Resensi Sebuah Bukit dan Satu Pohon di Atasnya

BftHmBiCEAEMTTg

Judul             : Sebuah Bukit dan Satu Pohon di Atasnya.

Penulis         : Aira Arsitha

Penerbit        : PING!!!

Tahun Terbit : 2014

Cetakan        : Pertama

Editor            : Diara Oso

ISBN             : 978-602-279-093-8

Genre : Novel Remaja

***

            “Apakah kau punya mimpi?”

Aku tersedak begitu mendengar kata yang ia ucapkan itu.

“Tidak,” sahutku tegas. Tidak akan pernah lagi.

“Jadi, kau hanya ingin berjualan di sini saja?” tanyanya membuatku sedikit mengernyitkan dahi. Aku bahkan tidak pernah menanyakan itu pada diriku sendiri. Aku hanya memilih untuk menjalani hidupku begitu saja, tanpa mengharapkan apa pun yang bisa membuatku akhirnya kecewa.

            ***

            Novel karya Aira Arsitha ini mengajak pembaca untuk mengenal mimpi Ashlie, seorang gadis asal pulau Matamata, New Zealand. Bersama Arthur, Arvin dan Damar, Ashile berusaha untuk mewujudkan mimpinya meskipun ia juga ragu akan mimpi yang menurutnya hanya ilusi.

Ashlie, seorang yatim piatu yang awalnya bekerja untuk keluarga Alexander, terpaksa harus pergi ke Auckland demi kehidupan yang lebih baik. Dan juga, demi mengubur mimpi serta kepedihannya karena kepergian kedua orangtuanya. Mimpi dan kepedihan yang ia kubur di Matamata perlahan muncul kembali saat Arthur –anak dari keluarga Alexander—sakit dan Ashlie menjenguknya di rumah sakit. Mulai dari sanalah, ia bertemu Damar, seorang berasal dari Indonesia yang mempunyai sebuah rahasia dengan Dara –anak asuh dari Paman Harold, majikan Ashlie selama di Auckland– .

***

            Kelebihan dari novel ini adalah banyak mengenalkan akan kebudayaan masyarakat New Zealand, seperti makanan khas Pavlova dan Hangi. Selain itu dikenalkan juga akan Pasar Otara dan Rotorua. Sukses membuat pembaca penasaran bagaimana kenampakan dari Pavlova dan Hangi yang sebenarnya dan memaksa Google untuk memberitahu lebih lanjut walaupun di dalam cerita juga sudah digambarkan. Kelebihan yang lain adalah, pembaca diajak untuk tidak menyerah akan mimpi. Hal tersebut digambarkan dari perjuangan Damar untuk mendapat beasiswa dan akhirnya bisa bersekolah di Auckland dan mimpi akan Ashlie dengan Arthur.

Kekurangan dari novel ini ada beberapa. Seperti kebetulan yang dipaksakan, penggunaan kata-kata mubadzir, da penggunaan tanda baca.

  1. Ada sebuah kebetulan yang menurut saya kurang pas atau terkesan dipaksakan.

: Ashlie pergi ke Auckland University untuk memenuhi undangan Damar. Tiba-tiba ada seseorang yang menubruk Ashlie dan orang yang menubruknya adalah Damar (hal. 80).

  1. Penggunaan kata-kata yang mubadzir seperti :

“Iya, tapi biasanya pembeli akan berkurang sekitar jam satu karena pasar sudah akan segera tutup. Kau mau menunggu?” (hal. 154).

Kalimat di atas menggunakan dua kata sekaligus yang bermakna sama yaitu akan dan segera. Terlebih lagi sebelum kata akan dan segera disisipi dengan kata sudah.

  1. Dalam penggunaan tanda baca, ada yang kurang pas digunakan menurut konteks kalimat.

“Katakan apa mimpimu…!!” tanyanya (hal. 146).

Suasananya yang saya tangkap adalah Damar tidak sedang bertanya kepada Ashlie, namun ia cenderung berteriak, itu ditekankan dengan hadirnya dua tanda seru. Hal tersebut membuat sedikit tidak nyaman saat membaca.

***

At least, tiga bintang saya berikan untuk novel ini. Dan, ada sebuah kutipan yang sangat saya suka,

Mimpi memang tidak pernah ramah untuk orang-orang berhati kecil seperti kami.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s