[Resensi] Imaji Dua Sisi – Cinta, Kimia dan Rahasia

SP_A0913

Judul : Imaji Dua Sisi

Penulis : Sayfullan

Penerbit : de TEENS

ISBN : 978-602-7968-86-8

Editor : Itanov

Desain kaver : Ann_Retiree

Layouter : Fitri Raharjo

Tahun Terbit : 2014

Tebal : 333 halaman

***

Feromon merupakan zat kimia alami yang di transmisikan lewat udara dan secara khusus berfungsi sebagai perangsang lawan jenis. Hal. 12

***

Bumi, Lintang, dan Bara.

Ketiga nama tersebut Indonesia banget! Poin plus pertama yang saya tambahkan pada novel ini. Berkisah tentang cinta segitiga antara Bumi, Lintang dan Bara, novel ini semakin menantang untuk dibaca karena sifat Bumi yang bisa dibilang agak psycho. Menegangkan!

Prolog yang disajikan penulis begitu menimbulkan tanda tanya dan membuat pembaca harus melanjutkan ke halaman selanjutnya. Terlebih lagi dengan adanya penjelasan bagaimana Bumi membuat ekstrak feromon dari lelaki itu. Kemudian pada selanjutnya diceritakan bahwa Bumi mempunyai sebuah laboratorium kceil, tempat dimana ia biasa menyendiri dari keramaian.

Poin plus kedua adalah bagaimana penulis membangun setiap karakter tokoh dengan kuat.

Bumi

Sekarang, jiwa bejat saya hanya memberi dua pilihan pada diri saya sendiri. Mati…atau perempuan ini harus menjadi milik saya. Dengan kecerdasan yang dianugerakan Tuhan, sepertinya pilihan kedua adalah takdir saya.

Kini saya telah berhasil mengekstrak feromon dari lelaki yang perempuan misterius itu cintai. “Sekarang, dia perlu berhati-hati karena saya hanya butuh menunggu reaksinya pada tubuh saya! Mimpi yang sempurna, Tuhan!!!” Hal. 12

Lintang

Sumpah, gue sebel banget lihat aksinya yang sok jadi super monster. Bibir tebal dan manyun mirip louhan, songongnya sudah amit-amit jabang bayi. And hellow!!! Rambut keriting nggak terawatt gitu udah merasa berpenampilan paling menarik? Berani bentakbentak anak baru lagi. Oh My God!!! Belagunya kakak senior ini emang nggak lihat-lihat situasi dan kondisi. Mengerikan! Hal. 20

Bara

Oke, aku ngaku. Aku cemburu! Aku benar-benar benci melihat aksi heroic Bumi yang menjadi pelindung Lintang. Ah, kenapa Tuhan membedakan nasibku dan Bumi mala mini? Dengan enaknya si Bumi bisa megang dan menggandeng tangan putih dan mulus Lintang. Tapi, untukku? Hal. 123

***

Poin plus ketiga saya apresiasikan untuk alur yang mengejutkan. Alur yang digunakan penulis lebih dominan ke alur maju. Namun, sesekali di sisipi alur mundur yang tidak kalah mengejutkan. Tema cinta (seperti tema kebanyakan novel pada umumnya) terlihat jelas pada novel ini. Namun, agaknya penulis cukup cerdik dengan menggabungkan antara cinta segitiga dengan sebuah zat bernama feromon.

Ah, cinta memang rumit dan masalahnya seakan tanpa ujung.

Begitu pula yang dialami oleh ketiga tokoh, Bumi, Lintang dan Bara. Mereka bergulat dengan banyaknya tugas LDO (Latihan Dasar Organisasi) yang terkadang tidak manusiawi itu. Enam bulan persiapan LDO dengan setting Teknik Kimia Undip begitu terasa. Ditambah dengan gedung-gedung serta laboratorum praktikumnya. Di akhir masa LDO yang menyatukan ketiga tokoh dalam satu kelompok ini, rahasia-rahasia mereka mulai terkuak.

Mau tahu apa?

Mari dibaca! Hehe

***

Poin plus terakhir saya adalah untuk design kaver yang misterius dan adanya gambar-gambar alat laboratorium seperti alat destilasi, erlenmeyer, tabung reaksi serta rumus-rumus kimia.

Huwaaa, jadi kangen saat-saat praktikum kima dulu. 😀

Selain itu terdapa ilustrasi seorang lelaki yang menunduk. Rambutnya terlihat menutupi kedua bola matanya dan penampilannya yang rapi dengan kemeja berdasi.

