andersen

Genre : Metropop

***

Langit beranjak gelap tanpa sedikit pun menyisakan berkas jingga. Dovima Said menyunggingkan senyum yang kini mengakrabi bibirnya. Rekahan senja itu masih miliknya…

***

Menurut KBBI dramaturgi mempunyai arti keahlian dan teknik penyusunan karya dramatik. Dan, setelah saya membaca keseluruhan dari novel ini, memang kata dramatis tersemat kuat di dalamnya.

First of all, saya memberikan satu bintang untuk penggunaan nama-nama tokoh yang Indonesia banget! Seperti Dovima Said, Imadji Djasin, Seruni Said dan Gandhi Wirasetja. Nama-nama tersebut tanpa sengaja mengakar kuat di dalam benak saya.

***

Novel ini becerita tentang kehidupan berliku dari seorang Dovima Said, seorang calon reporter majalah Kala. Kehidupan Dovima diceritakan unik, tidak runtut, namun memberikan kesan penasaran yang manis.

Dan bintang kedua saya berikan untuk diksi yang digunakan penulis.

Pas dan mengejutkan.

Vima mendapati seorang gadis dengan kecantikan yang mengintimidasi tengah keluar dari city car hitam, lalu beranjak menghampiri dirinya. Hal. 87

Penggunaan kata ‘kecantikan yang mengintimidasi’ menurut saya sungguh di luar dugaan. Saya jadi membayangkan, bagaimanakah kecantikan yang mengintimidasi itu? Seelok Lady Diana kah? Mungkin hanya penulis dan imajinasi dari masing-masing pembaca yang tahu.

 Namun, harga diri tak mengizinkan Vima menyerah, sekalipun sudah berulang kali gagal mewawancarai Gandhi Wirasetja. Hal 127

Saya kagum dengan penulis dalam menyuguhkan cerita. Terlebih dengan diksi yang digunakan oleh penulis. Seperti kalimat di atas, menurut saya ada aura tersendiri yang hadir bersama dengan ‘harga diri tak mengizinkan Vima menyerah’. Sifat pantang menyerah Dovima tergambar jelas melalui kalimat tersebut.

 ***

Bintang ketiga saya berikan untuk suasana tegang yang dihadirkan penulis.

Vima segera mematikan rokok yang belum habis. Sigap ia mengikuti si plontos yang langsung menunggu lift. Melihat papan tanda tangga darurat di ujung kanan lobi, ia melangkah ringan, berusaha tak menarik perhatian orang yang lalu lalang. Membuka pintu darurat, sesuai dugaan Vima, tak ada orang di sana. Ia menaiki anak-anak tangga dengan cepat. Terangah-engah ia membuka pintu tangga darurat bertanda ‘4’. Berusaha mengejar napasnya, ia mengikat ramabut dalam usaha mengenyahkan peluh yang muncul dan membasahi belakang lehernya. Hal 128

Sungguh, saat membacanya seperti menonton film 4D dengan backsound yang sukses membuat jantung berdegub melebihi ritme yang seharusnya. Ketegangannya berasa! Sehingga pesan untuk selalu berkerja keras dan pantang menyerah yang didapat dari seorang wartawan yang menunggu narasumbernya, terlihat jelas di dalam novel ini.

***

Alur yang digunakan penulis ada dua yaitu alur maju dan alur mundur. Agaknya penulis enggan untuk membuat pembacanya bingung. Untuk itu, penulis membedakan cara penulisannya yaitu menggunakan huruf italic untuk alur mundur dan huruf non-italic untuk alur maju. Lagi-lagi, saya harus merelakan satu bintang untuk melengkapi ketiga bintang yang tadi sudah saya berikan.

***

Untuk desain kaver, saya suka!

Simple dan misterius.

Semisterius penulis yang enggan mencantumkan biografi diri pada novel ini. Namun, hal tersebut menurut saya tidak masalah.

Pada desain kaver menggambarkan dua siluet wajah yang terbentuk dari guntingan artikel koran atau majalah.

