The Violinist – My Heart Will Go On

Bnfeqv6CUAAOcEM

Judul               : The Violinist

Penulis             : D. S. M. Dedelidae

Penerbit           : Mazola

Tahun Terbit    : 2014

Editor              : Vita Brevis

***

            “Leff, banyak rindu yang ingin kusampaikan padamu. Terlalu banyak, sampai aku tidak tahu harus bagaimana lagi menyampaikannya. Sulit. Kau tahu, kan? Setiap saat, bahkan kau tahu itu, wajahmu terus membelenggu tatapanku.”

            Vio punya dunianya sendiri. Kepergian Aleffra membuatnya jadi pemuda tertutup. Ia sibuk dengan biola dan nada-nada sedih. Kehadiran Alla, si pemain biola amatir, sama sekali tidak mengusik kesendiriannya. Permintaan Alla menjadi pengajar biolanya pun hanya dianggap angin lalu.

            Alla yang semakin penasaran meminta sahabatnya, Ale, untuk menceritakan semua hal tentang Vio. Dari sanalah, sedikit demi sedikit ia tahu alasan di balik semua sikap dingin Vio, meski caranya tidak akan mudah. Tidak mudah baginya membuat Rome memalingkan cinta sejati dari sosok Juliet…

***

            Novel The Violinist ini berlatar belakang kota Roma yang apik. Penulis menyajikan tempat-tempat seperti Stasiun Termini, Fontana Trevi dan Juliet’s House dengan gayanya yang natural. Penggunaan nama-nama yang Italia banget juga menambah daya tarik novel ini, seperti Violino Adriano dan Allaire Arianna. Namun dalam keindahan latar Roma yang kental saya menyoroti beberapa hal di dalam novel ini, yaitu :

  1. Setelah itu, aku meraih violin yang sempat kutinggal begitu saja. Panggil saja violin itu Vio. Vio sudah menjadi sahabatku selama tiga tahun ini, Papa yang menghadiahkannya padaku. Pergi les adalah aktivitasku setiap sore (Halaman 17, paragraf 2).

Kalimat terakhir pada paragraf di atas terkesan tidak nyambung dengan kalimat-kaimat sebelumnya. Sehingga menyebabkan paragraf di atas menjadi tidak padu.

  1. Papa dan Mama terlalu sibuk untuk menghadiri acara seperti ini. Namun,, pesan singkat Mama berhasil menyulut api semangatku (Halaman 23, paragraf 3).

Penggunaan dua tanda koma setelah kata ‘namun’ membuat ketidaknyamanan saya saat membaca.

  1. Alunan itu…” Aku menangkap alunan syahdu itu. (Halaman 82, dialog nomor 5)

Kalimat Alla di atas membuat saya bingung. Sebenarnya kalimat itu akan digunakan sebagai kalimat langsung atau tidak. Namun, jika akan digunakan sebagai kalimat langsung, masih kurang sempurna karena belum diawali dengan tanda petik (“).

  1. “Alla…,” teriak Ale. (Halamn 106, kalimat langsung pertama)

Menurut saya, akan lebih terasa teriakan Ale apabila diakhiri dengan tanda seru. Misalnya seperti ini “Alla!” teriak Ale.

  1. Bagaimana aku tidak membaca pesannya, coba. (Halaman 161)

Kalimat di atas diakhiri dengan tanda titik. Menurut saya kurang greget. Mungkin akan lebih greget jika diakhiri dengan tanda tanya dan seru, karena suasanya hati Alla yang tengah sebal terhadap Dita.

  1. Cuplikan lirik lagu Grenade yang ada pada halaman 198 terdapat sedikit kesalahan.

 Disana tertulis Grenade – Jason Mraz. Setahu saya, penyanyi lagu Grenade adalah Bruno Mars. (Hehe)

  1. “Panggilan itu bagus, kok. Masa dipanggil Tulip sama kamu mau, sama Tante tidak mau.”(Halaman 225).

Kalimat yang diucapkan Mama Ale terdengar hampa. Bagaimana, ya? Mungkin karena diakhiri dengan tanda titik bukan tanda tanya. Akan lebih menekan apabila diakhiri dengan tanda tanya. “Masa dipanggil Tulip sama kamu mau, sama Tante tidak mau?”.

***

            Ending dari cerita Alla,Vio, dan Ale menurut saya agak membingungkan. Saya bingung saat Vio mengucapkan “Dia…” lalu memalingkan mukanya dari Alla. Kemudian kedua tangan mereka saling bertautan. Apakah ini hanya cinta sepihak Alla, atau sebenarnya Vio terlalu gengsi untuk mengungkapkan bahwa ia juga mencintai Alla, dan hanya bisa mengungkapkan lewat tautan tangan?

          Ah, tapi yang saya sayangkan adalah Ale. Saya menduga Alla akan putus asa dengan Vio dan akan bersatu dengan Ale yang selalu ada. Tapi, siapa sangka?

      “Tak ada yang tak mungkin selama tangan Tuhan berkehendak.”

Tempat-tempat yang ada di dalam novel :

1446-piazza-navona

Piazza Navona

Metro_roma_termini

Stasiun Termini

470trevi

Fontana Trevi

Love-Notes-in-Juliets-House

Juliet’s House

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s