Biar saya tebak. Ilustrasi tersebut pasti menggambarkan Bumi. Hehe Hanya menebak, sih.

Jadi, total poin plus yang saya apresiasikan untuk novel ini adalah empat. Itu berarti empat bintang saya sematkan untuk novel Imaji Dua Sisi.

Namun, ada beberapa hal yang membuat saya harus mengurangi jumlah bintang jadi tiga setengah bintang. Di antaranya :

1. Dalam hunjaman air hujan ini, saya tetap berdiri kaku di koordinat yang telah saya pilih. Hal. 8

Di sana di terdapat kata ‘hunjaman’. Setelah saya cari di KBBI ternyata kata tersbeut tidak ada. Mungkin, yag dimaksud penulis adalah hujaman.

2. Dari semua referensi yang saya temukan, setiap manusia memang telah dianugerahi oleh Tuhan sebuah aura yang khas, aroma dasar yang secara naluriah menciptakan kedekatan antar individu. Hal. 11

Kalimat di atas, awalnya menyebutkan kata ‘aura’ sebagai anugerah Tuhan, kemudian terapat kata ‘aroma’ untuk menjelaskan anugerah Tuhan tersebut. Setahu saya, ‘aura’ dan ‘aroma’ mempunyai arti yang berbeda.

3. Gue rasa, belum Semua sempurna jika sepatu  kets yang membungkus kaki gue seharian ini belum lepas juga. Hal. 115

Kata ‘Semua’ di atas mungkin akan lebih enak dibaca jika diawali dengan huruf kecil, menjadi ‘semua’.

4. “Maaf, Ayah. Gue ini beneran sudah sampai, kok.” Hal. 273

Dialog di atas merupakan doalog antara Lintang dan ayahnya pada sambungan telepon. Penggunaan kata ‘gue’ menurut saya terkesan kurang sopan apabila digunakan untuk percakapan ayah-anak. Terlebih lagi, ayah Lintang menggunakan kata ganti orang kedua ‘kamu’ saat berbicara dengan Lintang.

5. Pertama, setelah gue pulang dari Jakarta, Bumi ternyata telah mengundurkan diri di semester gasalnya. Hal 300

Kalimat di atas menurut saya kurang logis. Karena pada halaman sebelumnya (hal. 260) disebutkan Lintang akan berada di Jakarta selama tiga hari. Setahu saya, pengunduran diri seorang mahasiswa harus mendapatkan izin dari dosen pembimbing serta pihak fakultas lalu rektorat. Kemudian disertai dengan syarat-syarat lain seperti berkas transkrip nilai dan lain-lain. Sehingga membutuhkan waktu lebih dari tiga hari untuk dinyatakan seorang mahasiswa mengundurkan diri. 😀

 ***

Ada beberapa kutipan yang apik di dalam novel ini, pun membuat saya membacanya berulang kali.

“Siksaan bersama memang terkadang membuat seseorang melupakan egoisme diri untuk mencoba saling bahu melawan sang penyerang.” Hal. 208.

Saya setuju dengan kutipan di atas, karena saya merasakannya sendiri saat menjadi maba dan diintimidasi dengan tatapan serta perkataan. Rasanya ada yang bergetar di dalam hati melihat kawan seperjuangan diintimidasi oleh senior-senior itu. *halah.

Tapi memang benar, mahasiswa baru ditekan untuk membentuk rasa setia kawan mereka.

“ Cobaan hidup ini layaknya asam asetat yang pekat. Masam dan bau. Tapi, jika hati kita bisa seluas sungai dalam menerima atau mau untuk belajar ikhlas, cobaan itu tak akan pernah terasa.” Hal. 243

Meskipun saya tidak terlalu paham pada konsentrasi berapa asam asetat dikatakan pekat, tapi…ah, susah menjelaskannya.

No words can describe it! Unik dan apik.

 ***

Buku ini layak dibaca dan recommended! Terutama bagi teman-teman yang ingin sedikit belajar tentang kimia tapi terlalu malas untuk membuka diktat tebal berisi rumus-rumus yang menurut saya bikin sakit kepala itu. Hehe.

Perpaduan antara cinta, kimia dan rahasia, Imaji Dua Sisi.

 Sedikit gambaran :

tekkim undip gd bGedung Teknik Kimia Undip

HOME CHEMISTRY LAB

Mungkin laboratorium milik Bumi terlihat seperti ini. Sempit, dan dingin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s