Unik!

Adakah hubungan antara siluet wajah yang ada pada kaver dengan kehidupan Dovima?

Silahkan membaca novelnya.

Selain itu, peletakan nomor halamannya juga unik, yaitu berada di tepi kanan atau kiri halaman. Mata pembaca yang tidak jeli pasti akan mencari-cari di mana nomor halaman di awal membaca, seperti saya. Hehe

Hah, satu bintang lagi menyusul untuk novel ini.

***

Jadi, total bintang yang saya berikan ada lima.

Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini, bukan? Nah, begitu pula dengan novel ini. Ada beberapa hal yang saya soroti.

1. a. Jawaban yang paling mungkin keluar hanyalah “peninjauan lebih lanjut” atau kadang hanya berupa sanggahan. Hal 12

1. b. Mendengar kata “tenggat waktu” semua orang bergegas kembali ke kubikel masing-masing, teringat deadline Kala memang hanya tersisa sehari lagi. Hal. 71

Penggunaan tanda petik untuk menekankan kata di atas, menurut saya kurang pas. Menurut saya, akan lebih pas apabila menggunakan tanda kutip (‘).

2. a. “Bagus untukmu. Jangan sampai kau mengalami hal yang sama sepertiku. Aku muak dengan Gandhi. Yang dialakukan hanya meminta dan meminta…” Hal. 20

2. b. “Itu yang kaulakukan ketika masih ada cinta dalam pernikahan. Kau sangat naïf…” Hal. 21

Terdapat kesalahan editing yang ada pada cerita. Memang terkesan sederhana, namun bagi sebagian orang (termasuk saya) hal tersebut akan menganggu selama proses membaca novel. Seperti dua kalimat di atas yang menurut saya kurang satu spasi di antara ‘dialakukan’ dan ‘kaulakukan’.

 3. “Kemarin dulu sempat marah-marah sama Suster Ria karena nggak mau minum obat. Semua barang…” Hal. 19

Kalimat di atas diucapkan oleh Yu Nani, asisten rumah tangga keluarga Vima yang menurut saya ambigu. Sebenarnya keterangan waktu yang digunakan ‘kemarin’ atau ‘dulu’?

 4. Untuk hal satu ini ia harus mengakui kesembronoannya mengumbar informasi off the record. Hal 39

Saya menyoroti kata ‘kesembronoannya’ yang mempunyai kata dasar sembrono. Sembrono merupakan Bahasa Jawa. Menurut saya akan lebih baik apabila penulisan kata kesembronoannya menggunakan huruf italic. Mengingat kata tersebut bukan merupakan kata baku.

 5. a. “Wow, that’s way too harsh. Même pour vous, cousine,” balas Kafka berpura-pura kesal.

5. b. “Je plaisante, mon cousin…” Hal. 82

Menurut saya, alangkah lebih baik jika diberi footnote pada penggunaan bahasa Perancis. Mengingat tidak semua pembaca mengerti bahasa tersebut (termasuk saya). Sehingga pembaca dapat memahami suasana yang tengah dibangun oleh penulis tanpa terkendala melalui percakapan di atas.

6. Ah iya, ada satu hal lagi, yaitu penempatan gambar secangkir kopi atau teh dan selembar surat kabar pada bagian atas setiap bab baru yang saya rasa mengganggu. Mengingat Dovima bekerja pada sebuah majalah bukan surat kabar.

 Jadi, saya memutuskan untuk menyimpan satu bintang dan memberikan empat bintang yang ada untuk Dramaturgi Dovima.

 Well (kata-kata ini banyak ditemukan di bagian dalam novel), novel ini sangat dianjurkan untuk para pembaca setia metropop ataupun pembaca teenlit yang mulai bosan dengan kisah remaja yang itu-itu saja serta menginginkan suasana baru.

 So, happy reading!

Iklan

2 thoughts on “[Resensi] Rekahan Senja itu Masih Miliknya – Dramaturgi Dovima

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s